Apa itu Konsultasi Diet Hati?

Pasien yang beresiko terkena atau telah menderita penyakit hati akan memerlukan pola makan khusus untuk menjaga kesehatan hati mereka. Maka dari itu, mereka sebaiknya menjadwalkan konsultasi diet hati dengan dokter spesialis gastroenterologi atau spesialis gizi. Konsultasi ini biasanya merupakan bagian dari rencana pengobatan atau penanganan penyakit.

Perubahan pola makan sangatlah penting karena jika hati tidak berfungsi dengan baik atau rusak, maka organ ini tidak mampu memproses protein. Bila hal ini terjadi, jumlah zat sisa yang dihasilkan tubuh akan bertambah dan dapat menyebabkan penimbunan zat sisa yang berbahaya. Namun dengan pola makan yang tepat, pasien dapat menjaga kadar protein untuk mengendalikan penyakit dan mencegah komplikasi yang serius.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Diet Hati dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi diet hati akan bermanfaat bagi orang yang menderita penyakit hati, seperti:

  • Hepatitis A
  • Hepatitis B
  • Hepatitis C
  • Sirosis hati
  • Kanker hati
  • Penimbunan lemak pada hati (fatty liver)
  • Hemokromatosis


Tujuan dari konsultasi diet hati adalah:

  • Mengurangi asupan protein agar tetap seimbang dengan asupan karbohidrat pasien
  • Mengurangi asupan garam untuk mencegah pembengkakan atau retensi cairan dan mengendalikan jumlah cairan tubuh
  • Mengidentifikasi kekurangan gizi serta menentukan apakah pasien membutuhkan vitamin dan suplemen


Selain itu, sebaiknya orang yang beresiko terkena penyakit hati juga mengatur pola makannya. Berikut ini adalah faktor resiko dari penyakit hati:

  • Alkoholisme atau mengonsumsi alkohol secara berkepanjangan atau berlebihan
  • Penggunaan obat terlarang
  • Penggunaan obat tertentu secara berkepanjangan
  • Penyakit autoimun
  • Penyakit menular seksual
  • Penyakit ginjal
  • Gangguan pada saluran empedu
  • Terpapar zat kimia dan racun melalui sentuhan, hirupan, atau tertelan
  • Riwayat penyakit hati dalam keluarga
  • Obesitas
  • Sedang menjalani hemodialisis (cuci darah)
  • Transfusi darah, terutama yang dilakukan sebelum tahun 1972
  • Transplantasi organ tubuh, terutama yang dilakukan sebelum tahun 1992
  • Pernah mengalami infeksi hati akibat virus, yang berujung pada hepatitis A, B, atau C
  • Pernah mengunjungi atau sedang berada di daerah dengan resiko hepatitis A atau B yang tinggi, misalnya Afrika, Karibia, Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Timur Tengah.


Orang yang memiliki faktor resiko tersebut dapat mencegah penyakit hati dengan mengikuti pola makan yang sehat bagi hati.

Cara Kerja Konsultasi Diet Hati

Walaupun spesialis penyakit hati dapat memberikan anjuran pola makan, namun sebaiknya Anda menemui spesialis gizi yang dapat rutin membantu dalam mengatur pola makan. Konsultasi ini dapat dilakukan di kantor atau klinik, karena biasanya tidak memerlukan tes atau prosedur lain. Saat konsultasi, pasien harus membawa semua dokumen penting, termasuk hasil tes lab. Dengan begitu, spesialis gizi dapat menganjurkan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Langkah pertama saat konsultasi adalah memeriksa kondisi pasien untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit. Hal ini dilakukan karena kondisi hati dapat menentukan perubahan pola makan yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Setelah itu, dokter atau spesialis gizi akan memberikan rencana pengaturan gizi.

Faktor yang paling penting dari pola makan yang menyehatkan hati adalah:

  • Asupan protein. Idealnya, pasien hanya boleh mengonsumsi 1 gram protein untuk setiap kilogram dari berat badannya. Sumber protein juga harus diseleksi. Kacang-kacangan, ikan, dan unggas memiliki kadar protein yang lebih rendah daripada daging merah dan seafood mentah, sehingga dapat memberikan protein yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

  • Asupan garam. Supaya tubuh tidak menyimpan terlalu banyak cairan, pasien tidak boleh mengonsumsi lebih dari 1500 mg garam setiap hari.


Karena jumlah protein harus dikurangi, pola makan yang ideal kebanyakan akan mengandung:

  • Karbohidrat. Karbohidrat adalah sumber utama kalori bagi pasien

  • Lemak. Lemak dapat membantu menguraikan protein, sehingga pasien harus tetap mengonsumsi makanan yang mengandung lemak, namun tidak berlebihan.

Sebaiknya pasien mengikuti pola makan yang berbasis tanaman, atau sebagian besar terdiri dari buah dan sayuran.

Selain itu, pasien dapat membutuhkan suplemen vitamin, terutama vitamin B kompleks dan vitamin yang memperkuat sistem kekebalan tubuh serta melindungi tubuh dari infeksi.

Selain perubahan pola makan, spesialis gizi juga dapat menyarankan pasien untuk mengubah pola hidup. Karena alkohol dapat merusak hati, sebaiknya pasien sama sekali tidak mengonsumsi alkohol. Selain itu, hati juga berfungsi untuk memproses obat, sehingga pasien harus berhati-hati dalam menggunakan obat tanpa resep dokter. Jika sangat dibutuhkan, pasien dapat mengonsumsi obat tersebut, namun dalam dosis rendah.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Konsultasi Diet Hati

Sebaiknya konsultasi diet hati dilakukan dengan spesialis gizi yang terdaftar, yang dapat bekerja sama dengan dokter pasien untuk memberikan pola makan yang sehat.

Jika tidak memiliki pola makan yang sehat, hati akan semakin rusak dan penyakit hati akan semakin cepat berkembang. Sedangkan orang yang memiliki faktor resiko akan semakin beresiko terkena penyakit hati.

Selain itu, pasien sangat disarankan untuk berhati-hati dalam mengonsumsi suplemen herbal dan obat alternatif tanpa bimbingan ahli medis. Beberapa produk kesehatan ini resikonya lebih besar dari manfaatnya, terutama jika tidak disesuaikan dengan rencana pengobatan atau pola makan. Intinya, produk ini dapat menyebabkan komplikasi akibat interaksi obat dan gizi yang tidak seimbang. Selain itu, sampai saat ini belum ada bukti yang kuat bahwa suplemen herbal dan obat alternatif dapat menolong penderita penyakit hati.

Rujukan:

  • American Liver Foundation: "Liver Health and Wellness."
  • Bravi F. Hepatology, published online June 19, 2007.
Bagikan informasi ini: