Apa itu Terapi Oksigen Hiperbarik?

Terapi oksigen hiperbarik dilaksanakan untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah pasien. Ini merupakan pengobatan utama untuk penyakit dekompresi. Terapi ini pun dilakukan sebagai pengobatan dukungan bagi sejumlah penyakit. Penyakit itu termasuk luka bakar, abses otak, dan luka kronis.

Terapi oksigen dikenal dapat memperbaiki hasil dari pengobatan karena ini mempercepat proses penyembuhan luka. Ini juga merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru dan regenerasi sel. Selain itu, terapi membantu melawan infeksi dan meredakan pembengkakan.

Siapa yang Perlu Menjalani Terapi Oksigen Hiperbarik dan Hasil yang Diharapkan

Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah mengakui pemanfaatan terapi ini, di antaranya sebagai pengobatan untuk:

  • Emboli gas arteri - Ini merujuk pada gelembung udara di dalam pembuluh darah. Gelembung akan terbentuk saat tekanan udara menurun drastis. Kondisi ini dapat mengancam nyawa. Sebab, gelembung udara dapat mengyumbat arteri dan menghentikan aliran darah ke organ-organ vital, seperti otak dan paru-paru. Jika segera ditangani dengan terapi oksigen hiperbarik, risiko stroke dan serangan jantung terhadap pasien dapat diminimalisir.

  • Abses otak - Pasien dengan abses otak juga bisa merasakan manfaat dari terai oksigen hiperbarik. Dengan menjalaninya, jaringan otak yang rusak akan lebih cepat sembuh.

  • Luka bakar - Terapi oksigen hiperbarik merangsang kemampuan tubuh untuk menyembuhkan luka pada korban kebakaran. Dengan begitu, mereka akan terhindar dari kematian jaringan. Ini juga mengurangi risiko infeksi. Ini pun memperkuat efek dari antibiotik.

  • Keracunan Karbon Monoksida (CO) - CO adalah gas yang tidak berbau dan tidak berwarna. Saat dihirup, CO akan memasuki aliran darah. Lalu ia akan bercampur dengan sel-sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ini memengaruhi kemampuan darah untuk mengangkut oksigen.

  • Gangren, radiasi cedera, luka kaki diabetik, dan anemia berat - Semua ini mengakibatkan kegagalan dan kematian sel-sel dan jaringan. Terapi oksigen hiperbarik membantu mengobati kondisi ini dengan cara melancarkan peredaran darah dan memasok oksigen ke bagian tubuh yang bermasalah. Pada pasien dengan luka kronis, terapi ini dapat mengurangi risiko amputasi.

  • Tuli dan kehilangan penglihatan mendadak - Terapi oksigen hiperbarik dapat dilaksanakan jika pasien tiba-tiba menjadi tuli dan kehilangan penglihatan akibat aliran darah ke mata dan telinga sangat buruk.

Belum ada bukti yang cukup untuk mendukung temuan yang menyatakan jika HBOT juga efektif mengobati penyakit di luar penyakit yang disebutkan di atas. Itu termasuk AIDS atau HIV, stroke, dan penyakit jantung. Namun, FDA menyatakan terapi ini tidak layak sebagai pengobatan untuk jenis kanker mana pun, depresi, dan serebral palsi.

Cara Kerja Terapi Oksigen Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik adalah prosedur rawat jalan. Tiap sesi terapi berlangsung selama sekitar dua jam. Jumlah sesi tergantung pada kondisi itu sendiri. Makin parah kondisinya, makin banyak sesi yang dibutuhkan. Contohnya, pasien dengan luka kronis akibat diabetes dapat memerlukan sekitar 40 sesi terapi.

Terapi mengharuskan pasien untuk menghirup kadar oksigen oksigen 100% di dalam ruangan bertekanan tertutup. Ruangan ini dapat berupa sebuah kamar individual berdinding akrilik transparan (hanya dapat menampung satu orang) atau kamar terapi ganda, yaitu untuk beberapa orang. Di dalam ruangan individual, pasien harus berbaring pada sebuah meja yang seukuran ruangan tersebut. Sedangkan pada ruangan ganda, pasien dapat berbaring atau duduk. Oksigen diberikan melalui masker atau tudung transparan yang dipakai di kepala pasien. Di dalam kamar tersebut, tekanan yang mengandung atmosfer ditingkatkan hingga tiga kali lebih besar daripada tekanan normal. Pasien terus dipantau oleh staf rumah sakit selama dia berada di kamar itu.

Hanya pakaian berbahan katun yang bersih yang boleh digunakan di dalam kamar terapi. Peralatan elektronik, produk-produk untuk rambut, dan parfum tidak diperbolehkan. Demi keselamatan pasien, mereka harus memberi tahu dokter mengenai obat-obatan yang sedang dikonsumsi, jika dalam pengobatan. Mereka juga dianjurkan untuk berhenti merokok (jika mereka perokok) selama masih dalam masa terapi. Merokok mengganggu kemampuan tubuh dalam memasok oksigen.

Untuk lebih detail, hal-hal yang perlu pasien informasikan kepada dokter sebelum mereka menjalani terapi adalah:

  • Apakah pasien sedang hamil?

  • Apakah pasien menderita dada atau sinus tersumbat?

  • Apakah pasien telah berpuasa sebelum terapi. Berada di dalam kamar terapi selama dua jam dApakaht membuat pasien merasa sangat lApakahr?

  • Apakah pasien cemas dengan terapi tersebut?

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Terapi Oksigen Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik adalah prosedur yang aman, namun terdapat beberapa risiko kecil. Di antara yang paling umum yaitu barotrauma. Ini adalah cedera telinga akibat perubahan tekanan udara secara mendadak. Kondisi ini dapat menyebabkan pusing, sedikit tuli, dan nyeri. Pada sejumlah kasus, ini dapat sembuh dengan sendirinya, saat pasien mengunyah permen karet atau menguap. Menjalani latihan pernapasan juga dapat membantu. Barotrauma juga dapat berdampak pada paru-paru. Saat itu terjadi, risiko kerusakan jaringan paru-paru akan meningkat. Risiko lain dari terapi ini adalah gangguan penglihatan sementara dan kejang-kejang.

Rujukan:

  • Bennett MH, et al. Hyperbaric oxygen therapy for acute ischaemic stroke. Cochrane Database of Systematic Reviews. http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/14651858.CD004954.pub2/abstract.

  • Murad MH, et al. Using GRADE for evaluating the quality of evidence in hyperbaric oxygen therapy clarifies evidence limitations. Journal of Clinical Epidemiology. 2014;67:65.

  • Dauwe PB, et al. Does hyperbaric oxygen therapy work in facilitating acute wound healing: A systematic review. Plastic & Reconstructive Surgery Journal. 2014;133:208e.

Bagikan informasi ini: