Apa itu MRI Bahu?

Magnetic resonance imaging (MRI) pada bahu adalah pencitraan tanpa melukai tubuh yang memberikan informasi rinci tentang struktur bahu; termasuk tulang, sendi, otot, ligamen, dan tendon. MRI dapat membantu mendiagnosis suatu masalah kesehatan, mengobati cedera, mengatasi penyakit, memastikan kecurigaan dokter, dan sebagainya.

MRI menggunakan medan magnet yang kuat dan gelombang radiofrekuensi untuk mengambil gambar yang diolah dan disimpan di komputer untuk peninjauan ulang dan interpretasi.

Bahu merupakan salah satu bagian tubuh yang paling rumit. Bahu terdiri dari tiga jenis tulang yang berbeda: klavikula (tulang selangka), yang memberikan keseimbangan untuk pergerakan pada bahu; humerus (tulang lengan atas), yang merupakan tulang terbesar pada tangan; dan skapula (tulang belikat).

Tulang-tulang tersebut, bersama dengan tulang dada (sternum), membentuk sendi bahu yang disebut sternoklavikular, akromioklavikular, dan glenohumeral. Bahu juga memiliki tendon, ligamen, tulang rawan, dan otot. Bagian-bagian ini rentan terhadap berbagai penyakit, masalah kesehatan, dan cedera.

MRI dilakukan untuk membantu dokter menilai kondisi bahu yang berhubungan dengan gejala, kondisi, atau cedera tertentu.

Siapa yang Perlu Menjalani MRI & Hasil yang Diharapkan

MRI bahu adalah alat yang efektif untuk mendiagnosis masalah yang memengaruhi maset rotator, yaitu kumpulan otot-otot kecil yang menjaga sendi bahu tetap seimbang dan berada di tempatnya. Otot bisa saja rusak atau mengalami penurunan fungsi akibat penuaan, penyakit, atau cedera. Hal ini dapat menimbulkan masalah lain dan robeknya otot. Seringkali, MRI disarankan apabila pemeriksaan jenis lain seperti USG dan rontgen, tidak dapat memberikan informasi yang cukup dan tepat untuk membuat diagnosis.

MRI juga dapat disarankan untuk orang yang mengalami:

  • Patah tulang
  • Bengkak atau peradangan (bahu mungkin terasa sakit, merah, dan lunak bila disentuh)
  • Penyakit penuaan
  • Cedera akibat kecelakaan (seperti jatuh, tabrakan, atau tergelincir) dan olahraga
  • Infeksi yang memengaruhi bahu
  • Cedera karena pemakaian yang berulang
  • Pertumbuhan tumor

MRI juga mungkin dilakukan untuk pengobatan – yaitu untuk menentukan keberhasilan operasi bahu, pengobatan kanker, dan pengobatanbeberapa lainnya.

Pemeriksaan dengan MRI biasanya berlangsung selama 20-30 menit, walaupun terkadang paling cepat hingga 60 menit, dan mungkin lebih, tergantung dari persiapan dan jenis gambar yang dibutuhkan oleh radiolog. MRI dapat dilakukan dengan rawat jalan atau rawat inap. Radiolog adalah orang yang akan menjelaskan hasil pemeriksaan, meskipun dokter dengan pelatihan radiologi yang cukup juga dapat melakukannya. Bagaimanapun juga, dokter pasien adalah yang bertanggung jawab untuk menyampaikan hasil pemeriksaan, sehingga ia harus memperkuat hasil tersebut dengan hasil pemeriksaan lainnya dan catatan konsultasi.

Cara Kerja MRI Bahu

Banyak orang yang salah mengira bahwa MRI sama dengan PET dan CT scan. Mereka Padahal, keduanya memiliki fungsi dan menggunakan teknologi yang berbeda. CT scan merupakan saingan terberat MRI, tetapi mereka berbeda dalam hal keakuratan.

MRI adalah mesin dengan medan magnet yang memancarkan gelombang radiofrekuensi. Tubuh bereaksi terhadap pulsa gelombang radiofrekuensi dan medan magnet, karena tubuh terdiri dari beragam molekul dan atom (yang di dalamnya adalah proton), yang reaktif terhadap medan magnet. Reaksi proton membantu dalam pembuatan gambar yang dibutuhkan MRI.

Pemeriksaan ini tidak membutuhkan persiapan khusus seperti mengatur pola makan. Akan tetapi, bila MRI menggunakan zat kontras, pasien mungkin harus melalui serangkaian pemeriksaan termasuk pemeriksaan fungsi ginjal. Pasien juga harus memberitahu radiolog bila ia rentan alergi terhadap zat kontras.

Pemindaian MRI aman untuk banyak orang. Bahkan, ini MRI dapat dilakukan pada bayi dan anak-anak, tetapi mungkin mereka harus diberikan pembiusan total untuk membuatsupaya mereka tidak bergerak selama pemeriksaan. Pasien yang menderita klaustrofobia juga akan diberi penenang. Mereka juga dapat menggunakan mesin MRI yang terbuka, walaupun mesin tersebut masih belum tersedia di beberapa rumah sakit.

Pemeriksaan MRI tidak cocok untuk orang yang menggunakan implan jenis tertentu, seperti koklea, scan alat pacu jantung, dan defibrilator (stimulator detak jantung). Pasien harus membicarakan hal tersebut dengan dokter dan radiolog sebelum menjalani MRIprosesnya dimulai.

Apabila zat kontras digunakan, infus akan dipasang pada lengan untuk memasukkan zat kontras ke dalam aliran darah. Pasien mungkin harus menunggu beberapa menit sebelum pemeriksaan benar-benar dimulai.

MRI memiliki meja yang dapat bergerak, di mana pasien dapat berbaring dengan nyaman dengan baju rumah sakit atau pakaian yang longgar. Karena terkadang terasa dingin, pasien dapat meminta selimut yang disediakan asalkan tidak mengganggu bagian bahu. Pasien berbaring akan diminta berbaring selama saat teknisi, yang berada di ruang lain, memusatkan medan magnet ke bahu untuk mulai mendapatkan fotomengambil gambar dari bahu. Instruksi diberikan melalui mikrofon.

Setelah pemeriksaan selesai, pasien dapat kembali pada kegiatanberaktivitas seperti biasa. PBagi pasien yang menggunakan zat kontras, mungkin akan diminta meminum banyak air untuk membuang mengeluarkan zat tersebut dari tubuh.

Kemungkinan Komplikasi & Resiko MRI Bahu

Pada umumnya, pemindaian MRI pada bahu merupakan prosedur yang aman dan tanpa rasa sakit. Beberapa pasien, mungkin akan terkena mengalami klaustrofobia akibat struktur MRI yang dapat membuat menyebabkan serangan panik dan hiperventilasi. Bahkan, ada juga pasien yang tidak dapat menggunakan zat kontras karena kemungkinan reaksi alergi.

MRI dapat dilakukan pada wanita yang sedang mengandung, tetapi tidak disarankan untuk mereka yang sedang mengandung dalam masa 3 bulan pertama.

Rujukan:

  • Wilkinson ID, Paley MNJ. Magnetic resonance imaging: basic principles. In: Grainger RC, Allison D, Adam, Dixon AK, eds. Diagnostic Radiology: A Textbook of Medical Imaging. 5th ed. New York, NY: Churchill Livingstone; 2008:chap 5.

  • DeLee JC, Drez D Jr, Miller MD, eds. DeLee and Drez's Orthopaedic Sports Medicine. 3rd ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2009:chap 17.

Bagikan informasi ini: