Apa itu Pemeriksaan Alat Pacu Jantung?

Pemeriksaan alat pacu jantungadalah pemeriksaan kesehatan rutin bagi semua pasien yang menggunakan alat pacu jantung. Alat ini berfungsi untuk mengendalikan detak jantung yang tidak normal, akibat penyakit jantung seperti aritmia.

Pengawasan rutin harus dilakukan untuk memastikan alat bekerja dengan normal dan sesuai dengan kebutuhan pasien. Pemeriksaan dilakukan dengan menghubungkan alat pacu jantung ke komputer dengan elektroda yang dilekatkan di tubuh pasien. Tindakan ini sangat aman dan dilakukan oleh teknisi terlatih.

Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan Alat Pacu Jantung dan Hasil yang Diharapkan

Pemeriksaan alat pacu jantung harus dijalani oleh semua pasien yang menggunakan alat pacu jantung untuk mengobati berbagai penyakit jantung, termasuk bradikardia (irama jantung yang lambat) dan gagal jantung.

Alat pacu jantung adalah alat elektronik yang menggunakan baterai, yang energinya akan habis seiring berjalannya waktu. Jika sudah hampir habis, alat ini akan melambat. Namun, hal ini sulit dirasakan oleh pasien. Jika energi baterai benar-benar habis tanpa diketahui, tentunya akan sangat berbahaya bagi keselamatan nyawa pasien. Oleh sebab itu, pemeriksaan alat pacu jantung dilakukan untuk memeriksa sisa energi pada baterai sebagai tindakan pencegahan.

Alat pacu jantung ini, juga dapat mengalami malfungsi. Berikut adalah tanda-tandanya: * Kesulitan bernapas * Pembengkakan kaki dan pergelangan kaki * Pingsan * Pusing * Perubahan detak jantung secara mendadak


Oleh karenanya, pemeriksaan alat pacu jantung disarankan saat:

  • 24 jam setelah pemasangan alat
  • Enam minggu setelah pemasangan alat
  • Tiga bulan setelah pemeriksaan terakhir
  • Enam bulan setelah pemeriksaan bulanan ketiga
  • Satu tahun setelah pemeriksaan bulanan keenam
  • Setelah itu, sekali setiap tahunnya


Yang akan diperiksa dari alat pacu jantung adalah:

  • Sisa energi baterai
  • Fungsi utama
  • Pengaturan khusus, tergantung pada kondisi jantung pasien
  • Kinerja alat pacu jantung saat pasien beristirahat dan beraktivitas


Apabila ada kelainan yang ditemukan saat pemeriksaan, alat pacu jantung akan diubah agar sesuai dengan kondisi pasien serta membantu pasien mencapai hasil pengobatan yang diharapkan.

Saat pemeriksaan selesai, teknisi akan memberitahu pasien tentang status alat, termasuk batas maksimal dan minimal dari detak jantung. Pasien juga harus diingatkan tentang hal-hal yang harus diperhatikan serta tanda-tanda yang akan muncul, jika ada masalah pada alat pacu jantungnya. Apabila menemukan tanda tersebut, pasien harus segera mencari pertolongan medis.

Apabila alat pacu jantung ternyata tidak berfungsi dengan normal, tidak sesuai dengan kondisi jantung pasien, atau harus diganti, maka akan dilakukan operasi kecil untuk mengambil alat ini.

Cara Kerja Pemeriksaan Alat Pacu Jantung

Pemeriksaan alat pacu jantung dilakukan oleh teknisi di laboratorium rumah sakit atau klinik jantung yang sudah bersertifikat dan terlatih. Pasien akan diminta untuk berbaring di kursi pemeriksaan. Teknisi akan memasang elektroda di dada pasien dan magnet khusus tepat di atas lokasi alat pacu jantung. Elektroda tersebut akan disambungkan ke komputer untuk mengendalikan alat pacu jantung dan memeriksa apakah alat berfungsi dengan normal.

Tindakan ini nyaman dan tidak menyakitkan. Pemeriksaan biasanya hanya membutuhkan sekitar 30-40 menit. Lamanya tindakan akan bergantung pada jenis alat pacu jantung yang digunakan.

Tidak ada persiapan yang harus dilakukan sebelum pemeriksaan alat pacu jantung.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Pemeriksaan Alat Pacu Jantung

Pemeriksaan alat pacu jantung adalah tindakan yang aman bagi pasien dengan penyakit jantung. Bahkan, sebenarnya tindakan ini merupakan tindakan pencegahan yang memastikan alat pacu jantung tidak bermasalah dan pasien penyakit jantung dapat tetap hidup dengan normal dan sehat.

Rujukan:

  • Epstein AE, et al. (2013). 2012 ACCF/AHA/HRS focused update incorporated into the ACCF/AHA/HRS 2008 guidelines for device-based therapy of cardiac rhythm abnormalities. Circulation, 127(3): e283-e352.

  • Res JCJ, et al. (2004). Pneumothorax resulting from subclavian puncture: a complication of permanent pacemaker lead implantation. Netherlands Heart Journal, 12(3): 101-105.

Bagikan informasi ini: