Apa itu Hipofisektomi?

Hipofisektomi adalah prosedur bedah pengangkatan kelenjar pituitari, sebagai pengobatan tumor jinak dan ganas. Prosedur dapat dilakukan secara konvensional dengan metode bedah terbuka atau menggunakan teknik minimal invasif.

Kelenjar pituitari, disebut juga hipofisis, terletak di dasar otak, tepat di atas hidung bagian dalam. Walaupun berukuran kecil, ia merupakan kelenjar induk karena mengatur berbagai proses, seperti pertumbuhan, metabolisme, dan reproduksi seksual.

Karena memiliki beberapa resiko serius, prosedur bedah seperti hipofisektomi biasanya tidak diberikan sebagai pengobatan utama dalam menangani gangguan kelenjar pituitari. Pengobatan tanpa bedah, seperti konsumsi obat-obatan dan terapi akan lebih dulu direkomendasi sebelum pasien dirujuk pada dokter spesialis bedah saraf untuk menjalani prosedur bedah.

Siapa yang Perlu Menjalani Hipofisektomi dan Hasil yang Diharapkan

Salah satu alasan utama yang melatarbelakangi hipofisektomi adalah tumor ganas dan jinak. Tumor jinak tidak bersifat kanker tapi tetap memerlukan pembedahan karena memiliki potensi untuk terus berkembang. Tumor jinak juga akan memberikan tekanan pada kelenjar dan otak, sehingga menyebabkan sakit kepala berat serta gangguan neurologis atau vaskular yang membuat nyawa terancam bahaya. Jika tumor termasuk ganas atau bersifat kanker, maka prosedur ditujukan untuk mencegah penyebaran kanker ke organ tubuh lain. Tumor ganas dapat melepaskan hormon yang berdampak buruk terhadap kinerja tubuh. Namun sejauh ini, tumor yang tumbuh pada kelenjar pituitari umumnya bersifat jinak.

Prosedur hipofisektomi lebih diutamakan daripada intervensi lain seperti pemberian obat-obatan, apabila kelenjar pituitari memproduksi hormon yang terlalu aktif atau pasif. Contohnya seperti pada pengobatan untuk sindrom Cushing, yang menyebabkan gejala muncul karena dipicu oleh kandungan kortisol berlebih pada aliran darah. Kortisol diproduksi oleh kelenjar adrenal, tetapi perlu lebih dahulu dirangsang oleh hormon adrenokortikotropik (ACHT) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari. Jika seseorang memiliki kadar kortisol tinggi, maka ia cenderung mengidap hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Wanita, yang lebih rentan terserang gangguan ini, cenderung mengalami gangguan kesuburan dan metabolisme, seperti penolakan terhadap insulin.

Setelah kelenjar pituitari diangkat, pasien perlu mengkonsumsi obat pengganti hormon, yang menimbulkan kondisi merugikan seperti hiperlipidemia, yaitu kadar lemak atau lipid yang tinggi dalam darah.

Cara Kerja Hipofisektomi

Sebelum pembedahan, dokter akan mengevaluasi rekam medis pasien dan mengadakan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi dan kesehatan neurologis pasien, agar ia bisa mempersiapkan pembedahan dengan baik. Layaknya prosedur bedah besar lainnya, hipofisektomi memerlukan persiapan, termasuk meninjau obat-obatan yang dikonsumsi pasien. Apabila pasien mengkonsumsi antikoagulan, dokter akan meminta pasien untuk menghentikannya selama satu minggu sebelum prosedur dimulai, karena obat ini bisa meningkatkan resiko dan komplikasi selama atau setelah operasi. Pasien juga harus bersedia dirawat di rumah sakit untuk pengamatan lebih dalam.

Dokter memiliki dua teknik bedah yang dapat digunakan: hipofisektomi transsphenoidal dan metode konvensional. Hipofisektomi transsphenoidal adalah teknik minimal invasif dengan menggunakan endoskop, sebuah teleskop tipis panjang yang dimasukkan melalui rongga hidung. Alat ini dilengkapi dengan lampu dan kamera yang merekam video langsung di dalam hidung, sehingga dokter dapat melihat area pembedahan dan sekitarnya.

Prosedur dimulai dengan pembuatan sayatan di langit-langit mulut atas atau langsung memasukkan laringoskop ke hidung. Cara lain yang memungkinkan adalah dengan membuat lubang di atas tengkorak dan memasukan endoskop ke belakang hidung atau ke dalam sinus sphenoid. Dengan menggunakan alat bedah, sinus akan disayat agar laringoskop dapat masuk lebih dalam lagi.

Setelah mencapai dinding belakang, dokter akan membuat bukaan lain untuk mengakses kelenjar pituitari, lalu tumor akan diangkat. Tumor akan diangkat sedikit demi sedikit, sesuai dengan ukurannya.

Pada teknik konvensional, dokter bedah akan mengakses kelenjar pituitari melalui tengkorak, dengan membuat lubang kecil dan membuang sedikit bagian tulang untuk menjangkau dan mengangkat tumor.

Kedua metode ini hanya membutuhkan waktu satu jam dan umumnya menggunakan bius total.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Hipofisektomi

Bedah pengangkatan kelenjar pituitari merupakan prosedur beresiko tinggi. Oleh karena itu, dokter bedah perlu berusaha keras untuk membuat pasien mengerti keseluruhan prosedur. Komplikasi awal dari prosedur ini termasuk pendarahan hidung, pendarahan intra kranial, dan kebocoran cairan serebrospinal. Beberapa bagian otak juga beresiko mengalami kerusakan, jika dokter bedah memiliki kesulitan dalam menggapai kelenjar pituitari saat prosedur berlangsung.

Rujukan:

  • Melmed S, Kleinberg D. Pituitary masses and tumors. In: Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR, Kronenberg HM, eds. Williams Textbook of Endocrinology. 12th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011: bab 9.

  • Molitch ME. Anterior pituitary. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011: bab 231.

Bagikan informasi ini: