Apa itu Operasi Jantung Minimal Invasif?

Dewasa ini, ada dua metode yang digunakan untuk melaksanakan bedah jantung. Pertama, metode bedah jantung terbuka. Metode ini merupakan pendekatan tradisional, di mana dokter bedah akan membuat sayatan panjang vertikal pada dada. Kemudian, dokter akan membuka rusuk untuk mendapatkan akses ke jantung. Kedua, metode bedah minimal invasif. Metode ini menggunakan sayatan kecil untuk menyisipkan alat bedah khusus.

Kebanyakan dokter bedah lebih memilih metode kedua, jika memungkinkan. Sayatan yang kecil membuat metode kedua lebih rendah risiko, seperti nyeri, bekas luka parut, infeksi, dan perdarahan berlebih.

Namun penting untuk diketahui bahwa operasi jantung minimal invasif tidak dapat dilakukan. Salah satu contohnya adalah pada prosedur transplantasi jantung. Prosedur ini membutuhkan sayatan besar untuk mengangkat dan mengganti jantung yang sakit.

Oleh karena itu, dokter biasanya mengevaluasi apakah pasien dapat menjalani operasi jantung minimal invasif atau tidak. Dokter akan melakukan beberapa tes untuk memastikan operasi jantung minimal invasif adalah pilihan terbaik bagi pasien. Jika bukan, maka dokter akan memilih operasi jantung terbuka.

Siapa yang Perlu Menjalani Operasi Jantung Minimal Invasif dan Hasil yang Diharapkan

Operasi jantung minimal invasif umumnya dapat dilakukan pada kondisi, berikut:

  • Perbaikan atau penggantian katup jantung - Operasi jantung minimal invasif dilakukan bila salah satu katup telah menyempit atau mengeras. Saat katup menyempit, pasokan darah yang dapat mengalir melewatinya berkurang. Di sisi lain, jika katup mengeras pasokan darah ke organ vital bisa terputus. Selain itu, operasi juga bisa dilakukan saat katup mengalami regurgitasi di mana katup memungkirkan darah mengalir kembali ke jantung.

  • Perbaikan lubang di jantung - Beberapa orang memiliki lubang di antara kedua bilik jantung mereka. Ada juga yang memiliki lubang di antara atrium kiri dan kanan mereka. Kedua kondisi tersebut memengaruhi aliran darah di jantung. Keduanya diobati dengan menutup lubang menggunakan patch.

  • Operasi bypass arteri koroner (CABG) - Operasi jantung minimal invasif dapar digunakan pada pasien dengan arteri yang tersumbat. Operasi ini dilakukan untuk mengembalikan aliran darah normal ke otot jantung. Dengan vena sehat yang dicangkokkan dari bagian tubuh yang lain dan kemudian dihubungkan ke arteri yang tersumbat. Operasi ini memberi darah rute lain untuk sampai ke otot jantung. Sehingga, mengurangi risiko gagal jantung dan serangan jantung.

  • Prosedur labirin untuk atrial fibrillation - Operasi jantung minimal invasif dapat dilakukan untuk membuat jaringan parut yang bisa menghalangi sinyal listrik abnormal yang menyebabkan aritmia.

Dari pelaksanaan operasi jantung minimal invasif, pasien diharapkan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Risiko untuk mengembangkan masalah jantung yang lebih serius, seperti serangan jantung, juga berkurang.

Cara Kerja Operasi Jantung Minimal Invasif

Sebelum prosedur dipilih dan dilaksanakan, pasien perlu menjalani tes darah dan urin serta rontgen dada. Ketiganya memberikan informasi kepada dokter bedah status terkini dari jantung dan kesehatan pasien. Setelah itu, pasien akan dihubungkan ke monitor EKG. Mereka juga diberi anestesi yang membuat pasien tertidur selama operasi.sehingga tidak akan merasakan sakit.

Pasien juga akan dihubungkan dengan sejumlah tabung. Ada tabung yang terhubung ke respirator untuk membantu pasien bernapas. Ada juga digunakan untuk mencegah udara dan cairan mengumpul di perut. Ini membantu memastikan, pasien tidak akan meras sakit dan kembung, saat terbangun. Tabung tipis juga dimasukkan ke dalam kandung kemih. Ini mengumpulkan urin selama operasi.

Dokter bedah akan memulai dengan membuat sejumlah sayatan kecil di dada. Dokter bisa menggunakan alat yang disebut thoracoscope dalam bedah torakskoskopik. Alat ini adalah tabung panjang dengan yang terpasang di ujungnya. Kamera bertugas mengambil gambar area bedah. Gambar kemudian diproyeksikan ke monitor di ruang operasi. Sehingga, dokter bisa melihat jantung dengan jelas. Kemudian, alat bedah kecil disisipkan melalui sayatan lainnya. Dokter bedah akan menggunakan alat tersebut untuk melakukan perbaikan yang diperlukan.

Dokter bedah juga bisa menggunakan lengan robot dalam bedah jantung berbantu robot. Dokter akan mengendalikan lengan robot menggunakan konsol komputer. Manfaat utama dari metode ini adalah memungkinkan ahli bedah melakukan operasi dengan lebih presisi dan terkontrol.

Kateter juga bisa digunakan untuk mengganti katup aorta. Untuk ini, dokter bedah akan memasukkan kateter ke arteri besar di pangkal paha atau dada untuk mengantarkan katup pengganti.

Pasca operasi, pasien akan:

  • Tetap terhubung ke mesin yang memantau fungsi jantungnya

  • Diberikan obat, nutrisi, dan cairan melalui jalur intravena

  • Diberikan oksigen untuk membantu mereka bernapas dengan benar

  • Dipindahkan ke unit perawatan intensif di mana mereka akan menerima perawatan yang fibutuhkan

  • Memantau komplikasi, seperti perdarahan dan infeksi

  • Diberikan obat untuk menghilangkan rasa sakit

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Operasi Jantung Minimal Invasif

Operasi jantung minimal invasif bukan tanpa risiko. Komplikasi juga bisa terjadi, termasuk:

Pembentukan gumpalan darah. Gumpalan darah bisa terbentuk dan berpindah ke paru-paru. Jika terjadi, gumpulan tersebut akan menghalangi atau benar-benar memotong suplai darah ke organ vital.

  • Perdarahan parah

  • Masalah pernapasan

  • Serangan jantung atau stroke

  • Infeksi

  • Masalah irama jantung

  • Sakit dada

Rujukan:

  • What is heart surgery? National Heart, Lung, and Blood Institute. http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/hs.

  • Barbara Woodward Lips Patient Education Center. Minimally invasive heart surgery. Rochester, Minn.: Mayo Foundation for Medical Education and Research; 2012.

  • Hillis LD, Smith PK, Anderson JL, et al. 2011 ACCF/AHA guideline for coronary artery bypass graft surgery: a report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines. Circulation. 2011;124(23):e652-e735. PMID: 22064599.

Bagikan informasi ini: