Apa itu Konsultasi Audiologi?

Konsultasi audiologi merupakan langkah pertama untuk mengobati gangguan pendengaran, yang umum terjadi akibat usia atau mungkin juga diakibatkan oleh masalah tertentu yang dapat merusak bagian dalam maupun luar telinga. Ada beragam jenis gangguan pendengaran mulai dari kasus ringan hingga berat. Gangguan pendengaran ringan dapat menyebabkan penderitanya kesulitan untuk mendengarkan suara pelan atau jauh serta kesulitan melakukan obrolan sehari-hari apabila terlalu banyak suara yang mengganggu. Di sisi lain, kasus gangguan pendengaran yang lebih parah dapat menyebabkan penderitanya tuli total, sehingga hanya dapat menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Audiologi dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi audiologi dapat dilakukan apabila pasien mengalami gejala berikut:

  • Sulit mendengar apabila terlalu bising
  • Suara yang terdengar seperti gumaman atau tak jelas
  • Kesulitan mengikuti obrolan
  • Merasa adanya tekanan pada telinga
  • Pusing
  • Mendengar suara aneh atau telinga berdenging
  • Meminta lawan bicara untuk mengulangi percakapan
  • Tidak mampu mendengar suara bernada tinggi seperti suara perempuan dan anak-anak


Pasien yang mengalami masalah pada telinganya dapat melakukan konsultasi dengan dokter spesialis THT yang akan memberikan diagnosis, menangani, dan mengobati gangguan pada telinga, hidung, dan tenggorokan. Jika gangguan pendengaran disebabkan oleh sesuatu yang dapat ditangani melalui pengobatan fisik (seperti gendang telinga berlubang atau tulang telinga bagian dalam yang menyatu), dokter spesialis THT akan menangani kondisi pasien. Namun, apabila pasien tiba-tiba mengalami kehilangan pendengaran dan tidak ada hubungannya dengan tubuh, pasien akan dirujuk kepada ahli audiologi atau audiolog untuk menjalani pemeriksaan audiologi.

Konsultasi audiologi ini akan menunjukkan apakah pasien mengalami gangguan pendengaran atau tidak. Apabila pasien mengalami gangguan pendengaran, ahli audiologi juga akan menjelaskan penyebab dan jenisnya serta seberapa parah gangguan pendengaran yang diderita. Informasi ini nantinya akan menjadi pertimbangan untuk menentukan pilihan pengobatan terbaik bagi pasien.

Cara Kerja Konsultasi Audiologi

Konsultasi audiologi dapat dilakukan di rumah sakit atau klinik yang dilengkapi dengan peralatan untuk melakukan sejumlah tes pendengaran bersifat diagnostik. Konsultasi ini dimulai dengan melakukan wawancara singkat dengan pasien untuk mengetahui gejala dan awal mula gangguan, gaya hidup, kegiatan, serta lingkungan tinggal pasien. Ahli audiologi juga akan memeriksa catatan kesehatan pasien, riwayat keluarga dengan masalah pendengaran dan obat yang dikonsumsi.

Jika ahli audiologi meyakini bahwa pasien mengalami gangguan hilangnya pendengaran, beberapa tes tertentu akan dilakukan sebelum ia membuat diagnosis. Tes ini meliputi:

  • Audiometri nada murni – Tes ini merupakan tes perilaku yang mengukur sensitivitas pendengaran pasien dengan menilai sistem auditori perifer dan pusat pasien. Gangguan pendengaran dapat diukur dalam satuan desibel. Ukuran 0-25 dB menyatakan batas normal. Apabila hasil tes menunjukan angka lebih dari batas normal, pasien dapat dikatakan menderita gangguan pendengaran.
  1. 26-40 - dB menandakan pasien mengalami gangguan pendengaran ringan dan tidak dapat mendengar suara pelan serta memiliki kesulitan mendengar apabila banyak gangguan suara atau bising.
  2. 41-55 dB - menandakan gangguan pendengaran sedang dan gangguan ini dapat memengaruhi perkembangan artikulasi, bahasa, serta interaksi pasien dengan orang lain, yang dapat membuat pasien merasa rendah diri.
  3. 56-70 dB - menandakan gangguan sedang hingga parah yang membuat pasien tidak dapat mendengar suara percakapan dengan orang lain.
  4. 71-90 dB - menandakan gangguan pendengaran parah.
  5. greater than 90 dB - menandakan pasien mengalami gangguan pendengaran total atau tuli total.
  • Tes audiometri bicara – Tes ini dilakukan dengan posisi pasien duduk di dalam bilik suara sambil mengenakan headphone. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur kemampuan pasien mengenali kata-kata yang disebutkan. Ahli audiologi akan mengatakan beberapa kata yang perlu diulang oleh pasien.

  • Tes respon batang otak pendengaran (ABR) – Tes ini dilakukan untuk menilai fungsi telinga bagian dalam dan jalur saraf pada otak yang berhubungan dengan kemampuan pendengaran. Tes ini menggunakan elektroda yang dilekatkan pada kepala pasien untuk merekam seluruh aktivitas gelombang otak saat merespon suara ketika pasien sedang tidur atau beristirahat dengan tenang.

  • Uji emisi otoakustik (OAE) – Tes ini mengukur fungsi sel rambut pada telinga bagian dalam. Tes ini dilakukan dengan memasukkan steker kecil yang akan mengeluarkan beberapa bunyi atau nada ke dalam telinga.

  • Elektrokokleografi trans timpani – Tes ini dilakukan untuk mendiagnosis penyakit, seperti penyakit Meniere, yang dapat menyebabkan masalah pendengaran.

Karena beberapa tes dapat berlangsung hingga 90 menit, ahli audiologi mungkin meminta pasien untuk menjalani konsultasi lebih dari sekali, hingga penyebab hilangnya pendengaran diketahui. Setelah semua prosedur diagnostik selesai, ahli audiologi akan menjelaskan hasilnya. Pilihan pengobatan pasien dapat mencakup penggunaan alat bantu pendengaran, pemberian obat, atau prosedur bedah.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Audiologi

Konsultasi audiologi tidak menimbulkan komplikasi maupun resiko apapun bagi pasien meskipun pasien menjalani beberapa tes diagnostik. Ini karena konsultasi dan semua pemeriksaan diagnostik tersebut tidak invasif.

Rujukan:

  • CDC: "Frequently Asked Questions on General Information on Hearing Loss."
  • National Institute on Deafness and Other Communication Disorders: "Hearing Aids."
Bagikan informasi ini: