Apa itu Genioplasty

Genioplasty adalah prosedur bedah untuk memperbaiki bentuk dan rupa dagu. Prosedur ini juga dikenal sebagai augmentasi dagu. Dalam pelaksanaannya genioplasty dapat dilakukan sebagai tindakan tunggal atau dikombinasikan dengan bedah rahang lainnya, baik untuk tujuan kesehatan maupun kecantikan. Praktik bedah skeletal untuk dagu telah ada sejak pertengahan tahun 1940-an dan teknologi yang digunakan untuk melakukan prosedur ini telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Dagu atau mentum memiliki efek yang berperan penting terhadap rupa wajah. Dengan menjalani genioplasty, pasien dapat mengubah raut dan simetri wajah secara keseluruhan.

Siapa yang Perlu Menjalani Genioplasty dan Hasil yang Diharapkan

Genioplasty dapat dimanfaatkan oleh pasien yang memiliki masalah dengan dagu, seperti:

  • Dagu terlalu besar atau maju
  • Dagu menonjol
  • Prognasia
  • Dagu turun
  • Cacat sudut skeletal kelas II
  • Mikrogenia
  • Retrusi dagu
  • Dagu hipoplastik
  • Hipoplasia mandibula horizontal
  • Kelainan bentuk dagu, seperti kelainan oklusi dan skeletal
  • Mikrosomia hemifasial
  • Ketidakharmonisan wajah
    Tujuan prosedur ini adalah:

  • Menciptakan kontur wajah dengan penampilan yang memuaskan

  • Membangun tinggi wajah yang proporsional
    Dalam penelitian yang melibatkan 37 pasien genioplasty, banyak di antaranya yang sangat puas dengan hasil prosedur ini dan hanya satu pasien yang meragukan hasilnya namun tidak cukup untuk melakukan penyesuaian. Dalam 2 tahun pengamatan selama masa kunjungan lanjutan, tidak ada komplikasi berat yang terjadi. Dari segi manapun, rupa dan posisi dagu tetap terjaga dengan sangat baik.

Cara Kerja Genioplasty

Tujuan utama dari genioplasty dapat dicapai melalui:

  • Augmentasi dagu
  • Pemapasan dagu
  • Implandagu alloplastik – Ini merupakan pilihan utama untuk memperbaiki abnormalitas dagu. Prosedur ini sangat efektif menciptakan dagu yang nampak lebih seimbang dan simetris pada pasien dengan dagu turun.
  • Genioplasty sliding – Prosedur ini dikhususkan bagi kondisi cacat tulang yang lebih rumit, seperti yang disebabkan oleh kondisi genetik, trauma, atau penyakit. Prosedur dapat memperbaiki masalah terkait cacat dagu, seperti saluran udara tersumbat. Karena ini merupakan bedah pergeseran, maka tidak memerlukan prosedur pencangkokan tulang.
  • Genioplasty osseous
    Genioplasty dapat dilakukan secara horizontal, vertikal, atau kombinasi antara keduanya. Genioplasty horizontal sangat cocok untuk dagu yang menonjol keluar, sedangkan genioplasty vertikal merupakan prosedur yang tepat untuk memapas atau menambah jaringan tulang untuk menambah atau mengurangi panjang dagu. Namun, dalam kasus tertentu diperlukan perpaduan antara keduanya untuk mencapai hasil yang diinginkan oleh pasien. Sangatlah normal bagi dokter bila menggunakan plat titanium pra-bent atau sekrup yang berukuran 3 mm-8 mm untuk menahan dagu agar tetap pada posisinya.

Seluruh prosedur genioplasty dilakukan dengan bius total dan sebuah sayatan tepat dibawah dagu atau di dalam mulut. Dengan mengacu pada tujuan, prosedur ini kemungkinan memerlukan pemotongan atau pengangkatan sedikit bagian dagu atau pemasangan implan dagu. Hampir seluruh prosedur genioplasty kosmetik dilakukan secara rawat jalan, namun pada kasus tertentu, pasien dirujuk ke rumah sakit, khususnya bila prosedur dilakukan untuk mengobati penyakit berat atau cedera traumatik.

Pasien diwajibkan untuk memakan makanan lunak selama satu minggu pasca operasi, karena terdapat luka di dagu atau di dalam mulut. Wajar bila pasien merasa nyeri atau bengkak selama beberapa hari atau bulan, namun ini cenderung hilang dengan sendirinya atau dengan konsumsi obat pereda nyeri ringan. Pasien perlu mengkonsumsi obat pelega nyeri dan antibiotik, dan menutup dagu dengan bahan elastis agar proses pemulihan lalncar dan terasa nyaman. Sebagian besar pasien sudah mampu menjalankan aktivitas normal dalam 2 minggu, meskipun pemulihan total baru tercapai dalam 6 minggu.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Genioplasty

Genioplasty memiliki resiko tersendiri. Selain rasa nyeri dan pembengkakan pasca operasi, pasien kemungkinan akan merasa efek samping lain, dengan beberapa di antaranya memerlukan pengobatan bahkan operasi. Ini termasuk:

  • Cedera saraf, karena posisi saraf mental, saraf yang keluar dari rahang di dekat garis sayatan genioplasty
  • Area bedah mati rasa – Mati rasa atau kaku umumnya bersifat sementara namun dalam kasus tertentu bisa menjadi permanen.
  • Infeksi
  • Iritasi akibat plat dan sekrup yang digunakan
  • Hasil dari genioplasty tidak secantik yang diharapkan
  • Reaksi alergi terhadap zat bius
    Untuk mencegah resiko dan komplikasi, pasien perlu menjalani pemeriksaan pra-operasi dan evaluasi fisik, serta pemeriksaan lanjutan pasca genioplasty.

    Rujukan

  • Deshpande SN, Munoli A. “Osseous genioplasty: A case series.” Indian J Plast Surg. 2011 Sep-Dec; 44(3): 414-421. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3263268/

  • Chang E., Lam S., Karen M., Donlevy J. “Sliding genioplasty for correction of chin abnormalities.” Arch Facial Plast Surg. 2001;3(1):8-15. http://archfaci.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=479824

Bagikan informasi ini: