Apa itu Konsultasi Bedah Trauma?

Tidak seperti konsultasi medis lainnya, konsultasi bedah trauma sangat menantang dan dilakukan dengan sangat cepat. Ini karena sifatnya yang mendesak, sehingga tidak ada waktu untuk proses yang terlalu lama. Keraguan yang hanya sesaat saja dari tim dokter sudah bisa menyebabkan bencana bagi pasien yang membutuhkan operasi trauma. Penelitian dan statistik menunjukkan bahwa operasi trauma sering dibutuhkan oleh pasien yang mengalami cedera pada bagian perut. Namun, bagian tubuh lainnya juga rentan terkena trauma akibat kecelakaan atau kejadian penyebab trauma lainnya.

Dalam beberapa dekade ini, ada banyak kemajuan dalam bidang konsultasi dan penilaian bedah trauma. Sehingga, ahli medis dapat lebih memahami informasi yang dapat menyebabkan kematian atau morbiditas dalam kasus cedera yang parah.

Berbeda dari kepercayaan umum, bidang bedah trauma tidak hanya meliputi tindakan bedah. Bahkan, dokter bedah trauma dapat menggunakan metode non-bedah untuk menangani cedera trauma.

Dokter bedah trauma telah sangat terlatih, sehingga mereka dapat segera menangani cedera pada kepala, leher, dada, perut, lengan, tangan, kaki, dan telapak kaki. Salah satu penyebab utama yang menyebabkan pasien dibawa ke bangsal trauma atau UGD adalah trauma muskuloskeletal. Selain itu, ada banyak dokter spesialis yang dapat menangani trauma, misalnya dokter bedah saraf (untuk cedera pada sistem saraf pusat), dokter bedah maksilofasial (untuk cedera pada wajah), dokter bedah kardiotoraks (untuk cedera yang lebih parah pada organ vital di area paru-paru), dokter bedah vaskular (untuk cedera pada arteri dan pembuluh darah), dan dokter bedah plastik (untuk memperbaiki penampilan dari bagian tubuh yang mengalami trauma).

Dalam beberapa kasus, operasi trauma bukanlah operasi pertama dan terakhir yang dijalani oleh pasien. Saat pasien dibawa ke rumah sakit, dokter bedah trauma akan mencoba melakukan resusitasi dan menstabilkan kondisi pasien. Setelah dilakukan pengobatan atau bedah trauma, pasien akan menjalani evaluasi lanjutan dan penanganan cedera agar dapat pulih sepenuhnya.

Pada dasarnya, konsultasi bedah trauma dilakukan karena alasan berikut:

  • Segera menangani cedera yang dapat membahayakan nyawa pasien dan menyelamatkan pasien
  • Memastikan pasien dapat pulih sepenuhnya dengan menggunakan metode pengobatan non-darurat sebagai tindakan lanjutan untuk menangani kerusakan akibat trauma

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Bedah Trauma dan Hasil yang Diharapkan

Semua orang yang mengalami cedera akibat trauma dapat dibawa ke UGD dan langsung melakukan konsultasi dengan dokter bedah trauma. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bidang bedah trauma memiliki banyak spesialisasi. Tergantung pada jenis cedera yang dialami pasien, rumah sakit dapat mengatur agar konsultasi dilakukan oleh dokter yang dapat memberikan penanganan medis yang paling sesuai dengan kondisi pasien. Faktor yang dipertimbangkan adalah tingkat keparahan cedera, serta cedera pada bagian tubuh mana yang paling membahayakan nyawa dan fungsi tubuh pasien.

Hasil yang dapat diharapkan dari konsultasi bedah trauma adalah menyadarkan pasien dan menstabilkan kondisinya sebelum pengobatan atau tindakan lanjutan dapat dilakukan.

Cara Kerja Konsultasi Bedah Trauma

Konsultasi bedah trauma memiliki tiga tujuan, yaitu:

  • Segera mengidentifikasi cedera yang dapat membahayakan nyawa pasien
  • Memulai terapi yang sesuai dan diperlukan oleh pasien
  • Mengatur jenis terapi yang dibutuhkan oleh pasien atau membantu memindahkan pasien ke fasilitas kesehatan lainnya yang dapat memberikan terapi


Ketiga tujuan ini cukup sulit dilakukan karena dalam perawatan dan bedah trauma, tim dokter harus mengambil keputusan dan bertindak dengan cepat.

Setelah dibawa ke UGD, pasien akan menjalani perawatan triage. Perawatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko kematian karena kondisi pasien yang terus memburuk. Setelah kecelakaan, tanda vital pasien dapat terus menurun. Perawatan triage dilakukan dengan memperhatikan tanda vital, usia pasien, dan apakah pasien memiliki penyakit jantung atau paru yang dapat memperparah cederanya.

Apabila pasien mengalami lebih dari satu cedera, tim triage dapat membantu menentukan cedera mana yang harus lebih dulu ditangani. Sebagai contoh, pasien yang saluran pernapasannya terhambat akan diberikan penanganan untuk membuka saluran pernapasan terlebih dahulu. Tergantung pada jenis cedera, tim gawat darurat harus menyesuaikan penanganan dengan tingkat keparahan cedera. Hal ini dilakukan dalam penilaian triage awal.

Setelah penilaian triage awal, dokter bedah trauma dan timnya akan memeriksa pasien untuk mengetahui apakah pasien dapat langsung diberi pengobatan. Ada kemungkinan fasilitas kesehatan tersebut tidak memiliki peralatan yang memadai untuk pengobatan yang dibutuhkan pasien, sehingga dokter hanya dapat menstabilkan kondisinya. Tim trauma akan bekerjasama dengan staf UGD dalam mengolah informasi untuk mengevaluasi dan meresusitasi pasien.

Setelah konsultasi trauma, dokter bedah trauma dapat menentukan apakah pasien perlu menjalani pembedahan atau tindakan non-bedah. Dokter spesialis lain dapat diminta untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien. Pasien juga bisa membutuhkan layanan rumah sakit yang lain, misalnya tes darah dan tes laboratorium, infus, serta pengawasan tanda vital.

Contoh dokter spesialis yang sering menjadi bagian dari tim trauma adalah dokter bedah tulang dan dokter bedah saraf, yang juga dapat melakukan konsultasi. Apabila terkena cedera yang serius pada sistem saraf pusat, pasien harus melakukan konsultasi dengan dokter bedah saraf sejak dini.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Bedah Trauma

Salah satu hal yang harus segera diminimalisir dalam konsultasi bedah trauma adalah risiko dan komplikasi. Dokter bedah trauma sering harus mempertimbangkan kemungkinan risiko dan komplikasi yang dapat terjadi dalam proses penyelamatan nyawa pasien. Apabila bedah trauma tidak segera dilakukan, pasien dapat terkena berbagai gangguan seperti amputasi dan organ tubuh yang berhenti bekerja. Bahkan dalam beberapa kasus, keterlambatan melakukan bedah trauma dapat menyebabkan kematian.

Rujukan:

  • American Association for the Surgery of Trauma
  • National Foundation for Trauma Care
Bagikan informasi ini: