Apa itu Gastroplasty?

Gastroplasty adalah prosedur bedah untuk membatasi konsumsi makanan agar pasien dapat mengontrol dan menurunkan berat badan. Prosedur ini juga dikenal dengan nama vertikal banded gastroplasty atau penjepitan lambung.

Prosedur ini dilakukan untuk menghadapi obesitas morbid, kondisi yang dikarakteristikan dengan indeks massa tubuh yang melebihi 35 atau pasien telah mengalami beberapa masalah kesehatan akibat kelebihan berat badan. Penderita obesitas morbid meningkatkan resiko diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, penyakit hati, dan sindrom serta gangguan lainnya.

Gastroplasty merupakan prosedur restriktif karena membatasi jumlah makanan yang dapat dikonsumsi pasien. Kantong lambung yang dibuat, dipastikan akan mengantarkan makanan ke sistem pencernaan dengan lebih lambat. Tidak seperti teknik bedah bariatrik, prosedur ini tidak menyebabkan kekurangan nutrisi sebab tidak ada perubahan yang dilakukan terhadap gastrointestinal dan jalur nutrisi tidak terganggu. Selain itu, perut dibiarkan utuh, oleh karena itu sindrom dumping (kondisi yang muncul pada pasien bedah lambung di mana usus bergerak lebih cepat setelah makan, perut terasa tidak nyaman, dan pasien merasa lemas) lebih jarang terjadi.

Siapa yang Perlu Menjalani Gastroplasty & Hasil yang Diharapkan

Seperti yang disampaikan di atas, gastroplasty ditawarkan pada pasien yang menderita obesitas morbid dan sangat ingin menurunkan berat badannya. Prosedur biasanya dipertimbangkan jika seseorang telah mencoba alternatif lain, seperti penurunan berat badan non bedah, namun hasilnya tidak signifikan dan hanya bertahan sebentar. Penderita gemuk tidak sehat bukan hanya merasakan efek psikologi, tapi juga psikis.

Gastroplasty dilaksanakan pada pasien antara usia 18 – 65 tahun yang sudah dipastikan dapat menjalaninya, dengan komitmen untuk mematuhi rencana pola makan yang seimbang guna memaksimalkan manfaat dari prosedur ini. Penderita obesitas yang tidak dapat menjalani bedah lambung yang lebih agresif seperti bypass lambung, juga dapat merasakan manfaat dari prosedur ini untuk mengurangi berat badan.

Prosedur ini tidak dianjurkan bagi wanita hamil atau mereka yang memiliki masalah obat-obatan dan alkohol.

Setelah prosedur gastroplasty selesai, pasien perlu tinggal di rumah sakit dalam waktu singkat dan menjalani program pola makan ketat. Pasien sangat didorong untuk mengikuti pola makan yang dianjurkan untuk membantu lambung menyesuaikan dengan perubahan yang telah dilakukan. Selain itu, pasien harus menghindari aktivitas berat selama beberapa minggu dan perlu menjalani terapi fisik. Berat badan biasanya turun dalam beberapa bulan dan menurut laporan pasien hingga 50% dari total berat badan awal. Dalam kebanyakan kasus, biasanya ada peningkatan positif pada kondisi terkait seperti diabetes dan tekanan darah tinggi.

Cara Kerja Gastroplasty

Prosedur ini dilakukan dengan bius total dan biasanya pasien perlu tinggal di rumah sakit dalam 3 – 5 hari setelahnya agar bisa diawasi secara ketat. Ada dua jenis teknik gastroplasty. Pertama, banded gastroplasty vertikal terbuka, di mana dokter bedah akan membuat sayatan besar pada area perut dan bagian atas lambung namun tepat di bawah esofagus untuk menciptakan kantong kecil di bagian atas lambung. Kantong ini cukup untuk menampung satu sendok makanan padat. Kemudian, sebuah plester polypropylene kemudian dipasang dan dijahit di sekitar kantong bagian luar. Plester ini akan membatasi dan memungkinkan makanan untuk tinggal di perut, sehingga pasien akan merasa kenyang dalam waktu yang lebih lama. Efeknya asupan makanan pasien akan berkurang. Lalu, sayatan ditutup dengan jahitan.

Kedua, banded gastroplasty vertikal laparoskopi. Berbeda dengan teknik sebelumnya, ini hanya membutuhkan sayatan kecil karena dokter akan memanfaatkan visualisasi dari alat yang disebut laparoskop. Sayatan dibuat di bagian kiri perut untuk memasukkan laparoskop dan sayatan lain dibuat di bagian kanan untuk memasukkan alat bedah. Lambung akan dijepit dan diplester yang prosesnya sama dengan teknik pertama.

Dari kedua teknik di atas, dokter telah mengembangkan beberapa teknik modifikasi. Misalnya: sleeve gastroplasty endoskopi, di mana endoskop dengan alat jahit dimasukkan melalui tenggorokan pasien ke esofagus. Lalu, alat tersebut akan menjahit lambung hingga strukturnya berbentuk seperti tabung.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Gastroplasty

Prosedur ini memiliki beberapa resiko seperti pendarahan, terbentuknya gumpalan darah, dan infeksi pada area pembedahan.

Ada juga laporan bahwa jepit atau plester longgar setelah prosedur selesai, ini dapat menyebabkan dehisensi atau terbukanya dinding perut.

Mereka yang tidak dapat mengikuti pola makan ketat yang diresepkan setelah prosedur, juga dapat merasakan mual dan muntah, namun tidak dapat hilang dengan sendirinya dan menyebabkan rasa panas dalam perut.

Bagian tubuh di dekat lambung, seperti spleen dan usus dapat terluka, saat lambung dijahit.

Beberapa pasien gagal menurunkan berat badannya, meskipun telah menjalani gastroplasty. Ada juga pasien yang berat badannya naik kembali, yang dapat memperburuk masalah kesehatan dan memicu depresi.

Rujukan

  • Buchwald H. Sleeve gastrectomy. In: Buchwald H. Buchwald's Atlas of Metabolic and Bariatric Surgical Techniques and Procedures. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 10.

  • Richards WO. Morbid obesity. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 15.

  • Thompson CC, Morton JM. Surgical and endoscopic treatment of obesity. In: Feldman M, Friedman LS, Brandt LJ. Sleisenger and Fordtran's Gastrointestinal and Liver Disease. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2016:chap 8.

Bagikan informasi ini: