Apa itu Orkidopeksi?

Pertumbuhan testis yang normal umumnya dimulai di dalam kandungan. Testis yang berada di rongga perut kemudian turun ke dalam skrotum beberapa minggu sebelum bayi lahir. Namun, beberapa kondisi menyebabkan salah satu atau kedua testis tidak mampu masuk ke dalam skrotum atau dikenal sebagai kriptokidisme. Kondisi ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, perkembangan saraf yang tidak sempurna, atau struktur alat kelamin yang tidak normal.

Untuk memperbaiki kriptokidisme, bayi laki-laki harus menjalani orkidopeksi atau rekonstruksi testis. Prosedur bedah ini dilaksanakan saat bayi berusia 5 hingga 15 bulan untuk menghindari komplikasi serius, jika prosedur mengalami penundaan. Jika kondisi ini dibiarkan begitu saja, pasien kemungkinan rentan terhadap kemandulan atau torsio testis saat ia memasuki masa remaja atau dewasa. Kriptordikisme dapat menyebabkan perkembangan hernia inguinal, di mana bagian dari usus yang turun dan terjebak di dalam skrotum.

Siapa yang Perlu Menjalani Orkidopeksi dan Hasil yang Diharapkan

Orkidopeksi yang juga dikenal dengan istilah orkiopeksi mulai diperkenalkan ada abad 19 untuk mengobati kriptordikisme pada anak. Selama beberapa abad terakhir, kondisi ini menjadi umum terjadi pada 5% dari seluruh bayi yang lahir setiap tahun. Sebaiknya prosedur operasi dilaksanakan sedini mungkin untuk menghindari komplikasi serius. Pada beberapa kasus, testis akan turun dan masuk ke dalam skrotum dengan sendirinya sebelum anak mencapai usia satu tahun, namun jika lebih dari satu tahun, kasus ini termasuk jarang terjadi.

Rekonstruksi testis dapat dilaksanakan pada pasien pria dalam masa remaja atau dewasa muda dengan kondisi yang tidak sempat ditangani saat masa kanak-kanak. Namun, prosedur ini jarang ditawarkan pada pria dewasa karena resikonya lebih besar daripada keuntungan yang didapat.

Orkidopeksi juga direkomendasi pada pasien yang terdiagnosis torsio testis, yang ditandai dengan korda spermatik melilit sehingga menghambat aliran darah yang mengalir ke testis. Torsio testis biasa terjadi pada bayi dan remaja, serta harus segera mendapat intervensi medis.

Orkidopeksi merupakan prosedur bedah yang aman dan sederhana, juga tidak mengharuskan pasien untuk rawat inap. Dalam menangani kriptorkidisme, prosedur ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan tanpa komplikasi. Hasil yang sama diharapkan dalam pelaksanaan sebagai pengobatan torsio testis, dengan catatan, kondisi sudah terdiagnosis dan prosedur bedah dilaksanakan dengan segera.

Cara Kerja Orkidopeksi

Orkidopeksi dimulai dengan membius pasien sehingga ia akan tertidur. Dokter bedah akan membuat sayatan kecil di area selangkangan untuk menjangkau testis. Kemudian, dokter mengidentifikasi struktur jangkar testis dan arteri spermatik, lalu memisahkan keduanya dari jaringan testis dengan perlahan. Pada kebanyakan kasus, arteri spermatik akan direntangkan agar testis masuk ke dalam skrotum. Setelah itu, dokter akan menyayat skrotum untuk membuat sebuah kantung. Saat testis sudah tertutup di dalam skrotum, maka harus segera dijahit untuk mencegahnya turun kembali. Sayatan akan ditutup dengan jahitan. Beberapa pasien terlahir dengan testis yang terletak di area perut atau kanalis inguinal. Pada kondisi ini, dokter akan melakukan prosedur laparoskopi untuk menarik bagian yang rusak ke dalam skrotum.

Dalam mengobati torsio testis, sebuah sayatan dibuat di area skrotum dan dokter bedah dengan perlahan menguraikan korda spermatik. Testis yang rusak akan dievaluasi untuk memastikan adanya sel yang mati atau terjadi nekrosis. Dokter perlu mengangkat seluruh bagian testis untuk menghindari komplikasi walaupun termasuk jarang terjadi. Bagian testis yang sehat akan dikembalikan untuk mencegah kondisi kambuh.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Orkidopeksi

Seperti prosedur bedah pada umumnya, pasien akan menghadapi resiko reaksi penolakan terhadap zat bius dan pendarahan, walaupun umumnya dapat ditangani dan tidak memerlukan transfusi darah.

Kemungkinan lain adalah kerusakan pembuluh darah terdekat saat prosedur berlangsung. Korda spermatik juga dapat mengalami cedera, membuat testis harus di keluarkan testis. Terdapat kemungkinan bahwa testis akan naik ke posisi semula, sehingga prosedur perlu diulang.

Komplikasi lain adalah pasien kerap mengeluh sulit buang air kecil dan rasa nyeri luar biasa pada area bedah.

Rujukan:

  • Barthold JS. Abnormalities of the testes and scrotum and their surgical management.In: Wein AJ, ed. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 132.
  • Elder JS. Disorders and anomalies of the scrotal contents.In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011: bab 539.
Bagikan informasi ini: