Apa itu Konsultasi Bedah Kraniofasial?

Bedah kraniofasial adalah bedah plastik yang berfokus pada tulang kepala dan tulang wajah. Bedah ini biasanya dilakukan untuk memperbaiki cacat bawaan atau yang diperoleh, kelainan bentuk pada kepala leher, wajah, tengkorak, dan bagian terkait lainnya. Biasanya ada beberapa bagian yang terlibat dalam pembedahan ini, sehingga tim dokter diperlukan. Terdiri dari spesialis bedah saraf, spesialis bedah plastik (untuk kulit dan wajah), serta spesialis beda kepala dan leher.

Bedah kraniofasial memerlukan teknik yang luar biasa karena kerumitannya. Selain itu, persiapan yang cukup juga diperlukan, baik oleh dokter maupun pasien. Konsultasi dengan tim ahli bedah perlu dilakukan seminggu sebelum pembedahan untuk mempersiapkan tubuh pasien. Selama konsultasi, pasien juga akan mendapatkan informasi rinci tentang prosedur terutama kemungkinan hasil, risiko dan manfaat serta teknik dan jenis anestesi yang akan digunakan.

Namun, konsultasi ini hanya langkah pertama dari serangkaian proses panjang yang perlu dijalani sebelum pembedahan.

Pada kasus pasien anak, konsultasi ini menjadi kesempatan bagi orang tua atau wali untuk mengajukan pertanyaan atau lebih memahami prosedur dan bagaimana mereka dapat membantu sehingga risiko dan komplikasi terkait dapat diminimalkan atau dihindari. Dengan begitu, kekhawatiran orang tua atau wali bisa berkurang.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Bedah Kraniofasial dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi bedah kraniofasial tidak hanya bagi dewasa, tetapi juga anak-anak yang memiliki cacat bawaan atau diperoleh di daerah kepala serta wajah (seperti yang disebabkan oleh pengobatan kanker) dan cacat traumatis. Dalam kasus pasien anak atau di bawah umur, konsultasi harus dihadiri oleh setidaknya salah satu orang tua atau wali.

Bedah kraniofasial biasanya dianjurkan sebagai metode pengobatan bagi kondisi-kondisi, di bawah ini:

  • Craniosynostosis – Kondisi di mana sambungan tulang kepala menutup terlalu dini, sehingga kepala penderitanya lebih kecil daripada normal. Kondisi ini berkembang sejak penderita masih di dalam kandungan. Padahal seharusnya sambungan penutup kepala terjadi, saat seseorang berusia enam bulan hingga dewasa. Craniosynostosis dapat menyebabkan masalah fungsional seperti keterlambatan perkembangan dan gangguan penglihatan.

  • Bibir dan langit-langit mulut sumbing - Ini adalah kondisi bawaan yang berkembang pada tahap awal kehamilan. Bibir sumbing terbentuk karena jumlah jaringan pada daerah bibir dan mulut tidak memadai, sementara sumbing pada langit-langit mulut terjadi karena terbelahnya langit-langit mulut.

  • Mikrotia - Ini adalah kelainan bawaan pada telinga bagian luar ditandai karena perkembangan daun telingan yang lambat.

  • Sindrom kraniofasial lain seperti Goldenhar, Velocardiofacial dan sindrom Treacher-Collins
  • Cacat telinga parah

Cara Kerja Bedah Kraniofasial

Konsultasi bedah kraniofasial dijadwalkan ketika penyedia layanan kesehatan primer pasien telah menyimpulkan bahwa prosedur bedah adalah satu-satunya pilihan pengobatan yang bisa dilakukan, biasanya anak-anak. pasien, bersama dengan orang tua, kemudian akan dirujuk ke dokter bedah kraniofasial.

Seperti disebutkan di atas, jenis operasi ini membutuhkan persiapan untuk memastikan keberhasilan operasi dan keselamatan pasien, kurang lebih selama beberapa minggu. Selama konsultasi awal, spesialis bedah akan melakukan wawancara untuk memahami riwayat medis pasien dan keluarganya, melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan melakukan tes dan prosedur, termasuk:

  • CT dan MRI scan – Keduanya digunakan untuk memindai otak dan tengkorak untuk memastikan ada atau tidaknya kelainan. Pada anak-anak yang sangat muda, pemindaian ini dilakukan di bawah bius total karena sangat penting menjaga mereka tetap diam selama prosedur. Setiap gerakan dapat memengaruhi hasil dari pemindaian.
  • Pengujian genetik - Jika spesialis bedah mencurigai bahwa kelainan tersebut disebabkan oleh cacat genetik atau sindrom herediter, pengujian genetik akan dilakukan. Tes jenis ini membutuhkan sampel darah yang dikirim ke laboratorium untuk analisis.
  • Tes darah - Pasien yang menjalani bedah kraniofasial mungkin memerlukan transfusi darah selama operasi. Tes darah dilakukan untuk menentukan jenis darah pasien sehingga dapat ditemukan kecocokan, pada darah dari bank atau donor.
    Setelah semua tes telah dilakukan, spesialis bedah bersama dengan tim spesialis dari berbagai disiplin termasuk THT, plastik dan [ahli bedah mulut dan maksilofasial] (https://www.docdoc.com/info/specialty/dokter-bedah-mulut-rahang-dan-wajah), akan merumuskan rencana bedah terbaik, dengan mempertimbangkan kondisi dan keadaan pasien.

Dokter bedah juga dapat merujukan pasien ke spesialis lain seperti dokter mata, tergantung pada diagnosis awal. Dalam kasus tertentu, pasien dengan kelainan bentuk tengkorak mengalami peningkatan tekanan di dalam otak mereka yang mempengaruhi perkembangan mata. Hal tersebut perlu dievalusasi sebelum prosedur bedah dapat dilakukan. Sehingga kemungkinan resiko dan komplikasi dapat diidentifikasi dan diminimalkan.

Selama konsultasi, pasien atau orang tua mereka juga akan diberitahu tentang prosedur secara spesifik. Mereka akan diberitahu bahwa bius total akan digunakan (seperti, konsultasi dengan spesialis anestesi juga penting), bahwa pembedahan dapat berlangsung setidaknya delapan jam dan bahwa pasien akan diminta untuk tinggal di rumah sakit selama setidaknya tiga hari.

Beberapa minggu sebelum operasi, spesialis bedah mungkin meresepkan terapi dan suplemen untuk meningkatkan sel-sel darah merah pasien sehingga kebutuhan untuk transfusi darah selama operasi dapat diminimalkan dan juga memastikan bahwa pasien akan sembuh dan pulih secepat mungkin.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Bedah Kraniofasial

Seperti tindakan bedah lainnya, bedah kraniofasial juga memiliki beberapa resiko dan komplikasi, seperti: * Kehilangan darah * Infeksi * Masalah penggumpalan darah * Masalah pernapasan * Kerusakan saraf atau otak * Hilangkan cangkokan tulang (parsial atau penuh) * Luka permanen

Rujukan * Baker SR. Reconstruction of facial defects. In: Flint PW, Haughey BH, Lund V, et al., eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2015:chap 24.

  • McGrath MH, Pomerantz J. Plastic surgery. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 69.
Bagikan informasi ini: