Apa itu Ganglionectomy?

Ganglionectomy adalah prosedur bedah untuk menghilangkan ganglion atau benjolan ganglion yang terbentuk di tangan, kaki, atau pergelangan tangan. Meskipun, ini bukan pilihan pengobatan utama, namun diperlukan jika kondisi pasien tidak membaik setelah pilihan pengobatan lainnya dicoba. Prosedur ini bisa sederhana atau kompleks, tergantung ukuran dan lokasi benjolan ganglion.

Benjolan ganglion, jinak dan non-kanker, biasa disebut ganglia atau benjolan synovial. Benjolan ini tertutup, membengkak, dan dipenuhi dengan cairan, biasanya tumbuh di bawah kulit berasal dari selubung sendi atau tendon. Selubung adalah jaringan tipis elastis yang membungkus sendi atau tendon. Lapisan dalam dari selubuh disebut membran synovial. Benjolan dipicu oleh herniasi synovium, sehingga benjolan biasanya berada dalam lapisan dalam selubung. Cairannya berwarna bening, lengket seperti jeli, dan serupa dengan cairan yang ditemukan di sendi, lutut, atau bahu.

Siapa yang Perlu Menjalani Ganglionectomy dan Hasil yang Diharapkan

Ganglionectomy bermanfaat bagi pasien yang menderita:

  • Nyeri kronis yang menyerang ganglion
  • Benjolan ganglion


Benjolan ganglion dapat muncul sendiri atau berkelompok/lobulus yang oleh pembuluh darah. Biasanya menyebabkan:

  • Munculnya benjolan atau massa dengan tekstur lembut dan kenyal, dan tidak berpindah-pindah
  • Nyeri, biasanya konstan dan makin buruk jika melakukan gerakan. Karena membuat benjolan menekan arteri, saraf, atau pembuluh darah di daerah mengalami ganglion
  • Kesemutan
  • Gerak menjadi terbatas, terutama jika benjolan terhubung ke tendon


Benjolan ini paling sering terbentuk pada:

  • Bagian belakang tangan
  • Pada pergelangan tangan
  • Di sisi telapak pergelangan tangan
  • Pada telapak dekat pangkal jari
  • Ibu jari
  • Ujung jari tepat di bawah kutikula
  • Bagian luar pergelangan kaki
  • Bagian lutut luar
  • Bahu


Sampai saat ini, belum jelas kenapa benjolan ganglion terbentuk tapi telah ditemukan keterkaitan dengan gerakan sendi berulang-ulang, trauma, penyakit peradangan seperti peradangan sendi. Benjolan ganglion umumnya dialami perempuan antara 20 dan 40 tahun, dan sangat jarang menyerang anak-anak.

Pasien yang memiliki benjolan ganglion pada awalnya diresepkan dengan metode pengobatan lain, di antaranya:

  • Suntikan steroid, suntikan khusus kortison
  • Benjolan aspirasi - Ini menyedot keluar cairan di dalam benjolan menggunakan jarum suntik. Studi menunjukkan bahwa pasien yang menjalani benjolan aspirasi tiga kali mengurangi resiko kambuh secara signifikan.
  • Menggunakan belat jari atau pergelangan tangan tergantung pada lokasi benjolan ganglion - Dengan membatasi gerakan bagian tubuh yang memiliki benjolan, belat efektif mengurangi penumpukan cairan di dalam benjolan itu sendiri.


Metode pengobatan awal di atas juga bisa digabungkan. Namun, jika benjolan ganglion memiliki karakteristik berikut, maka ganglionectomy perlu dilakukan, di antaranya:

  • Menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang cepat
  • Mengganggu fungsi normal tubuh
  • Menyebabkan nyeri ekstrim dan kronis


Ganglionectomy diharapkan dapat mengangkat seluruh benjolan, mengembalikan fungsi normal dan penampilan asli dari bagian tubuh yang terkena, dan menghilangkan rasa sakit.

Cara Kerja Ganglionectomy

Awalnya, pasien yang mengeluh tentang pertumbuhan abnormal/benjolan abnormal pelu menjalani ultrasound/MRI untuk memastikan benjolan tersebut ganglion atau jenis massa lainnya. Jika dipastikan benjolan adalah ganglion, maka hasil pemindaian diberikan kepada dokter bedah yang menggunakannya untuk melihat apakah ada arteri, saraf, atau pembuluh darah yang dapat terganggu saat ganglionectomy dilakukan. Jika ada kemungkinan terganggu, pasien akan dirujuk ke spesialis bedah tangan.

Ada kemungkinan pasien perlu menjalani x-ray, jika diduga/ditemukan masalah terkait tulang.

Prosedur dilakukan dengan bius lokal, regional, atau total tergantung pada kondisi pasien. Bius diberikan agar pasien tidak merasakan sakit selama pembedahan.

Bedah dimulai dengan pembuatan sayatan di sekitar benjolan oleh dokter bedah, yang memungkinkannya untuk mengangkat seluruh benjolan. Setelah benjolan diangkat, dokter bedah akan menutup sayatan menggunakan jahitan dan menempatkan perban di atas luka untuk melindunginya selama masa penyembuhan.

Saat ini, ada jenis bedah alternatif untuk mengobati kondisi ini, yaitu bedah arthroscopic, pilihan ini hanya tersedia untuk pasien dengan kasus benjolan ganglion sederhana. Pada pembedahan ini, dokter bedah akan membuat sayatan kecil untuk jalur masuk arthroscope, dengan kamera terpasang di ujungnya. Alat ini memungkinkan dokter bedah melihat kondisi ganglion. Lalu, sayatan lebih besar lainnya dibuat untuk mengangkat benjolan. Prosedur jenis ini memperpendek waktu penyembuhan, karena hanya membutuhkan sayatan kecil dan meninggalkan jaringan parut yang sangat minim.

Setelah prosedur, pasien diperbolehkan pulang jika efek anestesi telah hilang. Sebelumnya, ia akan diberikan petunjuk tentang cara untuk merawat luka, kegiatan apa yang harus dihindari, apa gejala yang harus diwaspadai, dan kapan perlu datang untuk konsultasi pasca bedah. Umumnya konsultasi pasca bedah dilakukan 1 sampai 2 minggu setelah prosedur, di mana dokter bedah akan melepaskan benang jahitan pada sayatan karena telah menutup secara alami

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Ganglionectomy

Ganglionectomy adalah prosedur pembedahan yang relatif aman dengan resiko minimal. Sebagain besar resikonya sama dengan prosedur bedah lainnya, yaitu:

  • Pendarahan
  • Reaksi alergi terhadap anestesi
  • Infeksi - Pasien disarankan untuk mencari bantuan medis segera jika mereka melihat nanah atau cairan lainnya yang keluar dari luka atau jika jahitan merasa sakit, dan menjadi semakin merah.
  • Nyeri ringan atau rasa tidak nyaman - Ini biasa dialami oleh pasien yang hanya menerima bius lokal atau regional.


Pasien juga mungkin memiliki beberapa jaringan parut, namun lama kelamaan akan hilang.

Ada juga resiko spesifik lain, seperti bedah tidak menjamin benjolan tidak akan kembali lagi. Namun, prosedur ini hanya menurunkan tingkat kemungkinan kambuh. Selain itu, ada resiko kecil bahwa beberapa saraf atau pembuluh darah di daerah tersebut rusak selama prosedur.

Rujukan:

  • Gude, W. Curr Rev Musculoskelet Med, December 2008.
Bagikan informasi ini: