Apa itu Masalah pada Lutut?

Lutut adalah sendi terbesar yang ada pada tubuh. Lutut menghubungkan tulang kaki bagian atas dan bawah, sehingga memungkinkan kita untuk bergerak, melompat, membungkuk, dan berlari. Selain itu, lutut juga menerima banyak sekali beban setiap hari karena membawa berat seluruh tubuh. Terlebih lagi, banyak faktor lain seperti penyakit dan kerusakan alami akibat penuaan, yang dapat menyebabkan berbagai masalah pada lutut yang dapat memengaruhi tulang, ligamen (jaringan pengikat antar tulang), tendon (jaringan pengikat otot dengan tulang), otot, dan tulang rawan.

Lutut terdiri dari tiga tulang: femur (tulang paha), patela (tempurung lutut), dan tibia (tulang kering). Ujung ketiga tulang tersebut dilapisi oleh bahan licin yang disebut tulang rawan. Tulang rawan artikular membantu tulang bergesekan satu sama lain dengan halus, membuat kita dapat mudah menekuk atau meluruskan kaki. Sedangkan tulang rawan meniskus akan menyerap tekanan, membantali tulang, dan menyeimbangkan sendi. Tulang dihubungkan satu sama lain oleh ligamen. Ligamen kolateral terletak pada sisi-sisi dan di dalam lutut, fungsinya untuk mengendalikan pergerakan serta membantu lutut bergerak secara normal. Ligamen krusiatum berada di dalam sendi lutut dan mengendalikan pergerakan maju dan mundur. Faktor lain yang dapat menyebabkan gangguan pada lutut adalah beban, kerusakan karena penggunaan, cedera, dan luka.

Penyebab Masalah pada Lutut

Penyebab utama dari sebagian besar masalah pada lutut adalah:

• Cedera dan penyakit • Kerusakan alami. Ketika seseorang menua, lutut cenderung kehilangan kelenturan. Ketika ini terjadi, lutut menjadi kaku dan lebih rentan terhadap cedera. • Hantaman langsung pada lutut • Apabila lutut direntangkan melebihi batas normal

Beberapa cedera lutut yang paling umum adalah dislokasi (pergeseran tulang), patah tulang, cedera ligamen krusiatum anterior atau ACL, cedera ligamen krusiatum posterior atau PCL, cedera ligamen kolateral, serta robeknya meniskus dan tendon.

Sementara itu, penyakit paling umum yang memengaruhi lutut yaitu artritis (radang sendi), yang meliputi osteoartritis (tulang rawan aus) dan reumatoid artritis (kelainan autoimun). Masalah pada lutut yang termasuk pada kategori atritis reumatoid adalah reumatik, artritis reaktif (infeksi sendi), ankylosing spondylitis (peradangan tulang belakang), dan lupus eritematosus sistemik (sistem kekebalan tubuh tidak normal).

Gejala Utama Masalah pada Lutut

Gejala utama dari segala jenis masalah pada lutut adalah nyeri di bagian sendi, sebagai akibat langsung dari cedera atau penyakit. Dalam beberapa kasus, nyeri juga dapat disertai bengkak, kemerahan, atau kaku. Gejala khusus akan tergantung pada masalah atau penyakitnya.

Pergerakan akan menjadi terbatas tergantung pada parahnya rasa nyeri. Sebagian orang merasakan nyeri yang masih dapat ditahan. Sedangkan, sebagian lainnya merasakan nyeri yang parah hingga membuat mereka tidak dapat berdiri, berjalan, atau menggerakkan kaki.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Apabila Anda mengalami gejala seperti di atas, tidak dapat membebani lutut, atau menyadari suatu kelainan, maka Anda harus menemui dokter secepatnya untuk pemeriksaan. Bila dibutuhkan, Anda akan dirujuk ke ahli ortopedi, dokter yang ahli dalam memeriksa dan mengobati masalah pada lutut.

Dokter akan menanyakan kapan pertama kali Anda menyadari permasalahan dan gejala yang Anda alami. Pemeriksaan fisik lengkap akan dilakukan termasuk memeriksa langsung lutut yang bermasalah, merentangkan kaki Anda untuk menentukan jangkauan pergerakan, dan memeriksa keutuhan struktur sendi.

Pemeriksaan dengan alat pencitraan seperti rontgen, USG, MRI, atau CT-scan, juga akan dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan gangguan lutut. Jika dokter menduga terdapat penyakit atau infeksi, uji laboratorium pun akan dilakukan. Uji laboratorium meliputi pemeriksaan darah untuk mengetahui ada tidaknya kelainan. Dokter juga dapat meminta Anda menjalani artrosentesis, yang melibatkan proses pengambilan cairan dari sendi lutut dengan menggunakan jarum halus, untuk memeriksa ada tidaknya artritis, reumatik, dan infeksi sinovial.

Ketika dokter telah menentukan penyebab dan tingkat keparahan gangguan lutut, rencana perawatan akan segera dibuat. Pengobatannya bisa dengan cara sederhana seperti mengonsumsi obat yang meredakan nyeri (seperti pada reumatik dan artritis reumatoid), atau dengan cara kompleks seperti operasi lutut.

Operasi hanya dilakukan apabila metode pengobatan lain telah gagal atau bila lutut telah rusak parah. Beberapa operasi yang paling umum adalah operasi artroskopi, operasi penggantian lutut sebagian, dan operasi penggantian lutut total.

  • Pada operasi artroskopi, dokter akan menggunakan alat yang disebut artroskop. Alat ini terbuat dari tabung kecil dengan kamera serat-optik. Alat operasi khusus dapat dimasukkan ke dalam tabung untuk memperbaiki lutut, seperti mengangkat tulang rawan yang rusak atau mengkonstruksi ulang ligamen.

  • Pada operasi penggantian lutut sebagian, bagian lutut yang rusak akan diganti dengan tiruan yang terbuat dari logam dan/atau plastik. Operasi jenis ini biasanya dilakukan melalui sayatan kecil pada lutut dan Anda hanya perlu menginap satu malam di rumah sakit.

  • Pada operasi penggantian lutut total, dokter bedah akan mengangkat seluruh sendi dan menggantinya dengan lutut tiruan yang terbuat dari logam campuran, polimer, dan plastik. Terapi fisik juga sering dibutuhkan setelah operasi untuk membantu Anda melatih otot dan belajar kembali untuk menggunakan lutut Anda.
    Rujukan:

  • Frontera WR, Silver JK, eds. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation. 2nd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2008:section 7.

  • Honkamp NJ, Shen W, Okeke N, Ferretti M, Fu FH. Knee: Anterior cruciate ligament injuries in the adult. In: DeLee JC, Drez D Jr, Miller MD, eds. DeLee and Drez's Orthopaedic Sports Medicine. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2009:chap 23, section D.

  • Huddleston JI, Goodman SB. Hip and knee pain. In: Firestein GS, Budd RC, Harris ED Jr, et al, eds. Kelley's Textbook of Rheumatology. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2008:chap 42.

Bagikan informasi ini: