Apa itu Konsultasi Neuropsikiatri?

Neuropsikiatri adalah subspesialisasi dalam ilmu kedokteran dan klinis yang menggabungkan neurologi (kajian dan pengobatan gangguan sistem saraf) dan psikiatri (kajian dan pengobatan gangguan mental). Neuropsikiatri berkaitan dengan masalah fungsi otak pada tingkat yang lebih tinggi yang dapat menyebabkan masalah ketidaknormalan atau kejiwaan. Contohnya, gangguan yang berkaitan dengan kesadaran, emosi, dan perilaku pasien, Selain itu, neuropsikiatri juga mempelajari kelainan perilaku yang dikaitkan atau disebabkan oleh berbagai kondisi neurologis.

Neuropsikiatri (menangani kondisi kejiwaan yang memengaruhi masalah perilaku) dan ahli saraf dan perilaku (menangani masalah perilaku yang disebabkan oleh kondisi kejiwaan) adalah dua istilah yang saat ini digunakan bergantian karena bidang kajian yang saling tumpang tindih. Dokter yang memiliki spesialisasi dalam kedua bidang tersebut (neurologi dan psikiatri) disebut sebagai dokter spesialis neuropsikiatri atau dokter spesialis saraf dan perilaku. Keduanya dapat melakukan konsultasi neuropsikiatri.

Konsultasi neuropsikiatri berawal dengan rujukan dari spesialis saraf, psikiater atau neuropsikolog (dokter dengan gelar PhD dalam bidang Psikologi). Konsultasi ini biasanya melibatkan serangkaian tes dan evaluasi yang berlangsung selama beberapa hari, tergantung pada riwayat kesehatan dan hasil tes kesehatan pasien. Setelah hasilnya didapat, dokter akan memberi diagnosis dan membuat rencana pengobatan. Terkadang, pasien akan dirujuk kembali ke dokter sebelumnya untuk melakukan pengobatan. Namun, pengobatan juga dapat dilakukan oleh spesialis neuropsikiatri dan timnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Neuropsikiatri dan Hasil yang Diharapkan

Neuropsikiatri atau bidang ahli saraf dan perilaku meliputi penanganan berbagai kondisi medis dan klinis. Pasien yang membutuhkan konsultasi neuropsikiatri adalah mereka yang memiliki:

  • Gangguan kognitif atau kesadaran – Gangguan memori, sulit memusatkan perhatian, mudah teralihkan, sulit memecahkan masalah dan kehilangan kemampuan mengendalikan diri

  • Gangguan perilaku atau suasana hati – Contohnya adalah depresi, mudah marah, perilaku tak pantas, apatis, maniak, dan gangguan bipolar

  • Penyakit yang dapat menyebabkan masalah kognitif, perilaku, dan psikosis seperti tumor otak, lupus, epilepsi, cedera otak traumatis, autisme, dan gangguan stres pasca-trauma

  • Kejang yang disertai dengan masalah perilaku, emosional, atau kognitif

  • Gangguan tidur seperti narkolepsi, insomnia, dan apnea tidur yang berhubungan dengan kondisi saraf

  • Gangguan makan seperti bulimia nervosa (makan terlalu sedikit) dan anorexia nervosa (disebabkan oleh kecemasan dan depresi)

  • Penyakit degeneratif seperti demensia, Parkinson, dan Alzheimer yang mengganggu kemampuan mengingat pasien dan sering menyebabkan pikun serta disorientasi

Cara Kerja Konsultasi Neuropsikiatri

Tujuan dari konsultasi neuropsikiatri adalah untuk mengevaluasi pasien dan mendiagnosa kondisinya. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, spesialis neuropsikiatri dapat menganjurkan rencana pengobatan jangka pendek maupun jangka panjang, tergantung pada kasus tiap pasiennya. Konsultasi neuropsikiatri akan disesuaikan dengan kondisi pasien, namun dapat dilakukan dengan cara yang hampir sama, yaitu:

  • Konsultasi neuropsikiatri umumnya dimulai dengan rujukan. Pasien dirujuk oleh spesialis saraf atau spesialis bedah saraf untuk menemui spesialis neuropsikiatri atau spesialis saraf dan perilaku. Klinik yang merujuk pasien akan memberikan informasi dan riwayat kesehatan pasien kepada klinik rujukan. Lalu, kedua klinik ini akan mengatur jadwal konsultasi bagi pasien.

  • Pasien akan diminta untuk mengisi kuesioner kesehatan yang menjelaskan riwayat kesehatannya secara menyeluruh. Pasien juga akan diminta menuliskan gejala yang dirasakan serta tingkat keparahannya.

  • Di klinik, dokter akan mencatat tanda-tanda vital pasien (detak jantung, tekanan darah, dan lainnya) dan biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

  • Pemeriksaan neurologis menyeluruh, wawancara psikiatri, dan pemeriksaan untuk mengetahui status mental pasien akan dilakukan oleh psikiater atau spesialis saraf.

  • Selanjutnya, dokter akan memulai serangkaian tes psikologi dan neurokognitif. Tes ini akan mengevaluasi perasaan, kepribadian, dan pola pikir pasien. Tes ini juga akan mengukur tingkat perhatian, fungsi memori, kemampuan berpikir logis, waktu reaksi, dan lainnya.

  • Spesialis neuropsikiatri dan pasien akan membahas banyak hal, sehingga anggota keluarga maupun pengasuh pasien diperbolehkan dan bahkan dianjurkan untuk ikut berdiskusi.

  • Jika pemeriksaan awal tidak memberikan hasil yang jelas, tes tambahan mungkin dapat dilakukan.

  • Setelah memberikan diagnosis, dokter akan menganjurkan program pengobatan bagi pasien. Dokter dapat merujuk pasien untuk kembali ke dokter yang merujuknya atau pengobatan dapat dilakukan di klinik tersebut. Pada beberapa kasus, pasien mungkin dirujuk ke dokter spesialis yang berbeda, tergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Neuropsikiatri

Konsultasi neuropsikiatri merupakan prosedur non invasif atau sama sekali tidak beresiko. Namun, konsultasi ini dapat melibatkan beberapa tes dan berlangsung lama sehingga dapat melelahkan pasiennya. Konsultasi ini mungkin sulit diikuti oleh beberapa pasien dan hal ini dapat menyebabkan hasil yang tidak akurat, terutama jika pasien merasa terganggu, tertekan, atau lelah selama konsultasi dilakukan.

Rujukan:

  • The International Neuropsychiatric Association
  • The Centre for Neuropsychiatry
Bagikan informasi ini: