Apa itu Keratoplasti?

Keratoplasti adalah jenis bedah yang dilakukan pada kornea, atau bagian depan mata yang transparan dengan fungsi menutupi dan melindungi pupil, bilik depan, dan iris. Kornea juga memiliki kontribusi sebesar 2/3 persen dari kemampuan optik total. Tujuan dari prosedur ini adalah mengembalikan fungsi korea yang rusak atau terserang penyakit.

Salah satu metode keratoplasti yang umum digunakan adalah transplantasi kornea, yaitu menggantikan korea yang rusak dengan jaringan cangkok yang diambil dari donor. Idealnya donor adalah mereka yang baru saja meninggal dan tidak menderita penyakit atau masalah apapun yang menyerang jaringan korneanya.

Ada dua jenis transplantasi kornea, yaitu:

  • Keratoplasti penetrasi, di mana pasien menerima seluruh kornea donor untuk transplantasi.
  • Keratoplasti lempengan, di mana pasien hanya menerima sebagaian dari kornea donor untuk transplantasi. Pasien biasanya direkomendasikan oleh spesialis mata untuk menjalani keratoplasti, karena alasan berikut:
  • Untuk meningkatkan ketajaman visual, terutama jika korea buram atau mengalami distrosi
  • Untuk tujuan tektonik atau rekonstruksi karena kerusakan akibat penyakit atau cedera yang memengaruhi anatomi atau integritas kornea
  • Untuk mengangkat jaringan kornea yang meradang, apabila tidak merespon obat antibiotik yang diresepkan
  • Untuk memperbaiki penampilan bekas luka kornea, yang terlihat putih atau buram
    Selain dari jaringan kornea dari donor manusia, keratoplasti juga dapat menggunakan kornea sintetik. Ini direkomendasikan bagi pasien yang tidak dapat menemukan donor manusia yang cocok atau mereka yang tinggal di daerah, di mana jarang ada donor kornea. Berikut ini adalah beberapa jenis kornea sintetik:

  • Boston Keratoprosthesis - Jenis ini banyak digunakan dan dikembangkan oleh Massachusetts Eye dan Ear Infirmary.

  • AlphaCor - Jenis ini dianjurkan untuk pasien yang telah menjalani beberapa cangkok kornea, namun tidak berhasil
  • Osteo-Odonto-Keratoprosthesis - Kornea sintetik ini langka, namun sering direkomendasikan untuk pasien yang cacat. Namun, prosedur penggantian menggunakan kornea sintetik ini cukup kompleks dan melibatkan beberapa langkah, termasuk menggunakan lamina berasal dari gigi pasien dan mencangkoknya ke lensa buatan.

Keratoplasti dapat dilakukan secara rawat jalan. Namun, pasien perlu kembali lagi setelah prosedur selesai untuk konsultasi lanjutan guna memastikan kesuksesan operasi dan mencegah infeksi.

Siapa yang Perlu Menjalani Keratoplasti dan Hasil yang Diharapkan

Pasien dengan kondisi berikut dapat menjadi kandidat untuk menjalani keratoplasti, yaitu:

  • Adanya jaringan parut di kornea yang disebabkan oleh penyakit, cedera, atau infeksi (seperti herpes mata atau infeksi jamur pada kornea)
  • Buruknya penglihatan yang tidak dapat dikembalikan atau diperbaiki alat bantu yang diresepkan (seperti kacamata atau lensa kontak)
  • Adanya peradangan yang menyakitkan pada jaringan kornea, yang tidak merespon obat
  • Adanya jaringan parut kornea yang disebabkan oleh trichiasis, suatu kondisi diman bulu mata tumbuh ke dalam
  • Edema, atau pembengkakan berlebihan pada kornea.
  • Distrofi Fuchs 'dan kondisi turun-temurun lain yang memengaruhi kornea
  • Kondisi yang menyebabkan penipisan kornea
  • Kornea terbakar zat kimia
  • Penolakan dari jaringan kornea yang dicangkokan pada prosedur keratoplasti sebelumnya
  • Komplikasi dari LASIK atau operasi katarak.
    Sebagian besar kasus keratoplasti berhasil mengembalikan penglihatan pasien dan meningkatkan kesehatan kornea dan mata.

Cara Kerja Keratoplasti

Cara keratoplasti yang tergantung pada jenis transplantasi kornea yang dibutuhkan pasien. Dengan donor manusia, jaringan kornea harus dipanen dalam waktu 24 jam setelah kematian donor.

Keratoplasti penetrasi - Dalam prosedur ini, dokter akan mengangkat jaringan donor dan kornea pasien yang rusak dengan alat potong melingkar disebut trephine a. Kemudian, kornea donor akan dijahit ke tempatnya menggunakan jahitan kecil. Dokter akan memberikan tetes mata antibiotik untuk mata pasien sebelum menempatkan pembalut steril atas mata. Pasien akan diperbolehkan pulang setelah efek bius hilang, Konsultasi pasca operasi pertama akan dijadwalkan beberapa hari setelah prosedur.

Keratoplasti lempengan - Prosedur ini mirip dengan keratoplasti penetrasi tapi bukannya cangkok seluruh kornea. Dokter hanya akan mengganti lapisan kornea yang sakit dan dan membiarkan jaringan sehat yang tersisa.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Keratoplasti

Dibandingkan bagian tubuh lain, masa penyembuhan kornea lebih lama karena tidak terhubung dengan pembuluh darah manapun. Sehingga, resiko infeksi lebih tinggi. Oleh karena itu, pasien disarankan untuk menggunakan tetes mata dengan antibiotik hingga benar-benar sembuh.

Resiko lainnya adalah tubuh menolak organ donor, sampai saat ini tercatat dari seluruh kasus 20% terjadi penolakan.

Rujukan:

  • Chow J, Kim T. Penetrating and lamellar keratoplasty. In: Tasman W, Jaeger EA, eds. Duane's Ophthalmology. 2013 ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2013:vol 6, chap 26.

  • Yanoff M, Cameron D. Diseases of the visual system. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 431.

Bagikan informasi ini: