Apa itu Prosedur Kasai?

Hepatoportoenterostomi atau prosedur Kasai adalah jenis bedah yang dilakukan pada anak pengidap atresia bilier. Tujuannya adalah memperbaiki sistem empedu agar empedu dapat mengalir dengan normal. Nama prosedur ini diambil dari Morio Kasai, seorang dokter bedah dari Jepang yang menemukan prosedur ini pada akhir tahun 1950-an. Sejak saat itu, prosedur ini telah dimodifikasi beberapa kali.

Siapa yang Perlu Menjalani Prosedur Kasai dan Hasil yang Diharapkan

Pada orang yang sehat, hati akan menghasilkan empedu yang dialirkan melalui saluran empedu ke usus. Fungsi empedu adalah untuk membantu proses pencernaan. Pada pasien atresia bilier, saluran empedu tidak berfungsi atau mengalami peradangan. Akibatnya, terjadi penyumbatan dan empedu menumpuk di hati. Bila dibiarkan, hati pasien akan terluka dan rusak.

Atresia bilier merupakan penyakit yang cukup langka, dapat ditemukan pada 1 dari 10.000 bayi. Salah satu gejalanya adalah penyakit kuning, di mana kulit berubah menjadi kuning akibat penumpukan bilirubin (pigmen berwarna kuning) pada darah. Penyakit kuning yang belum hilang setelah bayi melewati usia dua minggu perlu diperiksa secara menyeluruh. Pasien atresia bilier juga akan memiliki urin yang berwarna gelap serta tinja yang putih (akolik). Pada kasus yang parah, pasien juga dapat mengalami sirosis hati.

Pasien atresia bilier sebaiknya menjalani operasi sedini mungkin, supaya tidak terjadi kerusakan hati permanen. Semakin lama operasi ditunda, prognosisnya juga akan semakin memburuk. Idealnya, prosedur Kasai dilakukan pada usia 2-3 bulan. Pembedahan pada usia tersebut dapat mengatasi penyumbatan empedu pada sekitar 80% pasien, sedangkan 33% pasien empedunya dapat mengalir normal sehingga hati dapat pulih dan berfungsi normal. Namun, hingga 50% pasien yang menjalani prosedur Kasai nantinya akan membutuhkan transplantasi hati. Pengidap atresia bilier yang mendapatkan transplantasi hati memiliki tingkat keberhasilan serta kemungkinan bertahan hidup yang lebih tinggi.

Cara Kerja Prosedur Kasai

Prosedur Kasai merupakan pembedahan rumit yang perlu dilakukan oleh dokter bedah anak. Ada dua teknik yang dapat digunakan, yaitu bedah terbuka konvensional (dengan sayatan besar pada perut) dan laparoskopi (dengan alat khusus yang dimasukkan melalui beberapa sayatan kecil).

Pada bedah terbuka, dokter bedah membuat sayatan di bagian atas perut untuk memeriksa saluran empedu di luar hati. Setelah diagnosis dipastikan saat pembedahan, dokter bedah melakukan diseksi pada porta hepatis, bagian di permukaan hati tempat keluarnya empedu. Kemudian, bagian empedu yang terserang atresia bilier akan diangkat. Bagian usus kecil yang bernama jejunum akan dipotong dan ujung distalnya disatukan dengan hati. Dengan begitu, empedu dari porta hepatis akan langsung mengalir ke usus. Bagian usus inilah yang nantinya berfungsi sebagai sistem empedu tubuh yang baru. Lalu, ujung proksimal dari jejunum dilekatkan pada bagian usus kecil lainnya dengan teknik Roux-en-Y portoenterostomi.

Tabung drainase dapat dipasang sebelum menutup sayatan di perut. Setelah pembedahan, pasien akan diawasi di ruang pemulihan. Dokter juga akan langsung memasukkan tabung melalui hidung untuk mengeluarkan cairan dari saluran gastrointestinal dan memberi makan pasien secara perlahan. Apabila sudah dapat makan dengan normal dan tanpa komplikasi, pasien dapat pulang ke rumah.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Prosedur Kasai

Prosedur Kasai merupakan prosedur bedah besar yang dapat menimbulkan beberapa komplikasi. Kemungkinan komplikasi yang paling umum adalah empedu dapat mengalir, namun tidak terlalu lancar. Kondisi ini dapat disebabkan beberapa faktor, misalnya jika saluran empedu di porta hepatis terlalu kecil, sehingga terjadi sirosis bilier yang harus ditangani dengan transplantasi hati.

Komplikasi berbahaya lainnya adalah kolangitis, suatu infeksi saluran empedu yang dapat menyebabkan saluran empedu meradang dan kerusakan pada hati. Infeksi ini dapat ditangani dengan antibiotik. Beberapa ahli menyarankan penggunaan steroid untuk meredakan peradangan. Namun, hal ini belum terbukti efektif. Kolangitis juga dapat menyebabkan hipertensi portal, suatu komplikasi serius yang membutuhkan transplantasi hati untuk menyelamatkan pasien.

Beberapa komplikasi lain yang dapat terjadi setelah pembedahan adalah:

  • Malabsorbsi -- Komplikasi umum yang dapat ditangani dengan resep obat khusus serta vitamin
  • Kebocoran empedu -- Komplikasi ini dapat ditangani dengan penggunaan drainase
  • Usus menonjol keluar (hernia) melalui mesocolon
  • Infeksi dan bekas jahitan terbuka
  • Nyeri dan pembengkakan ringan pada area bedah

    Rujukan:

  • Behrman et al. Nelson Textbook of Pediatrics. Philadelphia: W.B. Saunders Company, 2000.

  • Jump up ^ Segura-Sampedro JJ, C. Bernal-Bellido, L.M. Marín-Gómez, G. Suárez-Artacho, J.

  • Serrano-Díez-Canedo, J.M. Álamo-Martínez, F.J. Padillo-Ruiz, M.Á. Gómez-Bravo (Nov 2015). "Outcomes of Liver Transplantation During Adulthood After Kasai Portoenterostomy Due to Biliary Atresia". Transplan proc 47 (9)

Bagikan informasi ini: