Apa itu Bedah Penggantian Pinggul Parsial?

Bedah penggantian pinggul parsial adalah suatu prosedur di mana setengah dari sendi pinggul diganti dengan sendi prostetik atau buatan, terutama pada bagian sendi bola femur (kepala femoral). Prosedur yang juga dikenal dengan nama hemiartroplasti pinggul ini, berbeda dengan bedah penggantian pinggul total, di mana penggantian dilakukan pada sendi bola maupun soketnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Bedah Penggantian Pinggul Parsial dan Hasil yang Diharapkan

Bedah penggantian pinggul parsial dilaksanakan pada pasien yang menderita masalah pada sendi bola femur. Masalah tersebut bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu atau cedera traumatis, seperti:

  • Artritis pada pinggul, yang menyebabkan tumbuhnya tulang kecil yang mengarah ke luar atau cacat tulang lainnya

  • Degenerasi tulang

  • Fraktur

Jika dibiarkan, kondisi di atas dapat menyebabkan nyeri yang persisten dan membatasi pergerakan sendi.

Penggantian sendi parsial lebih umum dipilih untuk mengobati cedera pinggul traumatis dan biasanya disarankan pada pasien berusia lanjut yang memiliki tulang rapuh dan rawan retak, meskipun hanya terpleset atau jatuh ringan. Sementara, kondisi degeratif (atau makin parah seiring bertambahnya usia) biasanya membutuhkan penggantian pinggul total, karena sendi bola maupun soketnya perlu diganti.

Penggantian pinggul parsial direkomendasikan berdasarkan keparahan fraktur pinggul yang digolongkan ke dalam beberapa tipe, di antaranya:

  • Tipe 1 - Terjadi retakan, tulang stabil namun tertekan di saat bersamaan

  • Tipe 2 - Retakan penuh, namun tulang tidak mengalami dislokasi

  • Tipe 3 - Patah tulang dan kedua fragmennya mengalami dislokasi, namun masih belum terlepas

  • Tipe 4 - Patah tulang dan kedua fragmennya mengalami dislokasi dan terlepas dari satu sama lain

Tipe 1 hingga 3 umumnya tidak menganggu sendi dan dapat ditangani dengan alat yang disebut pin. Sementara, tipe 4 memerlukan pembedahan karena seringkali mengganggu pasokan darah ke sendi bola femur. Pada kasus yang demikian, penggantian pinggul parsial sangat disarankan.

Setelah prosedur, nyeri yang dirasankan pasien akan hilang sepenuhnya. Selain itu, pinggul dan kaki pasien juga dapat digunakan untuk menjalani aktivitas normal.

Cara Kerja Bedah Bedah Penggantian Pinggul Parsial

Penggantian pinggul parsial, memakan waktu 60 hingga 90 menit, bertujuan melepaskan sendi bola femur yang retak, mengikis ujung sendi yang retak, dan memasangkan satu potongan sendi prostetik.

Setelah membuat sayatan pada bagian depan atau di sisi samping pinggul, dokter bedah akan menjauhkan otot dan tendon dari sendi untuk menjangkau soket pinggul dan sendi bola femur.

Kemudian, dokter bedah dengan alat khusus akan mengangkat bagian kepala dan leher sendi bola femur, sebelum mempersiapkan batang femoral untuk pemasangan sendi bola prostetik atau buatan.

Setelah sendi bola buatan berhasil dipasangkan, sendi akan dihubungkan kembali. Jaringan di sekitarnya, seperti otot dan tendon, akan dikembali ke posisi normal dan sayatan akan ditutup dengan jahitan.

Prosedur ini biasanya dilakukan dengan bius regional atau total. Pasca bedah pasien akan diberikan obat nyeri melalui infus. Selain itu, pasien juga mendapatkan obat lainnya segera setelah bedah untuk mencegah infeksi. Bantal akan diletakkan di antara kaki untuk menjaga pinggul pada posisi yang benar. Kateter urin dipasangkan untuk membantu pasien buang air kecil tanpa harus bergerak atau bangun dari tempat tidur. Stocking penekan juga dipakai pasien untuk mengurangi risiko penggumpalan darah pada kaki.

Masa pemulihan dari prosedur bedah penggantian pinggul parsial bergantung, apakah pasien mengikuti instruksi pasca bedah dengan baik. Ada tindakan pencegahan yang perlu diikuti pasca bedah agar komplikasi tidak timbul, di antaranya perawatan luka yang tepat, pola makan sehat, dan pergerakan sendi yang benar. Selain itu, pasien perlu menjalani rehabilitasi penggantian sendi parsial untuk menguatkan kaki dan mengembalikan pergerakan pinggul seperti semula untuk meminimalisir risiko cedera di masa yang akan datang.

Rehabilitasinya meliputi mengajarkan pasien cara duduk, berdiri, mengenakan pakaian, mandi, naik tangga, dan menggunakan toilet yang aman. Pasien mungkin membutuhkan alat bantu berjalan seperti kruk untuk beberapa minggu awal pasca bedah.

Lamanya masa pemulihan berkisar antara tiga hingga enam minggu, di mana setelahnya pasien dapat menjalankan aktivitas dengan normal. Namun, pada pasien berusia lanjut masa pemulihan dapat memakan waktu lebih dari enam bulan.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Bedah Penggantian Pinggul Parsial

Pada beberapa kasus, penggantian pinggul total dianggap lebih bermanfaat dibandingkan penggantian parsial karena risiko tertentu. Misalnya, pada pasien muda yang soket pinggulnya masih sehat, penggunaan sendi bola femur prostetik hanya akan membuat sendi pada dasar soket aus. Akibatnya masalah pergerakan akan muncul. Jadi, terkadang demi kepentingan pasien, penggantian pinggul total yang dipilih.

Ada juga kondisi lain, di mana dokter bedah tulang merekomendasikan penggantian pinggul total dibandingkan parsial. Di antaranya:

  • Adanya benjolan tulang pada femur

  • Tulang pada soket tipis

  • Adanya fraktur lain di dekat sendi pinggul

Sementara, komplikasi potensial lain yang terkait dengan bedah penggantian pinggul parsial adalah:

  • Dislokasi

  • Infeksi

  • Implan yang kendor

Selain itu, nyeri yang dirasakan pasien juga perlu diperhatikan. Normal jika pasien merasa nyeri pasca bedah selama masa pemulihan. Namun, jika nyerinya semakin parah, pasien disarankan segera berkonsultasi ke dokter.

Rujukan:

  • “Partial hip replacement.” Advanced Orthopaedics. https://advancedortho.me/wp-content/uploads/2013/04/Partial-Hip-Replacement.pdf

  • “Partial hip replacement.” University of Wisconsin, School of Medicine and Public Health. http://www.uwhealth.org/health/topic/surgicaldetail/partial-hip-replacement/abr6036.html

  • Amit K, Yaron B, Alexander L, Rostislav N, David R. “Functional outcome after partial hip replacement for femoral neck fracture (subcapital fracture) with Austin Moore prosthesis.” Journal of Trauma and Treatment. https://www.omicsgroup.org/journals/functional-outcome-after-partial-hip-replacement-for-femoral-neck-fracture-subcapital-fracture-with-austin-moore-prosthesis-2167-1222.1000188.php?aid=26160

  • Nerurkar AA, Panse JB, Sancheti KH, Joshi R, Shyam A, Sancheti P. “Surgical and functional outcomes of conversion total hip replacement after a partial hip replacement.” Journal of Medical Thesis. 2016 January 10. Vol. 4 (1): Jan-Apr 2016. http://journalmedicalthesis.com/2016/01/surgical-and-functional-outcomes-of-conversion-total-hip-replacement-after-a-partial-hip-replacement/

  • Ashman B, Cruikshank D, Moran M. “Total hip replacement: Relieving pain and restoring function.” BCMJ 2016 November. Vol. 58 (9): 505-513. http://www.bcmj.org/articles/total-hip-replacement-relieving-pain-and-restoring-function

Bagikan informasi ini: