Apa itu Inseminasi Intrauterine?

Inseminasi intrauterine (IUI) adalah salah satu teknik inseminasi buatan yang paling banyak digunakan untuk menangani ketidaksuburan. Tindakan ini dilakukan dengan meletakkan sperma di dalam rahim, tuba falopi, atau leher rahim saat ovarium menghasilkan sel telur, sehingga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pembuahan. Dibandingkan prosedur bayi tabung, IUI lebih minim sayatan dan biayanya lebih terjangkau. IUI memiliki tingkat keberhasilan sebesar 5% bagi pasangan dengan ketidaksuburan yang penyebabnya tidak diketahui dan sekitar 16% ketika menggunakan obat penyubur seperti Clomid. Sejauh ini, tidak ada catatan statistik untuk bayi yang berhasil dilahirkan.

Siapa yang Perlu Menjalani Inseminasi Intrauterine & Hasil yang Diharapkan

Sebelum memilih untuk menjalani teknik reproduksi berbantu jenis apapun, pasangan suami istri biasanya akan menjalani serangkaian uji kesehatan untuk mengetahui penyebab ketidaksuburan. Pasangan akan disarankan untuk menjalani IUI apabila ketidaksuburan mereka disebabkan oleh salah satu atau gabungan dari faktor berikut:

  • Ketidaksuburan yang tidak diketahui penyebabnya. Ini adalah kasus di mana penyebab ketidaksuburan tidak dapat diketahui melalui uji ketidaksuburan biasa. Berdasarkan penelitian, ada 26% pasangan tidak subur yang penyebab ketidaksuburannya tidak diketahui.
  • Cairan leher rahim yang terlalu kental. Leher rahim, yang terletak di ujung bawah vagina, akan mengeluarkan cairan ketika wanita menghasilkan sel telur. Cairan tersebut dapat membantu perpindahan sperma dari vagina ke tuba falopi. Namun, ada kasus di mana tubuh menghasilkan cairan leher rahim yang terlalu kental, sehingga sperma tidak dapat berpindah ke tuba falopi.
  • Sperma yang abnormal. Kelainan pada sperma adalah salah satu penyebab paling umum mengapa pasangan suami istri tidak dapat memiliki keturunan. Kelainan yang biasanya terjadi adalah pergerakan sperma yang lemah, jumlah sperma yang kurang dari rata-rata, dan kelainan ukuran sperma.
  • Endometriosis adalah penyakit yang ditandai dengan jaringan endometrium yang tumbuh di luar rahim, bukan di dalam rahim seperti seharusnya.
  • Adanya jaringan luka pada leher rahim akibat tindakan yang pernah dijalani.
  • Impotensi


Inseminasi intrauterine sebaiknya tidak dilakukan pada wanita yang menderita penyakit serius pada tuba falopi atau memiliki riwayat terkena infeksi pada panggul.

Cara Kerja Inseminasi Intrauterine

Sebelum IUI dilakukan, pasangan pria akan memberikan sampel air mani, yang akan dibersihkan untuk menghilangkan zat selain sperma, sehingga dapat mengurangi kemungkinan tubuh akan memberikan reaksi negatif terhadap sampel tersebut. Dalam proses ini, sel sperma yang berkualitas rendah akan dihilangkan, untuk mendapatkan sampel yang hanya terdiri dari sel sperma yang sehat.

Tergantung pada penyebab ketidaksuburan, pasangan wanita dapat diberi obat penyubur seminggu sebelum ia mengalami ovulasi. Kemudian, ia akan diminta untuk mengawasi tanda-tanda ovulasi yang akan terjadi. Prosedur ini dapat dilakukan di rumah sakit dengan menggunakan ultrasound transvaginal atau di rumah dengan menggunakan alat perkiraan ovulasi urin, yang dapat mendeteksi adanya hormon pelutein di urin. IUI biasanya dilakukan sehari atau dua hari setelah ovulasi.

IUI dapat diselesaikan dalam hitungan menit dan sangat mirip dengan tindakan Pap smear. Setelah sperma selesai diproses di laboratorium, sedikit sampel sperma akan dimasukkan ke kateter yang steril. Kateter tersebut akan dimasukkan ke rahim melalui leher rahim. Setelah itu, sperma akan disuntikkan ke rongga rahim.

Tingkat Keberhasilan Inseminasi Intrauterine

Berdasarkan statistik dan berbagai penelitian, keberhasilan atau kegagalan dari IUI sangat bergantung pada usia wanita dan penyebab ketidaksuburan. Sebagai contoh, dalam kasus yang melibatkan wanita berusia 30 tahun yang menderita sindrom ovarium polikistik (gangguan keseimbangan kadar hormon), IUI memiliki tingkat keberhasilan sebesar 20%, tergantung apakah pil kesuburan digunakan atau tidak. Tingkat keberhasilan IUI menurun drastis pada wanita yang lebih tua. Bahkan, wanita berusia 43 tahun yang penyebab kesuburannya tidak diketahui memiliki kemungkinan keberhasilan IUI hanya sebesar 1%.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Inseminasi Intrauterine

Seperti teknologi reproduksi berbantu lainnya, pada umumnya Inseminasi Intrauterine bersifat aman dan hanya menyebabkan sedikit ketidaknyamanan saat dilakukan. Walaupun tetap ada, namun sangat jarang ada kemungkinan risiko dan komplikasi IUI yang serius. Risiko yang dapat terjadi adalah:

  • Infeksi – Berdasarkan penelitian, ada kemungkinan 1% wanita akan terkena infeksi pada tuba falopi dan rahim apabila air mani terkena kontaminasi atau apabila kateter yang digunakan tidak steril.

  • Pendarahan ringan – Ada kasus di mana proses memasukkan kateter ke dalam rahim menyebabkan pendarahan ringan. Namun, pendarahan ini tidak berbahaya dan diperkirakan dapat berhenti dengan sendirinya setelah 1-2 hari. Pendarahan ini juga tidak mengurangi kemungkinan pasien untuk hamil.

  • Kehamilan ganda – IUI, ketika dilakukan bersamaan dengan penggunaan obat-obatan pemicu ovulasi, dapat menyebabkan kehamilan ganda, yang memiliki lebih banyak risiko, termasuk bayi yang lahir dengan berat tidak normal dan melahirkan terlalu dini.

  • Keberhasilan. Mungkin salah satu kekhawatiran terbesar bagi pasien yang menjalani IUI adalah apakah mereka akan mendapatkan hasil yang diharapkan. Dengan kemungkinan hamil hanya sebesar 1-25%, IUI kemungkinan harus dilakukan 3-4 kali sebelum pasien wanita dapat hamil. Namun, ada kasus di mana IUI sama sekali tidak memberikan hasil dan mengecewakan pasien.

    Rujukan:

  • Reproductive health: Infertility FAQs. Centers for Disease Control and Prevention. http://www.cdc.gov/reproductivehealth/Infertility/. Accessed May 21, 2013.

  • Infertility fact sheet. Womenshealth.gov. http://www.womenshealth.gov/publications/our-publications/fact-sheet/infertility.html. Accessed May 21, 2013.
  • Ginsberg ES. Procedure for intrauterine insemination (IUI) using processed sperm. http://www.uptodate.com/home. Accessed May 21, 2013.
  • Tournaye HJ, et al. Management of male-factor infertility. Best Practice and Research: Clinical Obstetrics and Gynaecology. 2012;26:769.
Bagikan informasi ini: