Apa itu Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang?

Konsultasi transplantasi sumsum tulang adalah diskusi antara pasien dan dokter spesialis hematologi-onkologi sebelum prosedur transplantasi.

Sumsum tulang adalah jaringan lemak yang lembut dalam tulang, terutama pada tulang kaki dan pinggang. Walaupun sumsum tulang dapat membantu sistem pernapasan, namun salah satu fungsi utamanya adalah menghasilkan sel darah. Setelah diedarkan ke seluruh tubuh, sel darah lama-kelamaan akan mati dan digantikan oleh sel yang belum matang.

Jika sel darah tidak matang dan sumsum tulang tetap menghasilkan sel darah yang baru dan belum matang, sistem imun tubuh akan melemah akibat jumlah sel belum matang yang terlalu banyak.

Transplantasi sumsum tulang akan dipertimbangkan apabila kelainan darah sudah parah dan tidak dapat diatasi dengan metode lain, seperti obat-obatan atau kemoterapi. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa prosedur ini dapat membantu mengatasi penyakit peradangan usus.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang dan Hasil yang Diharapkan

Orang yang membutuhkan konsultasi transplantasi sumsum tulang dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu:

Pasien

Konsultasi ini biasanya bertujuan untuk menentukan apakah pasien (anak atau dewasa) dapat menjalani transplantasi. Apabila pasien dinyatakan layak untuk transplantasi, dokter akan menentukan jenis transplantasi terbaik dengan mempertimbangkan usia, gaya hidup, kesehatan, penyakit, dan genetik atau riwayat kesehatan keluarga. Pilihan yang tersedia adalah (1) autologus (sel induk diambil dari pasien), (2) alogenik (sel induk diambil dari donor) dan (3) sel induk diambil dari tali pusat anak.

Dokter juga akan membicarakan kemungkinan resiko dan komplikasi dari transplantasi. Walaupun prosedur ini sangat bermanfaat, namun belum tentu pasien dapat sembuh sepenuhnya. Bahkan, ada kemungkinan transplantasi ini gagal total. Transplantasi ini juga dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit graft-versus-host (GVHD), di mana sel yang baru dicangkok menimbulkan kerusakan pada tubuh. Faktor resiko lain adalah infeksi, alergi, sakit kepala, pusing dan mual. Beberapa pasien juga dapat mengalami kesulitan bernapas dan makan, serta gangguan kesuburan.

Donor

Donor akan dibutuhkan untuk transplantasi alogenik. Pasien dapat mencari donor sendiri, atau meminta bantuan dari organisasi donor sumsum tulang. Banyak pasien yang mendapatkan donor dari saudara dan anggota keluarga inti. Pendonor juga perlu menjalani konsultasi, karena prosedur transplantasi juga dapat menyebabkan efek samping pada mereka.

Perawat

Setelah transplantasi sumsum tulang, pasien biasanya baru bisa pulih sepenuhnya dalam satu tahun dan perlu menjalani perawatan lanjutan selama setidaknya lima tahun. Selama masa pemulihan, pasien perlu dirawat oleh anggota keluarga, saudara, pasangan, atau teman. Perawat pasien sebaiknya juga mengikuti konsultasi ini supaya mereka mengetahui hal yang dapat terjadi dan cara merawat pasien dengan baik.

Cara Kerja Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang

Konsultasi ini membutuhkan banyak sesi dan proses. Langkah pertama adalah menentukan apakah pasien dapat menjalani transplantasi. Jika iya, pasien akan dirujuk ke program transplantasi di rumah sakit tersebut.

Dalam program transplantasi, pasien dan dokter akan membahas:

  • Tes pra-transplantasi, termasuk skrining penyakit menular, pemeriksaan fungsi organ, rontgen dada dan pemindaian seperti PET dan CT scan.
  • Proses transplantasi
  • Persiapan transplantasi
  • Biaya
  • Kemungkinan resiko dan komplikasi
  • Hasil yang dapat diharapkan


Apabila pasien akan menjalani transplantasi alogenik, donor akan diperiksa apakah sumsum tulangnya sesuai dengan pasien. Donor juga akan menjalani beberapa uji kesehatan. Apabila tidak ada anggota keluarga inti, saudara, dan teman yang dapat menjadi donor, pasien akan dibantu oleh koordinator dari program transplantasi untuk mencari donor di daftar donor sumsum tulang.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang

Walaupun konsultasi bertujuan untuk membantu pasien yang menginginkan transplantasi, namun ada kemungkinan pasien justru dinyatakan tidak layak untuk menjalani transplantasi. Hal ini dapat menyebabkan pasien frustrasi dan kecewa. Pasien yang penyakitnya sudah parah mungkin tidak dapat bepergian untuk mengikuti konsultasi ini, apalagi menjalani pemeriksaan. Selain itu, program transplantasi tidak tersedia di semua rumah sakit. Hal ini dapat menyulitkan pasien yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bepergian dan akomodasi saat berkonsultasi.

Rujukan:

  • Bashir Q, Champlin R. Hematopoietic stem cell transplantation. In: Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, et al., eds. Abeloff's Clinical Oncology. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2013:chap 30.

  • Heslop HE. Overview of hematopoietic stem cell transplantation. In: Hoffman R, Benz EJ Jr, Silberstein LE, Heslop HE, Weitz JI, Anastasi JI, eds. Hematology: Basic Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 104.

Bagikan informasi ini: