Apa itu Miektomi?

Miektomi adalah prosedur bedah untuk mengobati kardiomiopati hipertrofi. Prosedur ini dilakukan dengan mengangkat bagian dinding septum yang menebal dan menghambat aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta.

Kardiomiopati hipertrofi terjadi karena membesarnya sel otot jantung, biasanya di ventrikel kiri. Terhambatnya aliran darah akan menyebabkan ventrikel kiri bekerja terlalu keras. Kardiomiopati hipertrofi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tipe obstruktif (darah tidak dapat mengalir keluar dari ventrikel kiri) dan tipe non-obstruktif (darah akan mengalir kembali ke katup mitral). Walaupun ada pasien yang tidak merasakan gejala apapun, namun kebanyakan pasien mengalami pusing, nyeri dada, pingsan, dan sesak napas.

Miektomi septal merupakan prosedur bedah kompleks, bisa berlangsung hingga 6 jam atau lebih, terutama jika terjadi komplikasi. Ini adalah operasi jantung terbuka yang dilakukan di fasilitas kesehatan spesialis.

Siapa yang Perlu Menjalani Miektomi dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang terdiagnosis dengan kardiomiopati hipertrofi obstruktif sebaiknya menjalani miektomi, terutama jika mereka telah mencoba pengobatan lain tapi gagal. Prosedur ini juga disarankan jika penyumbatan sudah parah dan sangat menghambat aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta.

Semua pasien yang akan menjalani miektomi perlu mengikuti ekokardiogram, kateterisasi jantung, dan tes rutin lain untuk memastikan diagnosis.

Prosedur ini dapat dilakukan pada pasien lansia, namun jika manfaatnya lebih besar daripada resikonya.

Miektomi merupakan prosedur rawat inap yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Penyumbatan di jantung dan gejala lain dapat langsung hilang setelah prosedur. Beberapa pasien juga dilaporkan mengalami peningkatan kualitas hidup yang signifikan.

Cara Kerja Miektomi

Sebelum pembedahan dimulai, pasien akan dibius total. Dokter bedah membuat sayatan besar di dada dan memisahkan tulang payudara untuk menjangkau jantung. Tabung tipis bernama kanula akan dimasukkan ke aorta dan ditarik ke katup aorta. Dengan adanya kanula, dokter bedah tidak perlu membuat sayatan di jantung. Kemudian, tekanan antara aorta dan ventrikel kiri akan diukur. Dokter bedah akan dipandu oleh alat pencitraan visual, misalnya ekokardiogram. Lalu, jantung akan dihentikan sementara dengan menggunakan mesin bypass jantung-paru. Kemudian, dokter akan mencari otot yang menebal untuk menandainya. Lalu dengan menggunakan alat khusus, jaringan otot yang menyumbat aliran darah diangkat.

Setelah jaringan otot diangkat, mesin bypass akan dilepas. Setelah itu, dokter bedah akan mengukur tekanan kembali untuk memeriksa kelancaran aliran darah. Kabel pemicu denyut jantung dan tabung drainase dipasang di area dada untuk sementara waktu. Tulang payudara dikembalikan ke posisi semula, dan sayatan dijahit.

Setelah prosedur, pasien akan langsung diberi perawatan dan pengawasan intensif. Dokter juga dapat memberikan implan kardioverter-defibrilator agar irama jantung tetap normal. Kebanyakan pasien dapat sembuh dan kembali beraktivitas setelah dua bulan. Sebaiknya, pasien menjaga gaya hidup mereka untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah komplikasi jangka panjang. Pasien juga diharapkan untuk mengikuti program rehabilitasi dan menghindari aktivitas fisik yang berat.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Miektomi

Miektomi merupakan prosedur bedah besar yang kompleks, sehingga memiliki kemungkinan komplikasi dan resiko sebagai berikut:

  • Reaksi penolakan obat bius selama pembedahan
  • Infeksi
  • Penyumbatan jantung total, kondisi yang terjadi saat rangsangan dari atrium tidak sampai ke ventrikel. Ini akan mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan kematian akibat serangan jantung mendadak
  • Terbentuk lubang pada septum di antara ventrikel
  • Cedera pada struktur koroner di sekitar, terutama katup aorta dan mitral
  • Kelainan jantung, misalnya denyut jantung tak beraturan dan nyeri dada berulang
  • Stroke


Pada kasus langka, jaringan otot yang menebal gagal diangkat dan kardiomiopati hipertrofi dapat kembali terjadi. Pasien mungkin perlu menjalani operasi tambahan untuk mengatasi penyakit ini.

Rujukan:

  • Ommen S, Maron B, Olivotto I, Maron M, Cecchi F, Betocchi S, Gersh B, Ackerman M, McCully R, Dearani J, Schaff H, Danielson G, Tajik A, Nishimura R (2005). "Long-term effects of surgical septal myectomy on survival in patients with obstructive hypertrophic cardiomyopathy". J Am Coll Cardiol 46 (3): 470–6.

  • Ralph-Edwards A, Woo A, McCrindle B, Shapero J, Schwartz L, Rakowski H, Wigle E, Williams W (2005). "Hypertrophic obstructive cardiomyopathy: comparison of outcomes after myectomy or alcohol ablation adjusted by propensity score". J Thorac Cardiovasc Surg 129 (2): 351–8.

Bagikan informasi ini: