Apa itu Teknik Graston?

Teknik Graston adalah metode untuk mendiagnosis dan mengobati kelainan pada jaringan ikat dan otot skeletal. Teknik ini merupakan jenis kiropraktik yang menggunakan alat khusus untuk menggerakkan jaringan lunak melalui terapi manual. Teknik Graston biasanya digunakan untuk mengobati cedera olahraga yang menimbulkan tumbuhnya jaringan parut. Tumbuhnya jaringan parut seringkali menyebabkan tubuh terasa kaku, sehingga pasien sulit bergerak dan mengalami nyeri kronis.

Terapi manual dilakukan dengan menggunakan tangan untuk menekan serta memijat jaringan yang terluka untuk mengurangi ketegangan dan nyeri. Sendi juga dimanipulasi untuk meningkatkan pergerakan serta kelenturan. Teknik terapi manual lainnya antara lain adalah teknik diversified, teknik Atlas Orthogonal, teknik Koren specific, dan sebagainya.

Teknik Graston merupakan modifikasi terapi manual yang diciptakan dan dipatenkan oleh David Graston, seorang atlet yang menderita cedera lutut dan mencari cara untuk memperbaiki terapi fisik yang dijalaninya. Ia menerapkan konsep pijat cross-friction dengan alat baja nirkarat agar otot yang cedera dapat kembali bergerak dan berfungsi seperti sediakala.

Seorang terapis harus memiliki lisensi dan akreditasi dari Graston Technique LCC sebelum dapat melakukan jenis terapi fisik ini pada pasien.

Siapa yang Perlu Menjalani Teknik Graston dan Hasil yang Diharapkan

Teknik Graston dianjurkan bagi mereka yang menderita:

  • Otot di punggung bawah terkilir, suatu kondisi menyakitkan yang terjadi karena terlalu sering menarik serat otot
  • Otot atau tendon di leher mengalami kerusakan
  • Leher terkilir karena robekan pada ligamen yang menghubungkan leher dan tulang servikal
  • Penyakit pada tungkai, seperti plantar fasciitis dan sindrom lorong karpal
  • Peradangan tendon Achilles
  • Peradangan tendon manset rotator
  • Bidai tulang kering (shin splint), nyeri siku (tennis atau golfer elbow), dan cedera olahraga lainnya
    Pasien yang telah menjalani operasi pada otot skeletal dan bagian skeletal lainnya juga dapat mengikuti terapi teknik Graston.

Teknik ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam mengembalikan pergerakan serta fungsi dari otot dan jaringan penghubung. Pasien juga menyatakan nyerinya sangat berkurang, banyak juga pasien yang berhasil mengurangi ketergantungan terhadap obat nyeri dan anti-peradangan. Kebanyakan pasien disarankan untuk mengombinasikan program olahraga dan terapi fisik dengan teknik Graston untuk membantu proses rehabilitasi dan penguatan jaringan.

Cara Kerja Teknik Graston

Tujuan dari teknik Graston adalah menemukan dan menghancurkan jaringan parut. Sesi terapi diawali dengan serangkaian gerakan pemanasan. Ada terapis yang meminta pasiennya untuk melakukan aktivitas kardiovaskular sebelum terapi. Lalu, terapis akan memandu pasien untuk menggerakkan dan melenturkan bagian tubuh yang sakit agar lebih mudah dirawat.

Lalu, bagian tubuh yang sakit akan ditekan dan dipijat dengan alat khusus yang pinggirannya berlekuk. Fungsinya adalah mendeteksi jaringan fibrosa, yang biasanya tidak terlihat di permukaan kulit. Setelah jaringan parut ditemukan, uratnya akan ditekan untuk menghancurkan adhesi. Tergantung pada kebutuhan, terapis akan menambah tekanan untuk meningkatkan pergerakan tubuh. Setiap area tubuh akan dipijat kurang lebih selama satu menit. Gerakan menarik dan menekan bertujuan untuk menghancurkan collagen cross-link di otot yang cedera. Pasien sebaiknya memberitahu apabila pijatan dirasa terlalu menyakitkan, sehingga terapis dapat mengurangi tekanan yang diberikan. Proses ini juga menyebabkan peradangan di beberapa area tubuh untuk melancarkan sirkulasi dan memicu proses penyembuhan dengan menciptakan matriks seluler baru.

Setelah terapi, bagian tubuh yang dirawat akan diregangkan. Pasien juga dapat diberi kompres es untuk mengurangi nyeri. Untuk mendapatkan hasil optimal, terapi ini harus rutin dilakukan setiap minggu selama kurang lebih satu bulan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Teknik Graston

Pasien biasanya mengalami memar, nyeri, dan bercak merah di area yang dirawat. Kondisi ini biasanya akan hilang setelah satu atau dua hari.

Rujukan

  • Ernst E, Posadzki P (2012). "Reporting of adverse effects in randomised clinical trials of chiropractic manipulations: a systematic review". N Z Med J 125 (1353): 87–140.

  • Gouveia LO, Castanho P, Ferreira JJ (2009). "Safety of chiropractic interventions: a systematic review". Spine 34(11): E405–13.

Bagikan informasi ini: