Apa itu Konsultasi Uveitis?

Uveitis adalah peradangan pada uvea mata, yang terdiri dari koroid, tubuh siliari, dan iris. Kondisi ini dapat merusak jaringan, saraf, dan pembuluh darah yang mengedarkan darah serta nutrisi ke seluruh bagian mata. Dalam kasus yang parah, uveitis dapat menyebabkan kebutaan. Di Amerika Serikat, ada setidaknya 300.000 orang yang berisiko terkena uveitis. 10% di antaranya lama-lama kelamaan dapat menjadi buta, sehingga penyakit ini dianggap sebagai penyebab utama dari kebutaan.

Walaupun uveitis tidak dapat dicegah, konsultasi dengan dokter spesialis mata oftalmologi dapat memastikan bahwa pasien akan segera ditangani dan risiko kambuhnya uveitis dapat berkurang.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Uveitis dan Hasil yang Diharapkan

Ada beberapa orang dengan faktor risiko, yang dianjurkan untuk melakukan konsultasi uveitis. Yaitu:

  • Didiagnosis dengan penyakit autoimun – Beberapa ahli menyatakan bahwa uveitis adalah penyakit autoimun, yang berarti sel darah putih di tubuh akan menyerang jaringan dan organ tubuh seperti saat menyerang virus dan bakteri. Walaupun ada banyak studi yang mempelajari penyakit autoimun, namun penyebab pasti dari penyakit ini belum diketahui. Hal ini berarti penyebab uveitis menjadi penyakit autoimun juga belum diketahui. Akan tetapi, mereka yang sudah didiagnosis dengan penyakit autoimun akan lebih rentan terhadap uveitis.

  • Berusia muda – Salah satu faktor risiko dari uveitis adalah usia. Walaupun dapat terjadi pada segala usia, namun penyakit ini lebih banyak diderita oleh remaja.

  • Cedera mata – Pasien dengan cedera pada mata juga dianggap lebih berisiko terkena uveitis. Namun, belum diketahui mengapa cedera mata meningkatkan risiko uveitis.

  • Didiagnosis dengan virus – Ada virus tertentu yang menyebabkan penyakit peradangan, termasuk herpes simplex dan virus yang menyebabkan gondong atau cacar ular.

  • Merokok – Studi menunjukkan bahwa merokok sangat berkaitan dengan uveitis. Menurut studi, merokok cenderung menyebabkan peradangan pada pembuluh darah.


Hal-hal di bawah ini dapat dicapai, jika pasien menjalani konsultasi uveitis. Antara lain:

  • Memastikan bahwa uveitis diobati dan ditangani dengan tepat waktu
  • Mendeteksi peradangan sebelum bertambah parah dan menyebabkan kerusakan pada bagian mata
  • Mengurangi risiko komplikasi dari uveitis, misalnya glukoma atau kerusakan permanen pada saraf mata. Uveitis juga dikaitkan dengan ablasi retina, katarak, retina dan kornea yang keruh, yang dapat sangat mengurangi penglihatan pusat dan periferal mata
  • Mengawasi perkembangan penyakit dan pengobatan
  • Mengurangi atau mencegah efek samping dari pengobatan

Cara Kerja Konsultasi Uveitis

Uveitis dapat terjadi secara mendadak dan harus segera ditangani. Namun, kebanyakan kasus uveitis dikategorikan sebagai kronis. Ini berarti bahwa uveitis telah terjadi selama beberapa tahun (biasanya 3 tahun) sebelum gejalanya mulai terasa.

Dalam konsultasi uveitis, pasien akan menjadwalkan pertemuan dengan dokter mata. Saat konsultasi, dokter akan:

  • Menanyakan tentang keluhan utama pasien
  • Mendapatkan informasi tambahan tentang riwayat kesehatan pasien dan keluarganya Hal ini dilakukan karena ada beberapa studi yang menyatakan uveitis disebabkan oleh faktor genetik
  • Mencatat gejala umum yang berkaitan dengan uveitis, termasuk nyeri pada mata, adanya bintik di kornea, sensitif pada cahaya, mata merah, penglihatan buram, dan kelopak mata yang turun
  • Melakukan berbagai tes untuk memeriksa kesehatan mata, misalnya tes laboratorium dan rontgen
  • Mengawasi efek dari pengobatan – Sejauh ini, pasien uveitis hanya boleh diobati dengan steroid. Steroid bisa didapatkan dalam bentuk tablet atau tetes mata. Steroid disebut sebagai imunosupresan, karena obat ini dapat mengurangi aktivitas dari sistem imun

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Konsultasi Uveitis

Walaupun pasien telah menjalani konsultasi uveitis, tetap ada kemungkinan uveitis akan terjadi lagi. Namun, konsultasi dapat mendeteksi uveitis sejak dini. Dengan begitu, pengobatan dapat segera dilakukan dan mengurangi risiko kerusakan pada mata.

Dokter juga akan sulit untuk mendiagnosis uveitis apabila hanya mengetahui gejalanya saja, karena gejala uveitis mirip dengan gangguan mata lain, misalnya konjungtivitis. Konjungtivitis adalah penyakit yang menyerang membran mukosa yang ada di bagian depan mata. Seperti uveitis, konjungtivitis juga disebabkan oleh virus dan dapat mengakibatkan nyeri pada mata, mata merah, dan mata berair.

Selain itu, pasien mungkin akan keberatan menjalani konsultasi lanjutan yang bertujuan untuk mengawasi perkembangan penyakit. Konsultasi yang harus dilakukan rutin ini dapat memakan banyak waktu dan menyebabkan pasien frustrasi. Maka dari itu, pasien sebaiknya memilih dokter yang nyaman untuk diajak berbicara. Dengan begitu, pasien akan lebih terbuka saat membicarakan gejala dan hal lain yang dirasakan, serta mengikuti instruksi untuk pengobatan.

Rujukan:

  • Goldstein DA, Patel S, Tessler HH. Classification, symptoms, and signs of uveitis. In: Tasman W, Jaeger EA, eds. Duane's Ophthalmology. 2013 ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2012:vol 4, chap 32.

  • Nair UK, Cunningham ET Jr. Uveitis: Diagnostic approach and ancillary analysis. In: Tasman W, Jaeger EA, eds. Duane's Ophthalmology. 2013 ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2012:vol 4, chap 37.

Bagikan informasi ini: