Apa itu Operasi Katarak?

Seperti namanya, operasi katarak adalah prosedur untuk mengobati katarak, kondisi progresif yang ditandai oleh kekeruhan pada lensa mata. Prosedur ini dilakukan dengan mengangkat dan mengganti lensa yang keruh untuk memperbaiki penglihatan pasien. Berkat perkembangan modern dalam teknologi bedah, operasi mata katarak menjadi salah satu operasi mata yang paling aman dan sering dilaksanakan.

Operasi katarak adalah pilihan pengobatan utama bagi pasien katarak. Seperti glaukoma, kebanyakan kasus katarak disebabkan oleh proses penuaan alami dan berkembang secara bertahap.

Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko katarak adalah penyakit genetik, trauma berat pada mata, operasi mata yang pernah dijalani, dan peradangan intraokular. Terkadang, katarak dapat berkembang lebih cepat dan menyerang pasien berusia muda. Katarak dini ini lebih umum ditemukan pada pasien diabetes, perokok, individu yang terkena sinar UV atau radiasi ion berlebih, dan mereka yang mengonsumsi steroid. Obat-obat seperti statin dan phenothiazine juga dapat memperburuk atau memicu katarak, jika digunakan berkelanjutan.

Pada tahap awal, penglihatan pasien akan menjadi buram atau berkurang. Pasien juga dapat kesulitan membaca dan melihat bayangan yang tidak alami. Ini adalah gejala awal katarak. Jika tidak ditangani, lama-kelamaan seluruh lensa mata akan menjadi keruh. Akibatnya, pasien kehilangan kemampuan penglihatannya.

Karena manfaatnya yang sangat besar, banyak pasien katarak yang menjalani operasi. Prosedur ini dapat mengangkat lensa yang keruh secara permanen, memperbaiki penglihatan, dan mengurangi ketergantungan terhadap kacamata dan lensa kontak.

Biaya operasi katarak dapat beragam, tergantung pada teknik yang digunakan. Beberapa teknik yang lebih modern dan menggunakan teknologi laser, biayanya cenderung lebih tinggi.

Cara Kerja Operasi Katarak

Operasi katarak adalah prosedur rawat jalan dan biasanya hanya membutuhkan 15 menit. Namun, prosesnya dapat lebih lama karena persiapan pra-bedah, seperti dilatasi pupil, dan evaluasi pasca bedah.

Sebelum operasi, pasien disarankan tidak makan makanan padat selama setidaknya 6 jam. Prosedur diawali dengan memberi obat penghilang rasa melalui tetes mata atau injeksi mata. Karena tidak memakai anestesi, pasien akan terbangun selama operasi. Pasien diberi obat penenang agar dapat tenang.

Operasi katarak melibatkan pengangkatan lensa yang keruh dan rusak, lalu menggantinya dengan lensa intraokular (IOL).

Saat ini, ada banyak teknik yang digunakan untuk mengangkat lensa mata.

Operasi katarak tradisional menggunakan pisau genggam untuk membuat sayatan kecil di dekat ujung kornea. Pada prosedur ini, lensa akan dijangkau, dihancurkan, dan diangkat dengan alat bedah kecil.

Pada operasi pengangkatan katarak modern, lensa yang rusak akan dihancurkan dengan ultrasound frekuensi tinggi. Lalu, bagian lensa yang kecil akan diisap dari mata. Teknik bedah ini disebut fakoemulsifikasi, yang membutuhkan sayatan yang lebih kecil dan lebih sedikit. Karena itu, pasien akan lebih cepat pulih dan sembuh. Teknik ini juga mengurangi risiko lepasnya retina, komplikasi umum dari operasi katarak. Setelah semua bagian lensa yang kecil diisap, IOL disisipkan di belakang iris dan pupil.

Pilihan lainnya adalah operasi katarak laser, yang menggunakan laser femtosecond. Ini adalah jenis laser yang digunakan di operasi LASIK. Prosedur ini menggunakan pisau bedah dan alat bedah genggam untuk mengangkat lensa yang rusak. Pertama, kornea disayat untuk mengangkat kapsul anterior dari lensa mata. Lalu, laser digunakan untuk memecahkan katarak agar lebih mudah dihancurkan dan diangkat.

Operasi katarak diakhiri dengan menutup sayatan. Namun, jika memakai teknik modern, sayatan yang berukuran kecil dapat menutup dengan sendirinya

Selain beragam teknik, pasien juga dapat memilih jenis lensa intraokular untuk menggantikan lensa mata mereka. Jenis IOL yang umum adalah lensa monofokal. Namun, beberapa jenis IOL juga dapat mengatasi masalah mata umum. Misalnya, rabun jauh dan rabun dekat. Namun, ada juga yang memperbaiki astigmatisma, yaitu IOL toric. Jenis lainnya adalah accommodating IOL dan IOL multifocal, yang dapat memperbaiki presbiopi. Dengan begitu, jarak pandang pasien menjadi lebih luas dibandingkan jika memakai lensa monofokal. Pasien dapat berunding dengan dokter mereka untuk memilih jenis lensa yang paling sesuai.

Setelah operasi katarak, pasien diminta beristirahat selama 15 - 30 menit. Pasien akan diperbolehkan pulang dengan memakai pelindung mata, yang harus dipakai hingga mata pulih. Pasien juga diberi tetes mata untuk perawatan setelah operasi.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Operasi Katarak

Untuk mencegah komplikasi setelah operasi katarak, pasien sebaiknya tidak melakukan aktivitas berat dan mengangkat benda berat selama satu minggu. Membungkuk dan olahraga juga tidak dianjurkan karena dapat memberikan tekanan pada lensa mata baru.

Pasien harus mengingat bahwa dalam masa penyembuhan, mata sangat rentan terkena infeksi. Karena itu, pasien harus menjaga agar mata tetap bersih dan kering. Air, terutama di pemandian air panas dan kolam renang, dapat mengandung kontaminan yang dapat menyebabkan infeksi.

Kemungkinan efek samping dan komplikasi lain dari operasi katarak adalah:

  • Perdarahan

  • Bagian dalam mata terasa tertekan

  • Penumpukan cairan

  • Kelopak mata turun

  • Katarak setelah operasi – Ini terjadi ketika jaringan lensa yang seharusnya menyokong IOL tertinggal saat operasi dan terkena katarak. Namun, perawatan laser yang baru dapat memperbaiki komplikasi ini secara permanen.

Komplikasi yang lebih serius adalah retina terlepas atau lensa mata yang baru menjadi longgar. Retina terlepas adalah masalah mata serius yang terjadi ketika lapisan tipis di belakang retina tertarik dari pembuluh darah yang memberikan oksigen. Kondisi ini membutuhkan penanganan dengan segera.

Rujukan:

  • Boyd K. “What is Cataract Surgery?” American Academy of Ophthalmology. https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-cataract-surgery

  • “Facts about Retinal Detachment.” National Eye Institute (NEI). https://nei.nih.gov/health/retinaldetach/retinaldetach

Bagikan informasi ini: