Apa itu Operasi Selaput Dara?

Operasi selaput dara adalah prosedur bedah yang bertujuan untuk memperbaiki selaput dara yang telah sobek dengan menjahitnya kembali.

Prosedur juga dikenal dengan istilah hymenorrhaphy atau rekonstruksi selaput dara ini, tidak termasuk ke dalam kategori perawatan ginekologi konvensional dan seringkali dikategorikan sebagai prosedur bedah plastik karena biasanya dilakukan untuk alasan non-medis. Oleh karena itu, prosedur ini tidak tersedia secara luas di rumah sakit, pasien perlu mendatangi klinik swasta untuk menjalani prosedur ini.

Wanita menjalani prosedur ini karena ingin selaput darahnya robek dan mengeluarkan darah saat berhubungan seksual, sebab dalam budaya tertentu dianggap sebagai tanda keperawanan. Tapi, prosedur ini dianggap tabu oleh budaya tertentu bahkan dikategorikan sebagai tindakan ilegal di negara tertentu.

Siapa yang Perlu Menjalani Operasi Selaput Dara & Hasil yang Diharapkan

Wanita yang ingin mengembalikan struktur asli dari selaput dara, membran tipis yang menutupi lubang vagina, dapat mempertimbangkan operasi selaput dara. Biasanya selaput dara memang sobek karena penetrasi seksual, namun ada juga penyebab lainnya seperti cedera, olahraga, latihan fisik, masturbasi, penggunaan tampon, atau penyakit. Di sisi lain, ada beberapa perempuan dengan selaput dara yang lebih elastis, bahkan penetrasi seksual tidak dapat menyobeknya. Dengan demikian, selaput dara terkoyak dan tidak adanya darah saat penetrasi seksual pertama kali, tidak selalu berarti bahwa seorang wanita tidak perawan.

Di bawah ini adalah alasan umum para wanita menjalani operasi selaput dara:

  • Untuk mendapatkan tanda keperawanan sebelum menikah, sebab keperawanan merupakan hal penting menurut budaya tertentu.
  • Untuk mengembalikan keperawanan bagi mereka yang mengalami penyerangan seksual – Prosedur ini dapat memberikan kelegaan emosional dan psikologis bagi korban.
  • Untuk memperbaiki selaput darah yang rusak karena cedera.
    Wanita yang menimbang untuk melakukan operasi selaput dara untuk mengembalikan keperawananya perlu memperhatikan masa penyembuhan pasca operasi sebelum menjadwalkannya. Biasanya disarankan untuk melakukan prosedur 3-4 minggu sebelum menikah.

Cara Kerja Operasi Selaput Dara

Operasi selaput dara adalah tindakan sederhana dan non-invasif dapat dilakukan dengan bius lokal yang dikombinasikan dengan penenang dosis ringan. Namun, dalam situasi tertentu, prosedur ini dapat dilakukan dengan bius total.

Pada tahap persiapan operasi selaput dara, sayatan akan dibuat untuk merobek tepian selaput dara.

Ada tiga cara untuk melakukan rekonstruksi selaput dara, yaitu:

  • Menjahitnya bersama dengan kulit robek yang membentuk lapisan sekunder dari selaput dara untuk membuat selaput dara terlihat utuh
  • Menempatkan membran buatan tanpa pembuluh darah sebagai selaput dara palsu, dengan pilihan menempatkan kapsul gelatin yang mengandung cairan buatan yang menyerupai darah
  • Menempatkan lipatan yang diambil dari lapisan vagina bagian dalam untuk membuat selaput dara baru dengan pembuluh darah yang berfungsi seperti selaput dara asli
    Pada operasi selaput dara, dokter bedah biasanya menggunakan jahitan yang dapat diserap, ini berarti pasien tidak perlu kembali ke dokter untuk melepaskan jahitan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Operasi Selaput Dara

Umumnya operasi ingin aman, namun tetap ada beberapa resiko terkait seperti operasi lainnya. Di antaranya:

  • Infeksi - Infeksi merupakan resiko umum yang menyertai setiap jenis operasi. Inilah yang menjadi alasan pada kebanyakan kasus, dokter memberikan resep antibiotik untuk mencegah timbulnya infeksi.
  • Perdarahan - Perdarahan sementara setelah prosedur adalah normal, dan dapat mereda dan hilang sepenuhnya dalam beberapa hari. Namun, perdarahan berkepanjangan mungkin merupakan tanda dari komplikasi.
  • Striktur - Ini terjadi ketika selaput dara adalah dikoreksi secara berlebih, dan sehingga membran yang digunakan menjadi terlalu kaku ketat. Akibatnya pembukaan menjadi terlalu sempit. Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit selama hubungan seksual, tetapi dapat hilang dengan sendirinya.

Terlepas dari resiko yang ada, komplikasi pada operasi selaput dara sangat jarang terjadi.

Rujukan:

  • Ahmadi A. Ethical issues in hymenoplasty: Views from Tehran's physicians. J Med Ethics.2014;40:429–30

  • Goodman MP. Female cosmetic genital surgery. Obstet Gynecol. 2009;113:154–9.

Bagikan informasi ini: