Apa itu Terapi Intravena?

Terapi intravena adalah metode untuk memberikan cairan obat secara langsung ke dalam vena. Karena menggunakan drip chamber atau ruang tetes, infus seringkali diistilahkan sebagai tetesan. Sedangkan obat yang masuk melalui intravena disebut obat khusus.

Terapi intravena mengirim dua jenis cairan, kristaloid dan koloid. Kristaloid adalah cairan yang tersusun dari mineral, garam, dan zat-zat yang dapat larut dalam air, contohnya solusi garam, dekstrosa dalam air, dan laktat Ringer. Sebagian dokter memberi kristaloid pada pasien dehidrasi dan yang memerlukan penggantian elektrolit. Di sisi lain, koloid adalah molekul yang tak dapat larut dalam air. Solusi koloid memiliki partikel-partikel besar yang dimanfaatkan sebagai pengganti darah, ekspansi volume, dan mempertahankan tekanan darah normal.

Terapi intravena memiliki beberapa manfaat, termasuk proses pemberian cairan obat ke dalam sistem tubuh yang cepat dan menjamin obat dengan bioavailabilitas penuh.

Siapa yang Perlu Menjalani Terapi Intravena dan Hasil yang Diharapkan

Terapi intravena sangat direkomendasi bagi

  • Pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi - Pasien kanker memerlukan terapi intravena untuk memasukkan obat farmasi ke sistem tubuh mereka. Masa pengobatan tergantung pada jenis kanker dan tingkat keparahannya. Pengobatan intravena biasanya berjalan selama beberapa jam dan dapat diberikan secara rawat jalan. Namun, ada obat-obatan kemoterapi tertentu yang memerlukan infusi terus menerus, sehingga dalam waktu yang cukup lama, pasien harus membawa alat pompa kecil untuk menyuntikkan obat-obatan. Terapi intravena pun merupakan indikasi bagi penyakit-penyakit lain, seperti akidosis dan alkaloisis.

  • Pasien dehidrasi - Pasien-pasien ini boleh menjalani terapi intravena untuk menyampaikan penggantian cairan dengan cara yang paling cepat.

  • Pasien Transfusi darah - Pasien yang telah kehilangan sejumlah darah, baik karena cedera atau pun prosedur bedah dapat menjalani terapi intravena. Hanya komponen darah yang boleh diinfuskan ke dalam aliran darah pasien bukan seluruh darah pasien. Komponen darah termasuk sel darah merah, sel darah putih, plasma, dan faktor penggumpal. Sebagai tambahan, pasien debhan saturasi oksigen dalam darah yang buruk dan yang terdiagnosis penyakit kardiovaskular pun emmerlukan transfusi darah.

  • Pasien dengan ketidakseimbangan elektrolit - Terapi juga tepat bila diberikan pada pasien yang mengalami gejala ketidakseimbangan elektrolit akibat perubahan kadar elemen-elemen penting dalam darah. Elektrolit ini termasuk potassium, kalsium, sodium, and magnesium. Bila tidak diobati, kondisi ini bisa berujung pada gemetar, kram, lemah, dan spasme otot.

  • Pasien yang kekurangan zat gizi - Melalui terapi intravena, formula nutrisi dan vitamin memasuki tubuh langsung ke dalam aliran darah untuk penggunaan dan pemakaian yang cepat.

Cara Kerja Terapi Intravena

Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh tenaga medis sebelum memulai terapi intravena. Ini termasuk jenis larutan yang akan diberikan, durasi terapi, kondisi vena, ukuran kateter, dan jumlah beberapa faktor terkait, seperti usia dan aktivitas pasien. Sebelum menusuk vena, tenaga medis terlebih dahulu harus membesarkannya dengan beberapa teknik, seperti menempatkan di tungkai bawah daripada di hati, mengetuk vena, mengepalkan tangan, menggunakan kompresan hangat, atau dengan sebuah turniket. Area yang dipilih untuk memasukkan jarum harus dibersihkan dengan solusi antimikroba yang diusapkan dengan gerakan memutar. Biasanya, turniket disematkan dengan kuat di atas area tusukan untuk melepaskan vena dari tekanan. Lalu, jarum kateter dimasukkan dan turniket dilepaskan. Jarum ini akan diangkat perlahan, meninggalkan pusat kateter dimana selang infus terhubung. Saat pengubung telah stabil, tenaga medis akan memulai infus dengan kateter yang terpasang oleh perekat khusus.

Di beberapa kasus, lokasi terapi intravena berada di leher atau dada. Untuk pasien kemoterapi, kateter vena pusat atau garis pusat digunakan untuk mengirim obat-obatan ke dalam sistem tubuh pasien.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Terapi Intravena

Dengan resiko tinggi akan infeksi di lokasi tusukan, maka diperlukan perawatan seksama untuk memastikan proses memasukkan jarum dan kateter terjaga sterilitasnya.

Keracunan dan kerusakan vena dapat terjadi bila obat-obatan diberikan terlalu cepat. Ini bisa berujung pada flebitis atau radang vena.

Proses memasukan jarum yang tidak tepat dapat menyebabkan kebocoran sehingga obat-obatan tidak langsung memasuki darah melainkan ke bagian-bagian sekitarnya.

Meskipun jarang, resiko embolisme udara pun bisa terjadi bila ada gelembung udara yang memasuki vena. Ini dapat berujung pada gangguan peredaran darah dan pernafasan.

Terapi intravena pun dapat menyebabkan pembekuan darah dan trombosis vena dalam, yang menjadi semakin parah bila tidak segera ditangani.

Komplikasi yang jarang terjadi lainnya adalah reaksi alergi terhadap obat-obatan yang diinfuskan. Pasien perlu diawasi dengan sangat hati-hati saat menjalani terapi ini.

Rujukan:

  • Immune Deficiency Foundation: “Immunoglobulin Therapy & Other Medical Therapies for Antibody Deficiencies.”

  • American Academy of Allergy, Asthma and Immunology: “Eight Guiding Principles for Effective Use of IVIG for Patients with Primary Immunodeficiency.”

Bagikan informasi ini: