Apa itu Rekonstruksi Telinga?

Rekonstruksi telinga, dalam istilah medis disebut otoplasty, adalah bedah kosmetik untuk memperbaiki bentuk dan ukuran telinga bagian luar. Rekonstruksi telinga memiliki nama lain pinnaplasty karena dilakukan pada daun telinga (pinna), yaitu bagian telinga yang terletak di kedua sisi kepala. Daun telinga dapat tumbuh lebih besar dari ukuran normal (kondisi ini disebut telinga Mickey atau Dumbo) atau tidak terbentuk sempurna akibat cacat bawaan atau cedera traumatik.

Siapa yang Perlu Menjalani Rekonstruksi Telinga dan Hasil yang Diharapkan

Otoplasty merupakan bedah kosmetik, artinya tidak memiliki dampak buruk bagi fungsi telinga dan proses mendengar, walaupun sedikit merubah cara kerja telinga dalam menangkap suara.

Prosedur rekonstruksi telinga umumya dilaksanakan pada anak berusia lima tahun ke atas. Karena di usia ini, telinga sudah terbentuk sempurna sehingga pasien dianggap siap untuk menjalani prosedur bedah.

Cara Kerja Rekonstruksi Telinga dan Hasil yang Diharapkan

Otoplasty dimulai dengan konsultasi pada dokter bedah kosmetik, diutamakan dokter yang memiliki latar belakang di bidang kedokteran anak, jika pasien masih dalam kategori usia anak. Pasien juga perlu berkonsultasi pada dokter THT, untuk memastikan bahwa fungsi telinganya tidak akan terganggu setelah menjalani rekonstruksi.

Rekonstruksi telinga seringkali berdampak pada psikologis pasien, sehingga pasien anak akan diminta berkonsultasi pada psikolog atau penasehat medis. Tujuannya agar anak atau orangtua/wali dapat benar-benar memahami resiko dan komplikasi, serta hasil yang didapatkan dari operasi perbaikan telinga.

Saat konsultasi pra-bedah, dokter bedah akan memeriksa kondisi, bentuk dan ukuran telinga pasien. Telinga akan di foto, kemudian hasilnya dimasukkan ke komputer. Agar tujuan operasi dapat tercapai, dokter akan menentukan metode operasi yang paling tepat bagi kondisi telinga pasien dengan menggunakan perangkat lunak khusus. Jika pasien belum memasuki usia dewasa, maka dokter perlu membicarakan mengenai biaya, prosedur, hasil, dan perawatan pasca operasi dengan orangtua atau wali pasien.

Prosedur bedah dilakukan menggunakan bius lokal dengan zat sedatif atau bius umum, apabila pasien terus merasa gelisah dan tidak tenang.

Dokter bedah akan melanjutkan dengan membuat sayatan sesuai pola di wilayah telinga hingga kepala, agar ia dapat melepaskan, memapas, atau memotong tulang rawan atau kulit dan membentuk telinga sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan pasien. Pada kondisi tertentu, terutama pada telinga yang tampak lebih maju ke depan, dokter bedah tidak akan memotong tulang rawan, tapi ia hanya menarik dan menjahit tulang rawan ke bagian belakang telinga dan kepala agar posisi telinga tidak berubah.

Rekonstruksi telinga memakan waktu hingga dua jam dan pasien diperbolehkan pulang jika pengaruh zat bius sudah hilang. Dokter bedah akan menganjurkan pasien untuk menghindari aktivitas berat selama dua bulan ke depan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Rekonstruksi Telinga

Resiko dan komplikasi setelah operasi rekonstruksi telinga berupa nyeri berdenyut dan kemerahan di area bedah. Kondisi ini terjadi beberapa jam atau hari setelah prosedur selesai. Bekas luka juga termasuk komplikasi, namun seringkali hilang seiring berjalannya waktu, apalagi jika pasien merupakan seorang anak.

Walaupun jarang terjadi, zat bius yang digunakan pada prosedur rekonstruksi telinga dapat menyebabkan reaksi alergi. Reaksi ini dapat berupa berat dan berpotensi syok anafilaktik, yaitu reaksi alergi yang dapat mengancam nyawa pasien sehingga membutuhkan penanganan gawat darurat. Komplikasi lain yaitu adanya gangguan pembekuan darah, terutama pada anak yang mengidap gangguan pendarahan. Pasien juga rentan terhadap infeksi, yang ditandai dengan pembekakan, demam dan nyeri yang tidak kunjung hilang bahkan setelah diberi pengobatan.

Walaupun memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi, tapi rekonstruksi telinga tidak mampu mencegah kondisi lama untuk kembali terjadi.

Rujukan:

  • Adamson PA, Doud Galli SK, Chen T. Otoplasty. In: Cummings CS, Flint PW, Haughey BH, et al, eds. Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2010: bab 33.
Bagikan informasi ini: