Apa itu Reduksi Malar?

Reduksi malar adalah prosedur bedah kosmetik untuk memperkecil ukuran malar atau tulang pipi. Oleh karena itu, prosedur ini dikenal dengan istilah malarplasty. Tulang pipi atau rahang yang berbentuk sempurna membuat rupa menjadi menawan, namun pada sebagian orang, terutama keturunan ras Asia Timur cenderung lahir dengan bentuk tulang pipi yang sangat menonjol, tampak tidak proporsional atau seimbang dengan bentuk wajah. Ini membuat wajah terlihat lebih lebar atau bentuknya terlalu kotak. Bedah reduksi malar sangat efektif memperbaiki masalah ini dan menciptakan wajah yang lebih proporsional dan indah.

Siapa yang Perlu Menjalani Reduksi Malar dan Hasil yang Diharapkan

Reduksi malar adalah prosedur untuk individu yang memiliki tulang pipi sangat menonjol. Ini bisa disebabkan oleh tubuh atau lekukan tulang pipi yang tinggi, kedua kondisi ini membuat wajah tampak tidak proporsional. Kondisi ini membuat sudut mandibula menonjol bila dilihat dari depan, samping, atau keduanya. Bila tulang terlihat menonjol jika dilihat dari samping, wajah akan tampak terlalu lebar.

Oleh karena itu, agar dinyatakan layak untuk prosedur ini, pasien terlebih dulu menjalani evaluasi berdasarkan simetri wajah, proporsi tengkorak, dan tingkat ketinggian zygomatik. Selain itu, status saraf wajah pasien pun akan diperiksa.

Pasien yang memenuhi syarat untuk mengikuti reduksi malar biasanya memiliki fitur berikut:

  • Wajah yang lebar
  • Wajah tampak bengis
  • Rupa wajah datar
  • Bagian di bawah malar tidak sedap dipandang
    Prosedur reduksi malar berupa:

  • Reseksi atau pemotongan bagian lengkungan zygomatik atau malar yang paling menonjol

  • Perbaikan tulang
  • Pengangkatan lemak pipi
  • Memindahkan posisi otot, lemak, dan saraf-saraf kecil pipi

Cara Kerja Reduksi Malar

Ada banyak teknik reduksi tulang pipi yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan dari prosedur ini. Sebagian besar teknik dilakukan dengan bius total yang diberikan melalui intubasi nasotrakea dengan infiltrasi lokal larutan lidocaine sebesar 0,5% dengan adrenalin. Teknik yang tersedia yaitu:

  • Osteotomi dengan pendekatan intra-oral atau berbentuk L
  • Pendekatan kulit kepala
  • Teknik rotasi
    Salah satu teknik yang paling umum adalah membuat osteotomi berbentuk L di persimpangan zygomaticomaxillary melalui pendekatan intra-oral, sayatan akan dibuat di dekat membran mukosa di dalam mulut. Saat sayatan sebesar 2 cm telah dibuat, tubuh zygoma dipotong dengan gergaji bedah khusus hingga membentuk huruf L. Kemudian, lengkungan ditahan dengan posisi terangkat menggunakan microplate prefabrikasi berbentuk U dan sekrup. Studi membuktikan bahwa walaupun memerlukan konsultasi lanjutan selama 6-18 bulan, teknik ini secara umum menciptakan hasil yang memuaskan dengan resiko komplikasi yang rendah.

Teknik lain yang disebut reduksi zygoma dilakukan dengan metode pendekatan kulit kepala, dimana sayatan akan dibuat tepat di atas telinga (bila tubuh zygoma telah diperkecil) atau di depan telinga (bila lengkungan zygoma harus diperkecil). Teknik ini sangat efektif pada kasus tulang pipi yang tampak menonjol bila dilihat dari depan atau samping.

Ukuran tulang pipi pun bisa diperkecil melalui teknik rotasi. Dalam prosedur konvensional, tulang pipi bagian samping tidak selalu dipotong. Meski saat ini teknik rotasi masih umum digunakan, namun terkadang dapat membuat tulang menjadi tidak seimbang karena kerusakan akibat pemotongan. Ini dilakukan dengan rotasi mesial kompleks zygomaticomaxillary searah jarum jam, yang dapat meningkatkan singgungan tulang dan mengurangi volume malar. Selain mampu mencapai hasil yang diharapkan, teknik ini pun mengurangi resiko penurunan pipi akibat tulang yang tidak seimbang.

Luka sayatan akan ditutup dengan jahitan saat prosedur telah selesai. Pasien akan mendapat jadwal kunjungan lanjutan, dimana dokter akan memeriksa perkembangan pemulihan luka. Dalam sebagaian besar kasus, dokter menggunakan benang jahit yang dapat diserap, sehingga tidak memerlukan pembukaan jahitan.

Saat ini, sudah tersedia teknik endoskopi dan 3D untuk bedah reduksi malar. Endoskopi malarplasty hanya meninggalkan sedikit bekas luka dan pembengkakan karena sayatan saat operasi dibuat lebih kecil. Teknik ini pun efektif mempercepat masa penyembuhan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Reduksi Malar

Karena prosedur pembentukan wajah memerlukan sayatan wajah, bedah reduksi malar membuat pasien menghadapi resiko pendarahan dan infeksi. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 45 pasien yang telah menjalani reduksi malar via teknik menaikkan lengkungan zygomatik, tiga di antaranya mengalami infeksi luka kecil. Namun, kondisi tersebut dapat diobati dengan antibiotik.

Bekas luka bukan masalah besar karena reduksi malar dapat melalui sayatan intra-oral atau teknik endoskopi. Namun, selama masa pemulihan pasien bisa saja mengalami bengkak dan nyeri.

Komplikasi lain yang terkait dengan prosedur ini adalah:

  • Cedera saraf wajah cabang pipi
  • Trismus (gangguan dalam membuka mulut) berkepanjangan
  • Tulang kurang bersinggungan
  • Tulang tidak seimbang

    Rujukan

  • Harii Kiyonori. “Plastic, Reconstructive and Aesthetic Surgery: Reduction Malarplasty: A New Approach to Malar Bone by Double Incision.”

  • Mahatumarat C., Rojvachiranonda N. “Reduction malarplasty without external incision: A simple technique.” Aesthetic Plastic Surgery. June 2003; 27(3): 167-171.

  • Mu X. “Experience in East Asian facial recontouring: reduction malarplasty and mandibular reshaping.” Arch Facial Plast Surg. 2010 Jul-Aug;12(4):222-9.

Bagikan informasi ini: