Apa itu Labirintektomi?

Labirintektomi adalah prosedur bedah khusus untuk menangani disfungsi vestibular. Prosedur ini dilakukan dengan menghancurkan organ keseimbangan. Tujuannya untuk mencegah otak menerima sinyal dari telinga bagian dalam, yang mendeteksi perubahan gerak dan gravitasi.

Untuk memahami prosedur ini, penting untuk mengetahui anatomi dan fisiologi telinga dalam. Bagian telinga ini dibedakan menjadi dua bagian: sistem koklea (untuk pendengaran) dan sistem vestibula (untuk keseimbangan). Sedangkan secara struktur, telinga dalam terdiri dari labirin tulang, serangkaian saluran tulang yang berisi labirin membran, di mana terdapat reseptor. Cairan telinga dalam, yaitu perilymph dan endolymph, juga dapat ditemukan di labirin ini. Labirin tulang memiliki beberapa bagian, yaitu koklea, saluran semisirkular, dan vestibula.

Siapa yang Perlu Menjalani Labirintektomi dan Hasil yang Diharapkan

Labirintektomi adalah prosedur yang dilaksanakan untuk menangani penyakit vestibula yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi dan rehabilitasi kesehatan.

Penyakit vestibula adalah penyakit yang mengganggu keseimbangan. Di Amerika Serikat saja, 35% dari keseluruhan penduduk yang berusia 40 tahun ke atas menderita penyakit ini. Jika memiliki penyakit ini, pasien akan merasakan beberapa gejala. Di antaranya: vertigo, pusing kronis, disorientasi, mual sementara, telinga terasa penuh, dan kehilangan keseimbangan. Beberapa pasien mengalami tinnitus, atau terus-menerus mendengar suara mendengung di telinganya, dan gangguan pendengaran. Contoh penyakit vestibula yang umum adalah labirintitis, vertigo posisi paroksimal jinak, dan penyakit Meniere.

Labirintektomi adalah prosedur yang destruktif, sehingga hanya direkomendasikan pada pasien yang memiliki penyakit vestibular periferal pada salah satu telinga. Sebisa mungkin, operasi ini hanya diperbolehkan bagi pasien yang mengalami gangguan pendengaran pada telinga tersebut. Namun, secara khusus prosedur ini lebih direkomendasikan bagi pengidap penyakit Meniere, kondisi yang meningkatkan tekanan sistem endolimfatik di telinga dalam. Terlebih lagi, jika pasien telah mencoba pengobatan lain selama 3-6 bulan, namun gagal. Pasien yang merasa sangat terganggu karena penyakitnya dapat menjalani operasi lebih awal. Namun, pasien berusia muda dan yang mengidap penyakit bilateral sebaiknya mencoba alternatif pengobatan lain.

Labirintektomi memiliki keberhasilan mengurangi vertigo yang sangat tinggi, sekitar 95%.

Cara Kerja Labirintektomi

Tujuan labirintektomi adalah menghancurkan seluruh bagian organ vestibula untuk menghilangkan fungsi vestibula.

Labirintektomi dapat dilakukan dengan dua cara: transkanal dan transmastoid. Metode transkanal lebih sering dilakukan, sedangkan metode transmastoid biasanya dilakukan pada pasien dengan lubang saluran sempit.

Pada metode transkanal, flap timpanomeatal dibuat untuk menjangkau telinga tengah dan telinga dalam untuk melakukan kuretase pada annulus posterior. Lalu, tulang landasan dan tulang sanggurdi diangkat dengan memotong tendon otot stapedius. Jendela oval telinga dibor untuk memperbesar ukurannya, sehingga terhubung dengan jendela bulat. Setelah itu, target organ dihancurkan. Saccule dan utricle dikikis dan probe dimasukkan ke saluran semisirkular.

Setelah proses penghancuran selesai, vestibula dapat dibersihkan dengan busa gelatin berisi antibiotik.

Sementara itu, metode transmastoid dilakukan dengan membuat sayatan di belakang telinga untuk memotong tulang mastoid. Dengan begitu, dokter bedah dapat melihat struktur telinga tengah dan telinga dalam. Lalu, target organ vestibula diangkat. Setelah itu, rongga mastoid ditutup.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Labirintektomi

Labirintektomi yang dilakukan dengan benar akan sangat jarang menimbulkan komplikasi. Setelah operasi, pasien biasanya diberi obat anti-emetik untuk mengurangi mual dan muntah yang dapat dialami pasien selama beberapa hari. Sebelum prosedur dilakukan, pasien harus memberikan izin terlebih dahulu karena bagian telinga yang dioperasi pasti akan kehilangan kemampuan mendengar.

Salah satu kemungkinan komplikasi adalah kebocoran cairan serebrospinal. Apabila kebocoran ditemukan saat operasi, maka dokter bedah harus melakukan penanganan saat itu juga. Kebocoran yang tidak terlalu banyak dapat ditutup dengan bone wax. Sedangkan kebocoran yang lebih besar akan memerlukan penutup otot. Apabila tidak ditangani, kebocoran ini dapat mengakibatkan komplikasi yang lebih serius, seperti meningitis.

Kemungkinan komplikasi labirintektomi yang cukup fatal adalah cedera saraf wajah. Karena itu, beberapa dokter bedah menggunakan monitor saraf wajah untuk memastikan tidak terjadi kerusakan pada saraf wajah.

Labirintektomi yang tidak menyeluruh terjadi pada sekitar 5% pasien. Semua neuroepithelium harus diangkat agar aktivitas neuronal tidak muncul kembali dan menyebabkan vertigo. Dokter dapat menggunakan pengait utricular untuk menemukan utricle, yang biasanya tersembunyi. Apabila gejala vertigo tidak hilang, pasien mungkin perlu menjalani operasi revisi.

Rujukan

  • Dickins JRE, graham SS. Surgical treatment of peripheral vestibular disorders. Glasscock ME, Gulya AJ.Glasscock-Shambaug’s Surgery of the ear. 5th ed. Ontario: BC Deckers; 2005. 517-575.

  • Tutar H, Tutar VB, Gunduz B, Bayazit YA. Transmastoid labyrinthectomy for disabling vertigo after cochlear implantation. J Laryngol Otol. 2014 Nov. 128(11):1008-10.

Bagikan informasi ini: