Apa itu Konsultasi Bedah Rekonstruktif

Konsultasi bedah rekonstruktif adalah janji temu antara dokter bedah plastik, yang biasanya dilakukan sebelum dan setelah tindakan pembedahan dilakukan.

Bedah rekonstruktif berbeda dengan bedah kosmetik, walaupun keduanya saling berhubungan. Perbedaannya, bedah rekonstruktif bertujuan meningkatkan dan mengembalikan fungsi tubuh yang rusak. Sementara, bedah kosmetik hanya bertujuan meningkatkan penampilan. Tapi, keduanya termasuk dalam kategori bedah plastik, termasuk bedah tangan, pengendalian gangguan, dan bedah trauma.

Dalam beberapa kasus, keduanya dapat dilakukan bersamaan tergantung kondisi dan tujuan pasien. Misalnya, pasien dengan kanker payudara kehilangan jaringan payudaranya karena menjalani mastektomi. Lalu, ia menjalani bedah rekonstruktif untuk membentuk payudara baru. Setelah itu, dokter ingin meningkatkan penampilan payudara baru tersebut, agar tidak terlihat kendur atau tidak proporsional dengan bagian tubuh lainnya.

Bedah rekonstruktif adalah tindakan kompleks, sehingga hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pengalaman bertahun-tahun di bidang bedah plastik dan telah mendapatkan sertifikasi dari dewan. Untuk menjadi dokter spesialis bedah rekonstruktif, paling tidak harus menyelesaikan sekolah kedokteran selama empat tahun dan menjalani residensi selama lima tahun, di mana seorang dokter harus menghadapi berbagai macam jenis pembedahan. Lalu, mengambil spesialisasi bedah plastik selama tiga tahun dan melanjutkan spesialisasi ke bedah rekonstruktif selama lima tahun.

Pasien yang menderita penyakit – Beberapa penyakit tertentu dapat menyebabkan kecacatan pada bagian tubuh. Salah satunya adalah kanker, yang dapat berkembang menjadi tumor. Sehingga, harus diangkat agar tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Dokter bedah seringkali harus mengangkat bagian yang terkena kanker seperti payudara, lengan, atau kaki. Misalnya, kanker kulit yang cukup parah dapat meninggalkan bekas bopeng pada kulit, saat jaringan kanker diangkat.

Pasien yang mengalami cedera – Cedera tertentu dapat menyebabkan kecacatan. Misalnya luka bakar di mana kulit mengendur dan menyusut. Tujuan dari bedah rekonstruktif dalam kasus ini adalah membawa kulit baru ke bagian yang terbakar dan mengembalikan elastisitas yang dibutuhkan kulit, sehingga otot-otot dapat bergerak seperti semestinya. Teknik yang paling sering digunakan oleh dokter bedah adalah pencangkokan. Dalam teknik ini, kulit yang sehat dari bagian tubuh lain diangkat dan dipasang pada bagian yang rusak karena cedera.

Mereka yang memiliki cacat bawaan – Bedah konstruktif sangat membantu bagi mereka yang terlahir dengan cacat fisik. Ada beberapa tindakan bedah rekonstruktif yang bisa dilakukan pada anak-anak dan bayi yang baru lahir. Salah satu contoh tindakan perbaikan [bibir sumbing] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/bibir-sumbing), yang dapat menyebabkan kesulitan berbicara, jika tidak diperbaiki sesegera mungkin.

Bedah rekonstruktif memberikan banyak manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan kepercayaan diri
  • Meningkatkan kemampuan bergerak
  • Memungkinkan pasien mendapatkan kembali kehidupan normal
  • Membantu pasien lebih mandiri
  • Membantu pasien menangani kondisi dengan lebih efektif

Cara Kerja Konsultasi Bedah Rekonstruktif

Konsultasi bedah rekonstruktif di bagi dalam dua tahapan: sebelum dan sesudah bedah. Pada tahap pra-bedah, dokter utama atau spesialias lain akan merekomendasikan pasien ke dokter bedah rekonstruktif. Misalnya, ahli onkologi merujuk pasien kanker payudara ke dokter bedah rekonstruktif untuk merekonstruksi payudara setelah menjalani mastektomi. Pasien dapat menjadwalkan janji temu dengan dokter bedah, baik di rumah sakit maupun klinik.

Selama janji temu, dokter bedah akan mengulas riwayat kesehatan pasien dan kondisi kesehatan secara umum. Klinik yang menawarkan bedah rekonstruktif juga, memberikan evaluasi kesehatan mental untuk memastikan pasien dalam keadaan pikiran yang sehat dan menerima apapun hasil pembedahannya.

Lalu, ahli bedah akan menilai apakah pasien merupakan kandidat yang tepat untuk bedah rekonstruktif. Jika tepat, maka dokter akan mendiskusikan teknik yang akan digunakan dan persiapan yang dibutuhkan sebelum pembedahan. Rincian lainnya juga akan didiskusikan termasuk biaya, resiko, komplikasi, dan perawatan pasca-bedah. Jika pasien bukan kandidat yang tepat, dokter akan memberikan panduan untuk menjadi kandidat yang ideal ke depannya.

Pada tahap pasca-bedah, hasil bedah menjadi kekhawatiran utama. Pada 24 jam pertama, dokter bedah akan memantau organ vital dan fungsi bagian tubuh yang dibedah serta bagian lainnya. Ia juga memberikan instruksi detail mengenai perawatan pasca-bedah, termasuk obat-obatan yang harus dikonsumsi, cara merawat luka, dan menangani infeksi. Dokter bedah akan melakukan tindakan lanjutan dalam waktu bulanan atau tahun. Lamanya tergantung bagaimana pasien merespon tindakan bedah dan hasilnya.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Bedah Rekonstruktif

Konsultasi dilakukan untuk menilai apakah pasien merupakan kandidat yang tepat untuk menjalani prosedur pembedahan. Ini berarti dokter dapat memutuskan untuk menunda atau menolak keinginan pasien menjalani bedah rekonstruktif. Banyak faktor yang dapat memengaruhi keputusan ini, termasuk kondisi kesehatan pasien, keadaan pikiran pasien, luas area yang terkena penyakit atau cedera, umum, tingkat keperluan, dan sudah berapa kali pasien menjalani bedah plastik.

Kadang kondisi mental pasien menyulitkan dokter dalam melakukan konsultasi. Banyak dari pasien tidak ingin menunjukkan kondisi cacatnya, karena takut dicela dan dikritisi oleh dokter. Sehingga, penting bagi pasien untuk memilih dokter yang tidak hanya bisa melakukan bedah rekonstruktif, tapi juga sopan dan enak diajak berbicara.

Rujukan:

  • American Society of Plastic Surgeons
Bagikan informasi ini: