Apa itu Operkulektomi?

Operkulektomi adalah prosedur bedah untuk menghilangkan operkulum, atau lipatan gusi yang menutupi gigi. Prosedur ini dilakukan untuk mengobati perikoronitis, suatu kondisi yang dikarakteristikan oleh nyeri dan peradangan pada operkulum. Perikoronitis biasanya dialami pasien dewasa muda, terutama jika gigi geraham bungsunya mulai tumbuh.

Operkulum adalah massa jaringan lunak yang ditemukan pada gigi setengah tumbuh. Biasanya dikaitkan dengan gigi geraham bungsu bawah, meskipun operkulum juga menutupi gigi geraham dan beberapa gigi susu. Operkulum mudah dilihat saat gigi mulai tumbuh dan mengintip dari jaringan gusi. Dalam kondisi normal, jaringan gusi mundur saat gigi mulai tumbuh dan bergeser ke posisi yang tepat. Gigi yang sudah tumbuh sepenuhnya tidak lagi memiliki lipatan jaringan gusi di permukaan yang digunakan untuk mengunyah.

Dalam kasus gigi geraham bungsu bawah, biasanya tempatnya terlalu kecil atau bahkan tidak ada tempat untuk benar-benar tumbuh dan keluar dari garis gusi. Sehingga, operkulum tidak mundur sepenuhnya dan dapat menutupi gigi tersebut secara permanen. Keberadaan operkulum ini yang dapat menyebabkan masalah kesehatan mulut. Ini meningkatkan kemungkinan tergigitnya jaringan penghubung pipi atau operkulum itu sendiri. Selain itu, ada kemungkinan gigi membusuk karena sulit untuk membersihkan di bawah gusi. Kondisi ini masih dapat berkembang, bahkan jika praktik kebersihan mulut sudah dilakukan dengen benar. Gigi geraham atas juga dapat menekan yang bawah dan menimbulkan nyeri. Ini dapat memengaruhi kualitas hidup pasien, karena aktivitas mengunyah makanan akan terasa menyakitkan.

Siapa yang Perlu Menjalani Operkulektomi dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang menderita perikoronitis atau operkulitis akut merupakan kandidat yang tepat untuk menjalani operkulektomi. Kondisi ini ditandai oleh radang yang tiba-tiba muncul di operkulum, menyebabkan nyeri dan rasa tidak nyaman. Gejala perikoronitis akut termasuk pembengkakan gusi, demam, dan penumpukan nanah pada area yang sakit. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi sistemuk seperti pembengkakan kelenjar getah bening, lemas, dan malaise umum. Nyeri juga dapat menjalar ke bagian wajah lain seperti telinga, rahang, dasar mulut, serta tenggorokan. Dalam kasus yang sangat parah, kondisi ini dapat memengaruhi pola makan karena pasien kesulitan mengunyah bahkan membuka mulut.

Mereka yang menderita perikoronitis kronis akan dianjurkan menjalani operkulektomi untuk mencegah gejala semakin buruk dan menghindari rasa nyeri. Perikoronitis kronis dikarakteristikan dengan peradangan yang terus kambuh. Dalam beberapa kasus, pasien mungkin tidak merasakan gejala apapun. Namun, mereka tetap akan merasakan nyeri dan pembengkakan gusi. Munculnya bakteri pada saat kronis ini bisa menyebabkan halitosis atau napas bau. Dalam beberapa kasus, perikoronitis kronis mungkin menjadi pemicu kista paradental.

Operkulektomi cukup sederhana dan relatif aman dengan tingkat kesuksesan yang baik. Pasien biasanya merasakan efek hilangnya nyeri dan tidak nyaman secara langsung. Selain itu, ini juga mencegah penumpukan karang. Pasien juga akan lebih mudah untuk menjaga kebersihan gigi. Jika gigi tidak mengalami impaksi, pengangkatan operkulum akan mendorong gigi untuk tumbuh sepenuhnya.

Pasien disarankan untuk istirahat selama beberapa hari setelah pembedahan, dan mengonsumsi makananan dengan tekstur lembut hingga gusi sembuh. Pasien perlu menjalani pemeriksaan lanjutan dengan dokter gigi untuk memastikan tidak ada komplikasi, dan jaringan sembuh dengan semestinya.

Cara Kerja Operkulektomi

Pasien akan diberikan bius lokal sebelum pembedahan. Dokter gigi akan membuat satu atau lebih sayatan pada operkulum, dan mengendurkan lipatan gusi di atas gigi yang sakit. Dengan menggunakan skalpel, dokter gigi akan memotong jaringan gusi. Dokter juga dapat menggunakan radio-surgical loop untuk menghilangkan operkulum. Luka lalu ditutup dengan jahitan, dan dibiarkan hingga sembuh sendiri.

Operkulektomi juga dapat dilakukan dengan elektrokauter. Probe kecil ditempatkan pada area yang akan dibedah, arus elektrik lemah akan ditransfer ke jaringan. Panas yang dihasilkan dari arus tersebut akan melepaskan jaringan lunak operkulum. Sehingga, dokter dapat memotongnya dan menghilangkan jaringan gusi yang menutupi permukaan gigi untuk mengunyah. Luka pasien tidak perlu ditutup setelahnya.

Dokter gigi juga dapat menggunakan laser diode untuk menghilangkan operkulum yang meradang. Jenis laser yang paling sering digunakan pada prosedur ini adalah laser karbon dioksida. Setelah pasien diberikan bius lokal, alat laser akan didekatkan ke area target. Lalu, ablasi jaringan yang ditargetkan akan dilakukan dengan sinar laser. Dokter akan memastikan enamel gigi tidak terkena sinar laser, agar tidak rusak. Setelah semua jaringan operkulum hilang dan hemotasis tercapai, alat laser akan dipindah dari dekat area target. Luka dibiarkan terbuka dan akan sembuh sendirinya.

Teknik lain untuk mengobati perikoronitis adalah menggunakan cairan kaustik seperti asam trikloroasetat dan bedah krio. Cairan kaustik diletakkan di bawah operkulum untuk melepaskan jaringan lunak dengan terkontrol. Sementara bedah krio melibatkan suhu yang sangat dingin untuk menyebabkan nekrosis. Lalu, dokter gigi menggunakan skalpel untuk menghilangkan jaringan mati.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Operkulektomi

Resiko terbesar operkulektomi terkait dengan kemungkinan rusaknya saraf lingual, yang berfungsi menimbulkan sensasi pada lidah. Cedera dapat membuat pasien tidak bisa mengecap rasa saat makan atau minum. Dalam beberapa kasus, mati rasa pada lidah juga pernah terjadi. Komplikasi ini bisa hilang atau permanen.

Ada juga kemungkinan perdarahan dan infeksi. Infeksi dapat menjalar ke aliran darah menyebabkan sepsis. Ini berpotensi menjadi komplikasi serius, karena area bedah dekat dengan otak. Selain itu, operkulum juga mungkin tumbuh kembali dan terinfeksi lagi. Sehingga pasien perlu menjalai prosedur tambahan.

Rujukan:

  • Dodson TB (Sep 2012). "The management of the asymptomatic, disease-free wisdom tooth: removal versus retention. (review)". Atlas Oral Maxillofac Surg Clin North Am. 20 (2): 169–76
Bagikan informasi ini: