Apa itu Laringektomi?

Laringektomi adalah prosedur bedah untuk mengangkat laring atau kotak suara. Jenis laringektomi yang dibutuhkan pasien akan ditentukan berdasarkan kondisinya. Ada dua jenis, yaitu laringektomi Tergantung pada kondisinya, pasien mungkin memerlukan laringektomi total (seluruh bagian laring diangkat) atau laringektomi parsial (hanya sebagian laring yang diangkat).

Laring dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Glotis, di mana terdapat pita suara asli
  • Supraglotis, bagian di atas glotis, berawal dari epiglotis hingga pita suara. Di dalamnya terdapat aritenoid dan pita suara palsu.
  • Subglotis, atau bagian di bawah glotis, yang berawal dari pita suara dan berakhir di cincin trakea pertama.
    Salah satu hal yang memengaruhi penentuan stadium kanker dan pengobatannya adalah bagian laring yang sakit.

Siapa yang Perlu Menjalani Laringektomi dan Hasil yang Diharapkan

Penyebab yang paling umum untuk melakukan laringektomi adalah kanker laring. Setiap harinya, sekitar 13.000 pasien didiagnosis terkena kanker laring. Akan tetapi, hanya sekitar 3.000 pasien yang menjalani laringektomi. Secara histopatologi, jenis kanker laring yang paling banyak ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa. Jenis kanker lainnya adalah adenokarsinoma dan kondorsarkoma. Pengobatan yang diberikan akan ditentukan berdasarkan beberapa faktor, namun dapat berupa operasi, terapi radiasi, atau kombinasi keduanya.

Laringektomi merupakan prosedur radikal, biasanya dianjurkan bagi pasien kanker laring yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan konservatif. Prosedur ini juga perlu dilakukan jika kerusakan laring sudah sangat parah, sehingga tidak dapat berfungsi normal. Lebih tepatnya, calon idealkandidat ideal untuk menjalani laringektomi adalah pasien kanker laring stadium akhir, yang tulang rawannya telah hancur dan kanker telah menyebar ke organ tubuh di depan laring.

Akan tetapi, prosedur ini juga dapat membantu pasien yang:

  • Memiliki penyakit yang menyerang sendi aritenoid dan komisura posterior
  • Mengalami circumferential involvement of submucosa, serta memiliki subglotis yang memanjang dan memasuki tulang rawan krikoid

  • Mengidap jenis kanker laring yang tidak umum, seperti adenokarsinoma, yang tidak dapat diobati secara efektif dengan terapi radiasi. Dalam kasus seperti ini, laringektomi total merupakan pilihan terbaik untuk menangani kanker

Indikasi lain untuk melakukan laringektomi adalah cedera traumatis parah pada leher, misalnya karena luka tembak dan nekrosis radiasi pada laring, yang dapat terjadi setelah terapi radiasi. Laringektomi juga dapat dipertimbangkan untuk mengobati tumor primer yang tumbuh di organ sekitar laring, dan telah menyebar ke laring. Misalnya, tumor yang berasal dari kelenjar tiroid dan lidah.

Setelah laringektomi dilakukan, pasien akan merasakan perubahan signifikan. Apabila menjalani laringektomi total, maka hidung dan mulut pasien akan terpisah dari trakea dan bagian saluran pernapasan lainnya. Maka dari itu, trakeostomi akan dilakukan. Pada trakeostomi, leher dilubangi untuk menyambungkan saluran udara, sehingga pasien dapat bernapas melalui lubang ini. Untuk menggantikan suara, pasien dapat menggunakan implan prostesis suara, alat eksternal bernama electrolarynx, dan sebagainya. Pasien juga sebaiknya mengikuti rehabilitasi setelah laringektomi.

Cara Kerja Laringektomi

Laringektomi dilakukan dengan membuat sayatan pada leher, sehingga otot platysma dapat dibuat menjadi flap superior dan inferior. Kemudian, fasia leher dalam akan disayat, dan otot dipotong secara bilateral. Setelah menemukan selubung karotis, dokter bedah akan melakukan diseksi tumpul (blunt dissection) di antara pembuluh darah dan area laringotrakea. Setelah itu, otot infrahyoid akan dilepaskan, dan lobus kelenjar tiroid yang berada di samping tumor akan dipotong. Lalu, otot konstriktor akan diangkat untuk melepaskan tulang rawan tiroid.

Langkah selanjutnya merupakan proses yang penting, yaitu pembagian trakea. Langkah ini harus dilakukan dengan bantuan ahli anestesi. Sayatan akan dibuat di antara tulang rawan trakea kedua dan ketiga, lalu batang trakea dimiringkan. Tabung endotrakea diangkat secara perlahan, dan diganti dengan tabung Laryngoflex, yang dimasukkan melalui batang trakea. Kemudian, dinding posterior trakea akan dibagi. Dokter bedah akan berhati-hati agar tidak melukai kerongkongan.

Kemudian, dokter akan membuka mulut pasien untuk mencari epiglotis. Lalu, mukosa faring akan diangkat. Dokter bedah akan meninggalkan sedikit jaringan faring untuk menutup luka. Otot cricopharyngeous juga akan dipotong, kemudian faring dijahit.

Setelah dilakukan irigasi dan hemostasis, tabung drainase dan nasogastrik akan dipasang. Lalu, dokter bedah akan membuat stoma pada trakea, dengan menjahit trakea pada flap kulit depan dan belakang. Setelah sayatan ditutup, tabung Laryngoflex akan diganti dengan tabung trakeostomi.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Laringektomi

Selain perubahan cara bernapas dan berbicara, laringektomi juga dapat menimbulkan komplikasi akibat luka. Contohnya adalah infeksi luka, jahitan terlepas, dan terbentuknya seroma. Fistula pharyngocutaneous juga dapat terjadi pada pasien yang gizinya buruk atau sebelumnya pernah menjalani terapi radiasi. Fistula yang kompleks perlu ditutup dengan flap lokal. Sekitar 40% pasien dilaporkan mengalami stenosis stoma setelah laringektomi, yang dapat diatasi dengan teknik stomatoplasty dan advancement flap.

Rujukan

  • Ouyang D, Liu TR, Chen YF, Wang J. Modified frontolateral partial laryngectomy operation: combined muscle-pedicle hyoid bone and thyrohyoid membrane flap in laryngeal reconstruction. Cancer Biol Med.

  • Luna-Ortiz K, Campos-Ramos E, Villavicencio-Valencia V, Contreras-Buendía M, Pasche P, Gómez AH. Vertical partial hemilaryngectomy with reconstruction by false cord imbrication. ANZ J Surg. 2010 May. 80(5):358-63.

Bagikan informasi ini: