Apa itu Rekonstruksi Puting?

Rekonstruksi puting adalah prosedur untuk membuat puting baru atau mengembalikan penampilan puting seperti semula. Prosedur ini biasanya dilakukan setelah pengangkatan payudara atau bersamaan dengan operasi rekonstruksi payudara.

Siapa yang Perlu Menjalani Rekonstruksi Puting dan Hasil yang Diharapkan

Rekonstruksi puting disarankan bagi mereka wanita yang telah menjalani mastektomi, prosedur bedah untuk mengangkat salah satu atau kedua payudara wanita dengan tujuan mengobati atau menghentikan perkembangan kanker payudara

Prosedur ini juga dapat dilakukan pada wanita yang sangat beresiko terkena kanker payudara. Contohnya adalah mereka yang:Di antaranya, mereka yang:

  • Memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga yang kuat, misalnya jika ibu, saudara, atau anaknya didiagnosis terkena penyakit ini sebelum usia 50 tahun
  • Positif memiliki mutasi gen BRCA1, BRCA2, PALB2, CDH1, PTEN, dan TP53
  • Mendapatkan terapi radiasi di area dada sebelum usia 30 tahun
  • Memiliki mikrokalsifikasi pada payudara atau deposit kalsium kecil di jaringan payudara
    Semua pasien yang menjalani pengangkatan payudara juga dapat menjalani rekonstruksi puting, kecuali jika puting tidak dirusak saat pengangkatan payudara. Hal ini dilakukan bila tidak ditemukan sel kanker di dekat puting dan areola.

Setelah operasi rekonstruksi puting berhasil dilakukan, pasien akan memiliki puting yang terlihat dan terasa alami. Namun, bukan berarti puting akan terlihat seperti itu selamanya. Biasanya, puting hasil rekonstruksi lama-kelamaan akan mulai mengempis. Apabila pasien juga menjalani mikropigmentasi, warna puting diperkirakan dapat bertahan selama beberapa tahun, namun lama-kelamaan juga akan mulai memudar.

Apabila pasien tidak puas dengan penampilan dan bentuk puting, pasien bisa mendapatkan cangkok lemak dan filler.

Cara Kerja Rekonstruksi Puting

Rekonstruksi puting merupakan prosedur rawat jalan yang dilakukan dengan bius lokal. Pertama, dokter bedah akan memberi penanda di payudara untuk dijadikan panduan selama pembedahan. Dua teknik bedah yang dapat digunakan adalah:

  • Flap puting – Pada prosedur ini, dokter bedah membuat puting baru dengan flap kulit dari payudara yang direkonstruksi. Flap dibuat dengan membuat sayatan kecil di area puting.
  • Cangkok puting – Dokter bedah perlu mengambil cangkok kulit dari bagian tubuh pasien lainnya untuk membuat puting baru. Cangkok kulit biasanya diambil dari bagian dalam paha atau lipatan bokong.
    Setelah prosedur, dokter akan memasang penutup pelindung yang berisi obat antibakteri di atas puting untuk mencegah infeksi.

Rekonstruksi puting biasanya membutuhkan waktu 30 menit hingga satu jam dan pasien dapat langsung pulang setelah efek obat bius hilang. Konsultasi lanjutan akan dijadwalkan setelah dua minggu untuk melepas jahitan.

Beberapa minggu setelah rekonstruksi puting, pasien dapat memilih untuk menjalani mikropigmentasi untuk memberi tato di puting dan areola. Tujuannya adalah agar warna puting terlihat lebih alami. Prosedur ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan membutuhkan bius lokal.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Rekonstruksi Puting

Kemungkinan komplikasi dan resiko yang dapat terjadi karena rekonstruksi puting adalah:

  • Puting mengempis – Walaupun biasanya puting memang akan mengempis seiring berjalannya waktu, namun ada beberapa kasus di mana pengempisan puting berlangsung lebih cepat dan lebih buruk dari perkiraan. Kondisi ini dapat diatasi dengan filler.
  • Kematian jaringan – Ini terjadi saat puting tidak mendapatkan cukup darah, sehingga jaringannya akan mati. Jaringan yang mati harus diambil dan prosedur rekonstruksi puting perlu dilakukan lagi.
  • Infeksi – Seperti prosedur bedah lainnya yang membutuhkan sayatan, prosedur ini juga beresiko kecil menyebabkan infeksi. Maka dari itu, pasien diberi salep antibakteri setelah operasi.
  • Bentuk dan arah puting yang tidak sesuai
    Studi menunjukkan bahwa komplikasi lebih rentan terjadi pada pasien yang pernah menjalani terapi radiasi dan rekonstruksi puting dengan implan.

Akan tetapi, semua resiko dari rekonstruksi puting rata-rata ringan dan tidak membahayakan nyawa. Maka dari itu, prosedur ini dianggap relatif aman.

Rujukan

  • Satteson E., Reynolds M., Bond A, Pestana I. “An analysis of complication risk factors in 641 nipple reconstructions.” The Breast Journal. http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/tbj.12591/abstract

  • Serra R., Miglietta AM., Abonante S., et al. (2013). “Skin-sparing mastectomy with immediate breast and nipple reconstruction: A new technique of nipple reconstruction.” Plastic Surgery International. http://www.hindawi.com/journals/psi/2013/406375/

Bagikan informasi ini: