Gambaran Umum, Manfaat, dan Hasil yang Diharapkan

Skrining kardiovaskular adalah konsultasi medis dengan berbagai pemeriksaan untuk mengukur atau menilai kesehatan jantung serta faktor resiko yang dapat menyebabkan penyakit jantung.

Sebagai salah satu organ tubuh yang paling penting, jantung berfungsi untuk memompa darah dan mengedarkan nutrisi dan oksigen ke organ dan jaringan tubuh.

Seperti organ tubuh lainnya, jantung tidak kebal terhadap penyakit. Pembuluh darah dan katup jantung dapat menyempit akibat penimbunan plak. Otot jantung dapat menjadi keras, kaku, atau terluka karena terlalu keras memompa darah. Karena perannya yang penting, gangguan jantung dapat menjadi penyakit yang serius atau membahayakan nyawa.

Saat ini, penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian nomor satu di dunia, dengan jumlah korban 17 juta setiap tahunnya. American Heart Association (AHA) menyatakan jika hal ini terus terjadi atau memburuk, jumlah korban dapat mencapai 23 juta setiap tahun pada tahun 2030. Di Amerika Serikat saja, setidaknya ada satu orang yang meninggal setiap 40 detik akibat penyakit kardiovaskular.

Tes skrining bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian dengan mendeteksi gejala penyakit sebelum muncul atau bertambah parah.

Siapa yang Perlu Menjalani Skrining Kardiovaskular dan Hasil yang Diharapkan

Skrining kardiovaskular sangat disarankan bagi orang yang memiliki faktor resiko penyakit kardiovaskular. AHA membedakan faktor ini menjadi dapat diubah dan tidak dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah adalah usia, jenis kelamin, dan genetik. Sedangkan yang termasuk faktor yang dapat diubah adalah:

  • Kadar trigliserida, kolesterol, dan lipid
  • Kadar gula darah (glukosa)
  • Tekanan darah
  • Berat badan dan indeks massa tubuh (IMT)
  • Aktivitas fisik
  • Gaya hidup
  • Kebiasaan seperti merokok
  • Pola makan dan gizi
  • Stres


Berdasarkan faktor tersebut, orang yang sangat beresiko terkena penyakit kardiovaskular adalah mereka yang:

  • Obesitas atau kelebihan berat badan – Ini adalah orang yang lingkar pinggang, rasio pinggang-panggul, dan indeks massa tubuhnya melebihi batas normal
  • Merokok atau mengalami stres kronis
  • Pola makannya buruk
  • Kolesterol dan glukosa tinggi
  • Didiagnosis terkena diabetes, penyakit ginjal, atau hipertensi (tekanan darah tinggi)
  • Pernah terkena stroke
  • Berusia 65 tahun ke atas
  • Keluarganya memiliki riwayat penyakit kardiovaskular
  • Jarang melakukan aktivitas fisik (gaya hidup sedentary)
  • Kurang olahraga
  • Pria


Mereka yang mulai menunjukkan pertanda dan gejala tertentu seperti nyeri dada serta kesulitan bernapas juga perlu menjalani skrining kardiovaskular. Namun jika gejala tersebut disebabkan oleh serangan jantung (infark miokard), pasien harus segera mendapatkan pertolongan darurat.

Hasil yang dapat diharapkan dari skrining kardiovaskular adalah:

  • Diagnosis penyakit kardiovaskular sejak dini
  • Mengawasi kesehatan pasien secara keseluruhan
  • Memberikan informasi atau konseling kepada pasien tentang penanganan dan pengobatan resiko yang lebih efektif
  • Menentukan pilihan pengobatan dan penanganan penyakit yang lebih baik
  • Mendorong pasien untuk lebih aktif dalam menjaga kesehatan jantungnya

Cara Kerja Skrining Kardiovaskular

Walaupun penyakit jantung harus diobati dan ditangani oleh spesialis kardiovaskular, namun skrining ini dapat dilakukan oleh dokter lain. Misalnya, dokter umum dapat melakukan tes glukosa, kolesterol, dan lipid sebagai bagian dari pemeriksaan fisik rutin. Pasien lansia juga dapat diperiksa oleh spesialis geriatri, sedangkan orang yang obesitas dapat berkonsultasi dengan spesialis gizi, pola makan, atau penurunan berat badan. Beberapa tes dapat dilakukan oleh ahli medis tertentu, seperti ahli radiologi atau teknisi medis. Namun, dokter maupun ahli medis mungkin perlu saling membantu untuk lebih memahami kesehatan kardiovaskular pasien.

Sebelum pemeriksaan, pasien harus mengetahui persiapan yang diperlukan. Persiapan ini dapat berupa puasa, berhenti mengonsumsi obat, atau mengenakan baju yang longgar. Pasien yang takut untuk menjalani pemeriksaan sebaiknya ditemani oleh teman atau keluarga.

Tes yang dilakukan kemungkinan bersifat non-invasif (misalnya uji pencitraan) atau minim invasif (misalnya finger prick untuk tes darah). Tergantung pada jumlah tes yang dibutuhkan, pasien dapat diminta untuk menginap di rumah sakit.

AHA menyarankan pasien untuk menjalani tes skrining berikut:

  • Tekanan darah – Sekali setiap 1-2 tahun
  • Berat badan atau IMT – Sekali setiap tahun
  • Kolesterol – Sekali setiap 4-6 tahun
  • Tes gula darah – Sekali setiap 3 tahun
  • Faktor resiko lain – Setiap tahun saat pemeriksaan fisik


Semua tes tersebut sangat ideal bagi pasien yang berusia 20 tahun ke atas, terutama mereka yang memiliki faktor resiko. Kecuali tes gula darah, yang sebaiknya dilakukan saat pasien telah berusia 45 tahun.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien dapat dirujuk ke spesialis kardiovaskular, yang akan mengobati atau menangani gejala atau penyakit, memberitahu cara mengurangi atau membatasi resiko, serta membantu pasien untuk beradaptasi dengan penyakit atau gejalanya.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Skrining Kardiovaskular

Tes skrining bukanlah prosedur yang wajib, yang berarti pasien boleh memilih untuk menjalani tes ini atau tidak. Namun bila orang yang sangat beresiko terkena penyakit kardiovaskular memilih tidak menjalani skrining, hal ini dapat menyebabkan penyakit terlambat didiagnosis.

Rujukan:

  • What is a cardiovascular disease? American Heart Association Web site. http://www.heart.org/HEARTORG/Caregiver/Resources/WhatisCardiovascularDisease/What-is-Cardiovascular-DiseaseUCM301852_Article.jsp. Updated December 28, 2011. Accessed April 9, 2014.
Bagikan informasi ini: