Apa itu Konsultasi Gangguan Tidur?

Konsultasi pengobatan insomnia adalah janji temu dengan dokter spesialis gangguan tidur untuk mendiagnosa dan mengobati beragam kondisi gangguan tidur. Konsultasi ini dianjurkan bagi mereka yang mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak atau dicurigai memiliki gangguan tidur. Pada akhir janji temu, pasien akan mendapatkan gambaran jelas tentang kondisi yang dialaminya, penyebabnya, dan pilihan pengobatan yang tersedia.

Dalam konsultasi gangguan tidur, dokter akan mengulas riwayat kesehatan pasien yang diikuti dengan pemeriksaan fisik. Dokter spesialis gangguan tidur juga akan meminta pasien menjalani tes khusus, seperti evaluasi tidur yang mengharuskan pasien untuk menginap semalam di klinik.

Agar konsultasinya efektif, pasien harus terbuka kepada dokter mengenai masalah dan kekhawatiran yang dimiliknya, serta berkenan menjalani tes-tes yang dianjurkan. Saat konsultasi, pasien juga memiliki kesempatan untuk bertanya, terutama tentang pilihan pengobatan yang tersedia.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Gangguan Tidur & Hasil yang Diharapkan

Konsultasi gangguan tidur sangat dianjurkan bagi mereka yang mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak dan masalah lainnya, yang bisa jadi merupakan gejala dari gangguan tidur yang sudah ada. Beberapa jenis gangguan tidur, termasuk:

  • Insomnia – Suatu gangguan yang dikarakterisasikan dengan kebiasaan tidak tidur atau kesulitan untuk tertidur.
  • Narkolepsi - Gangguan otak kronis yang membuat seseorang kesulitan mengendalikan kantuk. Akibatnya, pada siang hari orang tersebut merasa sangat mengantuk secara tiba-tiba, dan tidak bisa tetap terjaga.
  • Restless Legs Syndrome – Memiliki sebutan lain, yaitu Willis-Ekborne atau sindrom Wittmaack-Ekborn. Ini merupakan gangguan saraf yang disebabkan oleh sensasi tidak nyaman pada kaki yang menganggu tidur seseorang.
  • Apnea Tidur – Ini adalah gangguan tidur paling serius, di mana seseorang mendapatkan hambatan pernapasan atau berhenti bernapas saat tidur.
  • Gangguan Ritme Circardian – Terdiri dari beberapa gangguan tidur yang memengaruhi durasi saat tidur dan membuat seseorang tidak dapat tidur atau sulit bangun di waktu normal. Sehingga, menganggu aktivitas normal seperti bekerja.
  • Gangguan Perilaku Tidur REM – Gangguan ini dapat memengaruhi seseorang pada tahapan REM. Sehingga, orang tersebut bertingkah tidak menyenangkan atau merasa mimpinya menjadi nyata.


Jika seseorang mengalami gejala-gejala di bawah ini, maka ia harus segera menjadwalkan konsultasi gangguan tidur.

  • Sulit untuk tertidur
  • Tidur tidak pulas
  • Sulit untuk bangun, misalnya tertidur di tengah aktivitas seperti mengemudi atau menghadiri rapat
  • Bangun tidur dan merasa sangat lelah dan lesu, meskipun sudah tidur paling tidak tujuh jam
  • Jadwal tidur tidak menentu
  • Mendengkur secara berlebihan
  • Night terrors
  • Tidur berjalan
  • Kelumpuhan tidur
  • Tercekik dan terengah-engah saat tidur
  • Sulit bernapas dan berhenti bernapasa tanpa disengaja


Penting bagi mereka yang memiliki faktor resiko di bawah, untuk menjadwalkan konsultasi gangguan tidur, di antaranya:

  • Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan
  • Telah berusia paruh baya atau berusia lanjut (lebih dari 40 tahun untuk pria dan lebih dari 50 tahun untuk wanita)
  • Memiliki lemak leher yang cukup banyak atau besar
  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
  • Memiliki keluarga dengan masalah gangguan tidur


Gangguan tidur sulit didiagnosa karena dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti stres, masalah emosional, efek samping obat-obatan, konsumsi alkohol dan kafein.

Cara Kerja Konsultasi Gangguan Tidur

Konsultasi gangguan tidur dilakukan oleh spesialis gangguan tidur di kantornya, baik di klinik maupun rumah sakit. Atau, dapat dilakukan di pusat pengobatan gangguan tidur dengan bantuan tim spesialis yang berfokus menyediakan diagnosis dan pengobatan bagi penderita masalah serta gangguan tidur.

Konsultasi awal dimulai dengan mengulas riwayat kesehatan pasien, untuk mencari tahu adakah masalah kesehatan yang berhubungan dengan gangguan tidur. Lalu, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara umum.

Selanjutnya, dokter akan mulai menanyakan beberapa pertanyaan pada pasien tentang gejala yang dialami, dan pasien akan diberikan kesempatan untuk membicarakan tentang kekhawatiran yang dirasakan. Jika pasien sudah pernaj menjalani konsultasi atau pengobatan, obat-obatan yang dikonsumsi akan dicatat dan hasil dari evaluasi tidur sebelumnya akan diberikan kepada dokter.

Untuk mendapatkan hasil diagnosis yang konklusif, dokter perlu melakukan beberapa tes, seperti:

  • Evaluasi tidur semalaman
  • Evaluasi tidur siang hari
  • Evaluasi tidur di rumah
  • Jurnal tidur
  • Actigraphy
  • Penelitian terapeutik, seperti polysomnogram
  • Oksimetri semalaman
  • Multiple sleep latency test


Jika hasil tes telah keluar, dokter dapat memberikan diagnosis serta rekomendasi pengobatan yang dianggap sesuai.

Pengobatan gangguan tidur beragam tergantung pada penyebabnya. Selain spesialis gangguan tidur, beberapa ahli lainnya membantu melakukan diagnosa dan mengobati kondisi. Seperti psikolog, psikiater, ahli saraf, ahli bedah, dokter gigi, spesialis pulmonologi, dan spesialis medis lainnya.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Gangguan Tidur

Evaluasi tidur umumnya aman, non-invasif, dan tidak menyakitkan. Malahan, tindakan ini sangat sederhana seperti menggunakan alat monitoring lainnya atau tidur di laboratorium dalam semalam untuk dipantau. Sehingga, hanya sedikit bahkan tidak ada resiko atau komplikasi yang dapat terjadi karena menjalani evaluasi tidur.

Satu-satunya efek samping yang mungkin muncul adalah iritasi kulit yang disebabkan oleh bahan perekat yang digunakan untuk menempelkan alat monitoring di tubuh pasien. Iritasi ini akan segera hilang, setelah alat monitoring dilepaskan.

Sehingga, tidak ada alasan yang dapat membuat Anda ragu untuk menjalani konsultasi gangguan tidur. Malah, jika Anda membatalkan atau menunda-nunda evaluasi ini, Anda memiliki resiko menderita penyakit lain yang disebabkan oleh gangguan tidur yang didiamkan dan tidak diobati, seperti:

  • Kelelahan di siang hari
  • Masalah pada jantung
  • Masalah pada hati
  • Hipertensi
  • Diabetes tipe 2
  • Sindrom metabolisme
  • Sakit kepala
  • Impotensi
  • Lekas marah
  • Depresi
  • Defisiensi ingatan
  • Sulit belajar
  • Hubungan menjadi tegang dengan pasangan


Ada masalah yang mungkin dihadapi pasien saat evaluasi tidur yaitu sulit untuk tertidur. Padahal untuk mengidentifikasi gangguan tidur yang dialami pasien, dokter perlu melakukan observasi saat pasien terlelap. Biasanya dokter menyarankan pasien untuk menghindari tidur siang agar cepat terlelap.

Rujukan:

  • Qaseem A, Holty JE, Owens DK, Dallas P, Starkey M, Shekelle P; for the Clinical Guidelines Committee of the American College of Physicians. Management of Obstructive Sleep Apnea in Adults: A Clinical Practice Guideline From the American College of Physicians. Ann Intern Med. Sep. 24, 2013.

  • Skomro RP, Gjevre J, Reid J, et al. Outcomes of home-based diagnosis and treatment of obstructive sleep apnea. Chest. 2010;138:257-263.

Bagikan informasi ini: