Apa itu Bimbingan Konseling untuk Pelecehan Seksual

Asosiasi Psikologi Amerika Serikat menyatakan pelecehan seksual sebagai tindakan atau aktivitas seksual yang tidak diinginkan, yang dilakukan dengan cara pemaksaan, kekuatan, dan ancaman. Para ahli berpendapat pelecehan seksual tidak selalu berfokus kepada hubungan seksualnya, tetapi lebih bagaimana sang pelaku yang menggunakan kekuatan dan kekuasaan pada sang korban.

Ada beberapa jenis pelecehan seksual. Termasuk di antaranya adalah pemerkosaan, penganiayaan seksual, dan juga penyerangan seksual. Pemerkosaan adalah hubungan seksual di mana salah satu pihak tidak menginginkannya. Situasi ini bisa terjadi seandainya salah satu pihak sedang tidak memiliki kondisi mental yang sehat atau memang tidak mau melakukannya (pihak tersebut diperkosa di bawah pengaruh obat atau sedang mabuk). Pemerkosaan tidak hanya dapat terjadi pada pria atau wanita lajang, tetapi bisa juga terjadi pada pasangan suami istri; pemerkosaan dalam perkawinan terjadi jika hubungan seksual dilakukan dengan kekerasan.

Sedangkan penganiayaan seksual biasanya terjadi pada anak-anak. Berdasarkan data Jaringan Nasional Pemerkosaan, Pelecehan, dan Incest, sekitar 44% pelecehan seksual terjadi pada korban berusia di bawah 18 tahun. Incest adalah penganiayaan seksual yang dilakukan kepada anak yang dilakukan oleh saudara atau anggota keluarga yang sedarah dengan korban.

Sedangkan penyerangan seksual adalah melakukan atau mencoba melakukan hubungan seksual dengan orang lain tanpa persetujuan darinya. Menyentuh dan meraba korban temasuk dalam kategori ini.

Tidak semua jenis pelecehan seksual berakhir dengan hubungan seksual. Kesukaan seseorang dalam melihat orang lain melakukan hubungan seksual (voyeurisme) dan pengaruh dari pornografi sudah merupakan bentuk dari pelecehan seksual. Karenanya, ada juga pornografi balas dendam, yaitu dengan memaksa seseorang untuk berpartisipasi dalam pornografi.

Pelecehan seksual dapat mempengaruhi kondisi mental dan kesehatan fisik sang korban. Karenanya, penting bagi mereka untuk mendapat pertolongan dan dukungan yang tepat, seperti dengan konseling.

Siapa yang Harus Menjalani Konseling Psikologi untuk Pelecehan Seksual & Hasil yang Diharapkan

Bagi siapa saja yang pernah mengalami pelecehan seksual, sangat disarankan untuk mendapatkan pertolongan melalui konseling. Pengalaman yang dapat menyebabkan trauma tersebut dapat menyebabkan depresi, kegugupan, dan amarah yang tidak terkontrol. Para korban juga dapat menunjukkan tanda-tanda gangguan stress pasca trauma (post traumatic stress disorder - PTSD), terutama jika ada pemicunya, seperti tempat pelecehan tersebut berlangsung, atau orang yang mirip dengan pelaku pelecehan seksual tersebut. Beberapa korban lain bahkan juga dapat melukai dirinya sendiri atau bermimpi buruk. Bahkan, sebagian dari korban juga menjadi pelaku pelecehan seksual kepada orang lain.

Para korban pelecehan seksual sering kali memiliki pandangan yang menyimpang terhadap hubungan seksual. Mereka dapat menjadi over-aktif dalam hubungan seksual atau mungkin kesulitan membangun hubungan intim dengan orang lain. Mereka juga dapat menjadi infertil atau kesulitan untuk ejakulasi dan juga sulit untuk melakukan hubungan seksual. Mereka yang mengalami beberapa kondisi tersebut bisa terjerumus untuk menggunakan narkoba dan bermabuk-mabukan.

Setidaknya 65% kasus pelecehan seksual tidak dilaporkan ke polisi, yang membuat para korban sulit untuk mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan. Karenanya, perlu ada kesadaran yang kuat untuk melakukan kampanye tentang pelecehan seksual. Konseling adalah sebuah rencana perawatan yang dirancang sesuai dengan masing-masing korban, karena tidak ada orang lain yang mengalami hal yang sama. Rancangan dibuat berdasarkan beberapa faktor, diantaranya keahlian terapisnya, penerimaan dari korban, tingkat keparahan pelecehan seksual yang diterima, dan trauma yang dialami. Karenanya, mungkin perlu beberapa sesi perawatan yang mungkin dapat berjalan beberapa tahun.

Cara Kerja Konseling Psikologi untuk Pelecehan Seksual

Para korban pelecehan seksual dapat bertanya kepada organisasi nirlaba atau agensi manapun yang menawarkan pelayanan konseling pelecehan seksual. Organisasi atau badan semacam ini umumnya memiliki ahli konseling yang sudah berpengalaman, terlatih, dan biasa menangani korban pelecehan seksual. Sebagian diantara para ahli konseling ini bahkan memiliki spesialiasi untuk masalah pelecehan seksual tertentu atau ahli dalam menangani korban dalam usia tertentu. Karena pada dasarnya, pola pikir remaja berbeda dengan orang dewasa.

Setiap sesi biasanya berlangsung selama beberapa menit sampai satu jam. Salah satu teknik terapi yang paling populer adalah terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi kesenian.

Terapi perilaku kognitif memiliki dasar bahwa persepsi setiap orang terhadap suatu kejadian terkadang lebih berat dibandingkan kejadiannya. Misalnya, seorang istri yang pernah mengalami pemerkosaan dalam perkawinan mungkin mulai merasa bahwa Ia tidak layak untuk dicintai. Ia kemudian akan mulai menolak segala bentuk rasa sayang dari orang lain.

CBT sudah terbukti sebagai metode yang efektif dalam mengatasi masalah depresi, kecemasan, dan PTSD. Metode ini ditandai dengan menulis pada jurnal, menantang pola pikir sang korban, dan mengajari keahlian yang berguna untuk mengatasi pikiran negatif tentang dirinya dan kejadian yang dialami.

Sementara itu, terapi kesenian disarankan bagi mereka yang kesulitan untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dalam kata-kata. Mereka dapat menggunakan seni untuk menceritakan kisah mereka dan pada akhirnya agar mereka bisa berdamai dengan apa yang mereka alami dan mengatasi traumanya. Ini adalah teknik yang efektif bagi anak-anak yang mengalami pelecehan seksual.

Stigma yang terbawa dengan pelecehan seksual memaksa para korban untuk mengatasinya sendiri. Untungnya, beberapa agensi sudah menyediakan jalur telepon untuk konseling via telepon atau via online.

Kemungkinan Risiko Konseling Psikologi untuk Pelecehan Seksual

Menceritakan pelecehan seksual terkadang dapat menyebabkan stres, tidak nyaman, dan menyakitkan, serta mengingatkan korban tentang ingatan buruk. Beberapa korban bahkan dapat mengalami penurunan kesehatan fisik dan pikiran. Namun, karena para korban perlu bantuan ini, masalah ini seharusnya perlahan akan membaik.

Rujukan:

  • Dubowitz H, Lane WG. Abused and Neglected Children. In: Kliegman RM, Stanton BF, St. Geme JW, Schor NF, Behrman RE, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 37.

  • U.S. Department of Health and Human Services.Child Welfare Information Gateway.Identification of Sexual Abuse. https://www.childwelfare.gov/can/identifying/sex_abuse.cfm. Accessed November 21, 2014.

Bagikan informasi ini: