Apa itu Konsultasi Bedah Refraktif?

Konsultasi bedah refraktif adalah suatu janji temu dengan dokter mata untuk menentukan apakah bedah refraktif merupakan penanganan terbaik bagi pasien dengan gangguan penglihatan.

Refraksi adalah pembiasan berkas cahaya ketika melewati kornea menuju retina, di mana cahaya diubah menjadi rangsangan elektrik sehingga dapat diterima oleh otak. Proses pembiasan ini harus dilakukan agar mata dapat menerima cahaya yang cukup.

Kelainan refraksi akan memengaruhi jumlah cahaya yang masuk melalui mata dan mengganggu gambar yang dilihat oleh seseorang. Ada beberapa jenis kelainan refraksi, yaitu:

  • Rabun jauh (miopia) – Kondisi ini digambarkan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk melihat objek yang jauh.
  • Rabun dekat (hiperopia) – Kondisi di mana seseorang tidak dapat melihat objek yang dekat.
  • Presbiopia (terkait usia) – Seseorang dengan presbiopia tidak dapat melihat objek secara jelas karena mata mereka tidak mampu memfokuskan cahaya. Kondisi ini berkaitan dengan faktor usia dan biasanya diderita oleh pasien yang berusia 60 tahun ke atas.
  • Astigmatisma – Dalam kasus astigmatisma, terjadi penyimpangan bentuk kornea yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Kornea merupakan bagian mata yang terletak di bagian depan. Kornea berwarna bening dan terbentuk dari ratusan sel dan protein. Bentuk kornea, yang biasanya bundar, dapat membantu mengatur dan memfokuskan jumlah cahaya yang masuk ke mata.
  • Keratokonus – Kondisi ini merupakan kondisi mata yang tidak umum, di mana bentuk kornea yang seharusnya bundar menjadi menonjol keluar seperti kerucut dan permukaannya menjadi lebih tipis.

Gangguan pada mata ini dapat diatasi dengan beberapa tindakan bedah refraktif, yaitu:

  • LASIK (laser in situ keratomileusis) – Ini merupakan tindakan yang paling umum dilakukan untuk mengatasi gangguan penglihatan. LASIK menggunakan laser untuk mengubah bentuk bagian dalam kornea.
  • LASEK (laser epithelial keratomileusis) – Operasi ini dilakukan untuk membuat flap serta mengubah bentuk kornea dengan menggunakan laser
  • RLE (refractive lens exchange) – Dengan teknik ini, lensa mata yang asli diganti akan dengan lensa yang terbuat dari plastik atau silikon.
  • PRK (photorefractive keratectomy) – tindakan ini cocok untuk gangguan penglihatan yang ringan.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Bedah Refraktif dan Hasil yang Diharapkan

Seseorang dapat menjalani konsultasi bedah refraktif dengan dokter mata apabila:

  • Ia ingin berhenti mengenakan kacamata dan lensa kontak – Cara yang paling mudah untuk menyembuhkan gangguan penglihatan adalah memakai kacamata dan lensa kontak. Namun, lama-kelamaan pasien dapat merasa terganggu atau lelah memakai alat bantu penglihatan tersebut. Selain itu, kondisi mata bisa malah memburuk. Jika hal ini terjadi, maka pasien harus diberi kacamata atau lensa kontak yang baru.
  • Pasien mengalami gangguan penglihatan akibat kerusakan refraksi yang telah disebutkan di atas
  • Pasien mendapatkan rujukan dari dokter spesialis lain, misalnya dokter spesialis mata yang tidak dapat melakukan operasi
  • Pasien ingin mendapatkan opini dari dokter lain – seseorang yang belum memutuskan atau ragu untuk menjalani operasi dapat menemui dokter bedah lain untuk mengetahui pendapatnya

Saat konsultasi, pasien akan mendapatkan informasi berikut:

  • Apakah ia bisa menjalani operasi
  • Teknik bedah yang terbaik
  • Komplikasi dan risiko
  • Efek jangka panjang dari operasi
  • Hasil yang bisa diharapkan
    Pasien harus menyadari bahwa bedah refraktif belum tentu dapat menyembuhkan gangguan penglihatan sepenuhnya. Namun dalam sebagian besar kasus, bedah refraktif akan mengurangi ketergantungan pasien pada kacamata dan lensa kontak, termasuk lensa intraocular. Dengan begitu, kualitas hidup dan mobilitas pasien akan membaik.

Cara Kerja Konsultasi Bedah Refraktif

Sebelum konsultasi bedah refraktif dimulai, pasien harus menjalani tes penglihatan. Tergantung pada hasil tes, pasien dapat dirujuk ke dokter mata, yang akan melakukan bedah refraktif.

Sebelum konsultasi, staf atau perawat akan memeriksa mata pasien secara menyeluruh. Pasien juga harus memberikan informasi tentang: riwayat kesehatan, obat yang dikonsumsi, serta pengobatan untuk gangguan penglihatan yang telah dijalani.

Saat konsultasi, dokter bedah akan memeriksa seluruh riwayat kesehatan dan informasi pribadi pasien. Setelah itu, dokter bedah akan:

  • Menentukan apakah pasien dapat menjalani operasi – Setelah mempertimbangkan resiko dan komplikasi dari operasi, dokter mata dapat menyarankan pasien untuk tidak menjalani operasi apabila kerusakan refraktif tidak parah atau pasien memiliki penyakit mata lain, sehingga operasi menjadi semakin berisiko.
  • Memberitahu pasien tentang berbagai pilihan yang tersedia dan membantu mereka dalam mengambil keputusan
  • Menjelaskan proses operasi, termasuk peralatan dan teknik yang digunakan, perawatan pra-operasi dan pasca operasi, masa pemulihan, serta risiko dan komplikasi.
  • Menghitung perkiraan biaya dan bagaimana pasien dapat memanfaatkan asuransinya sebaik mungkin, jika ada
  • Memilih waktu yang terbaik untuk operasi
    Konsultasi akan membutuhkan waktu setidaknya satu jam, termasuk tes penglihatan. Konsultasi selanjutnya dapat diselesaikan dengan lebih cepat karena topik yang penting telah dibicarakan saat konsultasi awal.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Bedah Refraktif

Bedah refraktif belum tentu dapat dijalani oleh semua orang. Larangan untuk menjalani bedah refraktif dapat menyebabkan pasien menjadi frustrasi. Pasien dapat menganggap konsultasi sebagai usaha yang sia-sia dan hanya menghabiskan waktu. Kemungkinan ia juga harus melakukan konsultasi lain dengan dokter spesialis mata yang berbeda.

Selain itu, pasien dan dokter dapat memiliki harapan yang berbeda. Bila hal ini terjadi, konsultasi akan menjadi lebih rumit. Biasanya, perbedaan harapan terjadi karena pasien berasumsi bahwa bedah refraktif dapat sepenuhnya menyembuhkan semua jenis gangguan pada mata. Pasien dapat merasa kecewa atau sedih apabila hasil operasi tidak sesuai dengan harapan mereka. Maka dari itu, dokter bedah sebaiknya memberikan semua informasi tentang bedah refraktif, termasuk hasil dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Supaya aman, pasien disarankan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter bedah refraktif yang bersertifikat. Ada beberapa pasien yang mengalami trauma karena operasi mata yang dilakukan oleh dokter bedah yang tidak memiliki sertifikat ataupun lisensi.

Rujukan:

  • Mimura T, Azar DT. Current concepts, classification, and history of refractive surgery. In: Yanoff M, Duker JS, Augsburger JJ, et al. Ophthalmology. 3rd ed. St. Louis, MO: Elsevier Mosby; 2008:chap 3.1.

  • Questions to ask when considering LASIK. San Francisco, CA. American Academy of Ophthalmology. Available at: http://www.geteyesmart.org/eyesmart/glasses-contacts-lasik/lasik-questions-to-ask.cfm.

  • Young JA, Kornmehl EW. Preoperative evaluation for refractive surgery. In: Yanoff M, Duker JS, Augsburger JJ, et al. Ophthalmology. 3rd ed. St. Louis, MO: Elsevier Mosby; 2008:shap 3.2.

Bagikan informasi ini: