Apa itu MRI Kepala?

Pemindai MRI (magnetic resonance imaging) adalah perangkat yang digunakan untuk mengetahui struktur internal tubuh dari jarak dekat, terutama tulang, tendon, dan jaringan lunak. Perangkat ini dapat digunakan dalam menentukan kondisi yang menyerang kepala, termasuk otak, dan sumsum tulang belakang sampai batas tertentu.

MRI menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menciptakan gambar kepala secara rinci tidak seperti pemindai pencitraan canggih lainnya seperti CT scan. Tubuh setidaknya terdiri dari 65% air, yang terdiri dari molekul dan atom. Dalam atom hidrogen, misalnya, terdapat ion yang dikenal sebagai proton. Proton sangat sensitive terhapad medan magnet karena beraksi dan “mengikuti” keberadaan medan magnet. Pada perangkat MRI, gelombang radio digunakan untuk “melempar” proton dari orbitnya dengan medan magnet. Jika gelombang radio ini mati, proton akan masuk ke orbitnya dan mengirimkan kembali sinyal radio. Kemudian, semua ini akan membantu menciptakan gambar yang lebih jelas dan akurat dari suatu organ atau jaringan.

Ahli radiologi, yaitu orang yang terlatih dan ahli dalam mencitrakan dan membaca hasil, dapat membedakan organ dan jaringan karena proton bereaksi berbeda dalam aspek kecepatan dan sinyal berdasarkan pada bagian tubuh mana proton ditemukan.

Siapa yang Harus Menjalani MRI Kepala dan Hasil yang Diharapkan

MRI kepala diminta oleh dokter umum pasien atau dokter spesialis seperti ahli saraf untuk membuat diagnosis atau untuk memastikan atau menemukan kecurigaan. Tindakan ini dianjurkan bagi pasien yang mengalami masalah kepala dan bahkan saraf tulang belakang, seperti:

  • Sakit kepala yang sering atau berulang
  • Sakit kepala yang memburuk dalam waktu tertentu
  • Kehilangan kontrol gerakan tubuh tertentu
  • Penglihatan berkurang atau kabur
  • Masalah keseimbangan
  • Kejang

Pasien yang mengalami cedera yang melibatkan kepala juga mungkin memerlukan tes pencitraan seperti MRI. Pemindaian dapat membantu dalam mendiagnosis luka cedera otak dan dalam menilai seberapa luasnya. Tindakan ini juga dapat melihat pendarahan internal atau penumpukan tekanan intrakarnial yang dapat menyebabkan kematian pada saraf otak.

MRI juga dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosa atau mendeteksi keberadaan tumor dan anomali lainnya pada kepala. Tindakan ini mungkin melengkapi tes lainnya yang mendeteksi masalah yang berkembang pada orang dewasa maupun anak-anak. Tindakan ini juga dapat menemukan masalah pada pembuluh darah seperti pembuluh darah melemah yang dapat menyebabkan aneurisma.

Pemindaian ini dapat dilakukan sebagai bentuk pengawasan. Dokter mungkin menganjurkan tindakan ini untuk memeriksa apakah tindakan atau pengobatan yang ada bekerja atau tidak, atau apakah penyakit sudah berkembang.

Tes ini tidak dianjurkan untuk orang yang memiliki implan tertentu seperti alat pacu jantung atau klip aneurisma. Hal ini karena pasien mungkin bereaksi terhadap medan magnet dan gelombang radio yang digunakan dalam tindakan. Untuk siapapun yang ingin mengetahui apakah implannya aman terhadap MRI, dapat menghubungi produsen perangkat.

Meskipun beberapa ibu hamil dan menyusui diperbolehkan untuk menjalani MRI, tes ini dilakukan hanya apabila benar-benar diperlukan. Selain itu, ibu menyusui mungkin harus berhenti menyusi setidaknya dalam 24 jam jika mereka diberikan pewarna kontras, yang dapat membantu menciptakan citra yang lebih jelas selama pemindaian.

MRI saja tidak dapat membantu dokter memberikan diagnosis yang tepat dan tidak menghasilkan gambaran yang lengkap dari masalah pasien. Oleh karena itu, tindakan ini dilakukan bersama dengan tes lainnya dan konsultasi yang melibatkan wawancara, tinjauan catatan medis, dan pemeriksaan fisik.

Cara Kerja MRI Kepala

Pemindai MRI adalah mesin besar dengan lubang besar pada kedua ujungnya. Terdapat sebuah kubah besar, di mana kepala pasien masuk selama tindakan. Biasanya, tidak ada persiapan yang diperlukan, dan pasien dapat terus mengonsumsi obat atau perawatan lainnya sebelum tes dilakukan. Namun demikian, dokter harus dapat memberikan penjelasan pada apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum tindakan.

Jika media kontras harus digunakan, infus ditempatkan pada lengan pasien, dan akan digunakan untuk memasukkan agen. Langkah ini mungkin memakan waktu sekitar satu jam sebelum tes dapat dimulai untuk memastikan agen tersepa dengan baik oleh tubuh. Semua benda logam seperti perhiasan harus dikeluarkan dari tubuh sebelum tindakan.

Kamar pemindaian dibagi menjadi dua bagian. Di tengah ruangan terdapat alat pemindai sementara terdapat ruangan lain di mana ahli radiologi memeriksa. Di depan terdapat layar komputer yang menerima gambar yang diambil alat pemindai.

Pasien menggunakan baju rumah sakit atau pakaian longgar dan berbaring dengan nyaman di atas meja yang dimasukan ke dalam mesin dengan perlahan. Setelah siap, alat pemindai kemudian bergerak di sekitar tubuh untuk mengambil gambar kepala. Seluruh proses mungkin memakan waktu sekitar 20-45 menit karena alat MRI bergerak perlahan. Pasien juga dapat mendengar beberapa suara dari mesin.

Pasien menerima instruksi dari ahli radiologi melalui intercom. Dengan cara yang sama pasien dapat memberikan umpan balik atau mengkomunikasikan kekhawatirannya ke ahli radiologi melalui sistem. Setelah selesai, pasien dapat kembali menjali kegiatan normalnya kecuali beberapa hal yang tidak dianjurkan oleh ahli radiologi.

Gambar yang telah dipindai dengan hasil pembacaan kemudian akan diberikan ke dokter pasien. Gambar mungkin dapat tersedia dalam beberapa hari.

Risiko dan Komplikasi MRI Kepala

Umumnya, MRI kepala adalah tindakan yang aman, terutama karena tindakan ini tidak memaparkan radiasi apapun yang dapat merusak atau mengubah DNA. Namun, beberapa orang mungkin mengembangkan tingkat kecemasan tinggi terutama jika pasien merasa sesak. Jika hal ini terjadi, pasien dapat diberikan obat penenang unutk membantu menenangkan sarafnya.

Beberapa pasien mungkin juga alergi terhadap pewarna kontras. Sebelum tindakan dilakukan, teknisi akan bertanya apakah pasien alergi terhadap bahan-bahan tertentu. Pasien harus memiliki fungsi ginjal yang baik jika pemindai memerlukan pewarna kontras. Ini karena pewarna kontras harus dikeluarkan oleh tubuh dengan baik setelah tindakan.

Rujukan:

  • Broder J, Preston R. Imaging of the head and brain. In: Broder J, ed. Diagnostic Imaging for the Emergency Physician. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 1.

  • Wilkinson ID, Graves MJ. Magnetic resonance imaging. In: Adam A, Dixon AK, Gillard JH, Schaefer-Prokop CM, eds. Grainger & Allison's Diagnostic Radiology: A Textbook of Medical Imaging. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Chuchill Livingstone; 2014:chap 5.

Bagikan informasi ini: