Apa itu Nekrosektomi Pankreas?

Nekrosektomi pankreas adalah prosedur bedah untuk menangani pankreatitis nekrosis akut, kondisi yang ditandai dengan peradangan pankreas.

Pankreatitis akut adalah penyakit ganas, seringkali disertai dengan komplikasi yang parah, bahkan fatal. Kondisi pankreatitis ringan dapat ditangani dengan terapi konservatif, seperti hidrasi agresif, obat antibiotik, dan nutrisi parenteral total, sedangkan kondisi yang parah memerlukan perawatan intensif, bahkan tak jarang intervensi bedah, seperti nekrosektomi, yang merupakan salah satu bentuk debridement, di mana jaringan nekrotik akan dipotong dan dikeluarkan.

Siapa yang Perlu Menjalani Nekrosektomi Pankreas dan Hasil yang Diharapkan

Pankreatitis nekrosis terjadi pada sekitar 20% kasus pankreatitis akut. Ini adalah penyakit pankreatitis yang sangat parah, di mana perfusi ke jaringan pankreas berkurang, sehingga membuat jaringan mati. Kondisi ini meningkatkan resiko kegagalan organ dan angka kematian.

Indikasi utama untuk melakukan nekrosektomi pankreas, baik berupa bedah terbuka atau laparoskopi, adalah kehadiran infeksi nekrosis. Prosedur ini pun dapat dilakukan pada kasus nekrosis pankreas steril yang menyebabkan kemunduran status kondisi pasien.

Meskipun nekrosektomi pankreas terbuka merupakan standar utama untuk menangani pankreatitis akut, namun teknik minimal invasif, termasuk prosedur laparoskopi dan endoskopi, akhir-akhir ini semakin sering dipilih. Tingkat keberhasilan kedua prosedur ini berkisar antara 70-95% dengan morbiditas sekitar 20%. Sedangkan angka kematian paling tinggi mencapai 18%.

Sebelum menjalani operasi, pasien harus merasa optimis dan sadar. Rawat inap di unit perawatan ekstensif bisa berlangsung lama dan darah pasien perlu diambil dan disimpan terlebih dahulu.

Cara Kerja Nekrosektomi Pankreas

Nekrosektomi pankreas secara konservatif dilakukan melalui prosedur bedah terbuka dengan sayatan di area perut. Namun, dengan mempertimbangkan morbiditas tambahan, khususnya yang berhubungan dengan disfungsi organ akibat sayatan di daerah perut, membuat prosedur ini memperkenalkan teknik-teknik alternatif. Teknik alternatif ini menggunakan peralatan laparoskopi yang dimasukkan melalui sayatan yang jauh lebih kecil.

Setelah sayatan dibuat, dokter akan menjangkau rongga perut dan pankreas. Ini dapat dilakukan melalui rute transgastric, retrocolic atau retroperitoneal. Pankreas akan terbuka sepenuhnya, sehingga seluruh area nekrotik dan kantong terlihat.

Saat retroperitoneum terjamah, bahan purulen dihisap dengan perlahan untuk meminimalisir kontaminasi di dalam rongga perut. Abses akan dikumpulkan sebagai spesimen untuk keperluan kajian kebudayaan, serta menentukan terapi antibiotik yang tepat untuk tahap selanjutnya.

Tujuan utama dari nekrosektomi adalah menghapus seluruh wilayah yang terinfeksi dan mengalami nekrosis. Dengan menggunakan forceps, jaringan dan sisa nekrosisi pankreas akan di keluarkan. Pemotongan perlu dibatasi hanya pada jaringan yang mulai lepas, sedangkan jaringan sehat akan dipertahankan.

Setelah prosedur selesai, alat pengering dimasukkan ke bagian pankreas untuk memperkecil kemungkinan pembukaan isi perut ke getah pankreas. Selang atau gastric tube pun dimasukkan untuk mengatur sekresi dari lambung. Jalan masuk untuk makanan pun harus disediakan, biasanya menggunakan selang jejunal.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Nekrosektomi Pankreas

Dengan sendirinya, pankreatitis akut yang sangat parah memicu berbagai macam komplikasi. Pasien yang menderita penyakit ini hingga memerlukan intervensi bedah, biasanya berada di stadium akhir penyakit, dengan angka kematian mencapai 50%.

Setelah operasi, bisa saja terjadi bakteremiaatau sepsis. Perawatan intensif pasca operasi umumnya direkomendasi untuk pengamatan lebih dalam dan penanganan dukungan yang optimal. Vasopressor dan terapi antibiotik pun akan diperlukan.

Salah satu komplikasi paling umum dari nekrosektomi pankreas adalah pendarahan, yang terjadi akibat nekrosektomi terlalu agresif. Tamponade balon atau embolisasi dapat membantu menangani kondisi ini, namun tetap tergantung pada lokasi pendarahan. Kasus yang lebih buruk memerlukan proses eksplorasi perut ulang.

Beberapa persoalan terkait dengan nekrosektomi pankreas minimal invasifmulai terangkat. Salah satunya, terdapat laporan yang menunjukkan bahwa untuk mencapai hasil yang sempurna, prosedur ini cenderung memerlukan pengulangan intervensi, sehingga pasien harus menginap di rumah sakit lebih lama. Beberapa ahli pun mempertanyakan keuntungan prosedur ini terhadap pasien dengan kondisi yang sangat parah, dan menyarankan agar prosedur ini hanya direkomendasi pada pasien dengan nekrosis yang telah terorganisir.

Masa pemulihan termasuk beragam dan tergantung pada kondisi pasien, serta keampuhan nekrosektomi. Komplikasi dalam jangka panjang maskh bisa terjadi pasca pemulihan. Meski jarang, salah satu komplikasi yang paling menyulitkan adalah pertumbuhan fistula, yang terjadi pada 10%-15% kasus. Kerusakan saluran pankreas utama dapat memicu kebocoran cairan pankreas secara terus menerus, akhirnya terbentuk saluran. Beberapa kasus fistula pankreasdapat ditangani dengan endoskopi stenting. Apabila nekrosis ekstensif menyebabkan saluran pankreas utama terpisar dari ekornya (“saluran terputus”), maka perlu dilakukan prosedur bedah untuk membersihkan residu ekor dan membuat saluran yang sesuai menuju usus (pancreaticojejunostomy).

Rujukan:

  • Bradley EL 3rd. A clinically based classification system for acute pancreatitis. Summary of the International Symposium on Acute Pancreatitis, Atlanta, Ga, September 11 through 13, 1992. Arch. Surg.128(5),586–590(1993)

  • Lenhart DK, Balthazar EJ. MDCT of acute mild (nonnecrotizing) pancreatitis: abdominal complications and fate of fluid collections. AJR Am. J. Roentgenol.190(3),643–649(2008).

Bagikan informasi ini: