Apa itu Maksilektomi?

Maksilektomi adalah prosedur bedah untuk menghilangkan sebagian atau seluruh bagian tulang maksila, yaitu tulang di tengah wajah yang menutup langit-langit mulut dan ikut berperan dalam membentuk rahang atas. Prosedur ini dilakukan jika terdapat tumor wajah yang merusak tulang maksila atau struktur di sekitarnya, termasuk palatum keras, sinus maksilaris, dan hidung.

Siapa yang Perlu Menjalani Maksilektomi dan Hasil yang Diharapkan

Maksilektomi dianjurkan bagi pasien yang memiliki tumor di tulang maksila (tumor maksilofasial) atau bagian sekitarnya, termasuk sinus maksilaris, hidung, dan palatum keras. Beberapa contoh dari jenis tumor ini adalah:

  • Karsinoma maxillary, atau karsinoma sel skuamosa oral (SCC) yang menyerang bagian bawah mulut dan tulang di sekitarnya
  • Osteoblastoma maxillary, tumor langka yang ditandai dengan adanya beberapa osteoblas, biasanya ditemukan pada tulang wajah yang panjang, seperti tulang maksila dan mandibula
  • Tumor odontogenik pada maksila, misalnya kista radikuler dan gigi
  • Tumor ganas sinonasal, atau tumor ganas pada sinus
  • Kondroblastoma
  • Kondroma, atau tumor di rongga hidung
  • Hemangioma intraosseuous, yang biasanya menyerang tulang maksila dan tulang hidung
  • Osteosarkoma, yaitu tumor ganas yang tumbuh di tulang maksila atau mandibula
    Tumor tulang maksilofasial dapat tumbuh dari elemen osteogenik, kondrogenik, vaskular, hematopoiesis, atau fibrogenik tulang. Gejala yang ditimbulkan juga beragam, misalnya:

  • Nyeri lokal pada wajah

  • Penyumbatan hidung yang berujung pada menumpuknya cairan
  • Kesemutan pada pipi
  • Mimisan
  • Berkurangnya kemampuan mencium bau
  • Keluarnya ingus dari hidung
  • Tenggorokan terus-menerus berdahak (post nasal drip)
    Terdapat banyak teknik yang dapat digunakan untuk maksilektomi, tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan tumor. Untuk tumor yang parah dan telah menyebar sepanjang tulang maksila, biasanya dokter bedah perlu melakukan maksilektomi total. Seluruh tulang maksila akan diangkat, termasuk palatum keras dan dasar orbita.

Jenis maksilektomi lainnya adalah maksilektomi parsial, yang hanya bertujuan untuk mengangkat hanya sebagian dari tulang maksila. Berdasarkan bagian tulang maksila yang diambil, prosedur ini dapat dibedakan menjadi:

  • Maksilektomi medial – Prosedur ini biasanya dilakukan pada kasus tumor hidung. Bagian tulang maksila yang diambil hanya yang terdapat di bagian samping hidung.
  • Maksilektomi infrastruktur – Prosedur bedah untuk mengangkat palatum keras dan maksila bawah. Lalu, area bedah akan direkonstruksi dengan obturator dan free flap.
  • Maksilektomi suprastruktur – Ini adalah pengangkatan bagian atas tulang maksila dan dasar orbita. Setelah bagian tulang diangkat, dokter melakukan rekonstruksi dasar orbita baru untuk menyangga mata.
  • Maksilektomi subtotal – Pada maksilektomi parsial ini, setidaknya ada dua dinding tulang maksila yang diangkat, termasuk tulang palatum.
    Maksilektomi biasanya diikuti dengan prosedur rekonstruksi atau cangkok kulit untuk menutup lubang yang terbentuk saat pembedahan.

Studi menunjukkan bahwa maksilektomi total dan subtotal lebih jarang dilakukan dibandingkan maksilektomi parsial dan terbatas (medial, infrastruktur, dan suprastruktur), yang mencakup lebih dari separuh kasus maksilektomi.

Cara Kerja Maksilektomi

Maksilektomi biasanya dilakukan sebagai prosedur invasif yang membutuhkan sayatan terbuka untuk mengakses menjangkau tulang maksila. Hanya maksilektomi medial yang dapat dilakukan melalui lubang hidung dengan teknik minim invasif. Semua jenis maksilektomi lainnya harus dilakukan dengan teknik bedah konvensional.

Pasien akan diberi bius total supaya tertidur selama pembedahan. Lalu, dokter bedah mengawali prosedur dengan membuat sayatan dari rahang atas hingga ke bibir atau hidung, tergantung pada lokasi tumor. Melalui sayatan ini, dokter dapat menjangkau serta mengangkat tumor dan tulang di sekitarnya.

Setelah tumor diambil, dokter akan melakukan prosedur rekonstruksi untuk menjaga bentuk wajah agar tetap normal, walaupun ada bagian tulang maksila yang diangkat. Hal ini dilakukan dengan mengambil jaringan sehat dari bagian tubuh pasien lainnya untuk menutup lubang di area tulang maksila.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Maksilektomi

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat maksilektomi adalah:

  • Mati rasa
  • Kerusakan sementara pada kelenjar air mata, yang dapat menyebabkan air mata keluar terlalu banyak
  • Epifora, atau mata berair karena pembengkakan akibat bedah
  • Gangguan penglihatan
  • Lem telinga (glue ear), atau akumulasi cairan di saluran telinga
  • Flap tidak berfungsi
  • Pendarahan
  • Infeksi
  • Trombosis, atau penggumpalan darah
  • Tumor tumbuh kembali
  • Hematoma, atau kumpulan darah tidak normal akibat penyumbatan tabung drainase yang dipasang setelah pembedahan
    Kemungkinan komplikasi lain dapat terjadi karena peran tulang maksila dalam mengendalikan kemampuan bicara, bahasa, makan, dan minum. Maksilektomi dapat mengurangi kemampuan pasien, sehingga pasien mungkin memerlukan terapi wicara dan bahasa serta dukungan dan perubahan pola makan.

    Rujukan

  • Spiro RH., Strong EW., Shah JP. “Maxillectomy and its classification.” Head Neck. 1997 Jul;19(4):309-14. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9213109

  • Bokhari K., Hameed MS., Ajmal M. Togoo RA. “Benign osteoblastoma involving maxilla: A case report and review of the literature.” Case Reports in Dentistry. http://www.hindawi.com/journals/crid/2012/351241/

Bagikan informasi ini: