Apa itu Ablasi Endometrium?

Ablasi endometrium adalah operasi untuk meluruhkan lapisan endometrium, yang dianjurkan bagi pasien yang menderita pendarahan uterus abnormal atau disfungsional. Operasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan sinar laser, ablasi thermal (panas), pembekuan, pemanasan cairan bebas, atau dengan listrik.

Lapisan endometrium, atau yang disebut endometrium, adalah selaput lendir paling dalam pada rahim (uterus). Terdiri dari lapisan-lapisan jaringan ikat, yang ketebalannya tergantung pada pengaruh hormon masing-masing individu. Ketika seorang wanita mencapai usia reproduktif (masa subur), lapisan jaringan ikat yang sejak awal hanya satu lapis, akan menjadi dua dan melindungi bagian dalam rongga rahim.

Lapisan pertama yang melapisi rahim disebut lapisan fungsional, yang terbentuk sehabis datang bulan, dan akan sepenuhnya meluruh ketika siklus datang bulan kembali dimulai. Dibawah lapisan fungsional adalah lapisan basal, yang tidak akan meluruh selama siklus datang bulan, dan sebagai dasar di mana lapisan fungsional terbentuk.

Normalnya, pembuluh arteri yang memberikan pasokan darah ke lapisan fungsional akan mengerut, sehingga lapisan tidak mendapat glukosa dan oksigen. Lapisan ini akan mati dan meluruh selama datang bulan. Bagi pasien yang menderita pendarahan uterus abnormal atau disfungsional, pendarahan hebat saat datang bulan tidak akan terjadi lagi setelah menjalani ablasi endometrium.

Siapa yang Harus Menjalani Ablasi Endometrium & Hasil yang Diharapkan

Ablasi endometrium biasanya disarankan oleh ginekolog untuk:

  • Pasien yang mengalami pendarahan hebat yang tidak biasa selama datang bulan, atau yang mengalami siklus datang bulan lebih dari 7 hari.

  • Wanita yang tidak sedang hamil dan berencana untuk tidak memiliki anak lagi. Ablasi endometrium bisa dianggap sebagai pilihan terakhir, karena sama seperti histerektomi (pengangkatan rahim), operasi ini permanen dan tidak dapat dikembalikan lagi.

  • Pasien yang menderita pendarahan berlebih saat datang bulan dan tidak mempan terhadap pengobatan lain

  • Pasien dengan masalah kesehatan yang membuat mereka tidak dapat menjalani histerektomi.

Ablasi endometrium tidak disarankan untuk:

  • Pasien yang mengalami pendarahan rahim yang disebabkan oleh kanker – sel kanker yang menyebabkan kanker rahim biasanya bersembunyi di dalam organ dan tidak dapat diangkat sepenuhnya hanya dengan menghancurkan lapisan endometrium.

  • Wanita yang mengalami infeksi saluran kelamin aktif.

Setelah menjalani ablasi endometrium, pasien dapat merasakan pendarahan selama datang bulan akan berkurang. Bahkan, beberapa pasien melapor bahwa siklus datang bulan mereka telah terhenti sama sekali. Pasien yang lebih muda dapat mengharapkan hasil yang lebih baik daripada pasien yang lebih tua, tetapi mungkin akan mengalami pendarahan hebat setelah beberapa bulan. Maka itu, mereka dapat menjalani ablasi endometrium kembali.

Cara Kerja Ablasi Endometrium

Sebelum ablasi endometrium, biopsi pada lapisan endometrium akan dilakukan untuk menentukan, apakah pendarahan pada vagina yang berlebihan disebabkan oleh kanker atau bukan. Ginekolog juga dapat melakukan tindakan pencitraan untuk melihat ke dalam rahim tanpa memilih metode bedah beresiko. Proses pencitraan dapat membantu dokter menentukan apakah terdapat fibroid (tumor jinak) atau polip di bawah lapisan endometrium. Bila memang ada, pertumbuhan fibroid atau polip tersebut yang menyebabkan pendarahan hebat pada vagina. Fibroid dan tumor dapat diangkat tanpa menghancurkan seluruh lapisan rahim. Seandainya pasien menggunakan IUD (spiral), IUD harus dilepas terlebih dahulu sebelum proses dimulai.

Pasien juga dapat diberi resep obat untuk terapi hormon selama beberapa minggu sebelum operasi ablasi endometrium, untuk mengecilkan ukuran lapisan endometrium. Lapisan endometrium yang lebih kecil atau lebih tipis akan meningkatkan tingkat keberhasilan operasi.

Dokter bedah akan memperbesar leher rahim untuk memasukkan alat-alat ke dalam rongga rahim. Alat-alat tersebut dapat mengeluarkan laser, panas, dingin yang membekukan, atau listrik, yang dapat menghancurkan lapisan rahim. Pemilihan metode yang digunakan untuk ablasi endometrium tergantung pada ukuran, bentuk, kondisi rahim pasien, dan adanya kanker jinak. Dokter bedah juga harus mempertimbangkan apakah pasien telah menjalani terapi hormon sebelumnya, serta jenis pembiusan atau obat penenang seperti apa yang diinginkan pasien.

Teknologi modern telah membuat proses ablasi ini dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Prosesnya dapat dilakukan di klinik atau di pusat kesehatan dengan rawat jalan, tetapi jika gejalanya tetap ada, pasien mungkin akan diminta datang kembali untuk mengulangi prosesnya.

Kemungkinan Komplikasi & Resiko Ablasi Endometrium

Ada beberapa resiko dan kemungkinan komplikasi yang muncul setelah menjalani ablasi enometrium. Secara tidak sengaja, rahim bisa saja berlubang jika dokter bedah tidak cukup hati-hati saat meluruhkan lapisan endometrium. Leher rahim juga dapat terluka saat memasukkan alat-alat yang dibutuhkan untuk mengangkat atau menghancurkan lapisan jaringan ikat yang melindungi organ.

Kemungkinan komplikasi lainnya temasuk infeksi rahim, cedera dan luka bakar pada rongga rahim bahkan pada usus besar.

Pada beberapa proses ablasi, cairan akan digunakan untuk memperbesar rongga rahim agar prosesnya dapat dilakukan dengan benar. Cairan ini dapat terserap ke dalam aliran darah, sehingga dapat menyebabkan edema paru.

Beberapa pasien melaporkan bahwa mereka mengalami mual, keram pada daerah perut, serta buang air terlalu sering dan keluar darah, setelah menjalani operasi.

Rujukan:

  • Lentz G. Endoscopy: Hysteroscopy and laparoscopy: Indications, contraindications and complications. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2012:chap 10.
Bagikan informasi ini: