Apa itu Konsultasi Bedah Cacat Jantung Lanjutan?

Pasien yang telah menjalani prosedur pembedahan untuk memperbaiki kelainan bentuk jantung atau cacat jantung bawaan akan dijadwalkan untuk menjalani konsultasi lanjutan dengan dokter bedah dan dokter umum.

Konsultasi pasca bedah lanjutan dapat mencegah munculnya komplikasi serius yang mungkin timbul akibat prosedur pembedahan. Oleh karena itu, baik prosedur sudah lama maupun baru selesai dilakukan, pasien yang telah menjalani bedah jantung sangat disarankan untuk menjalani konsultasi maupun perawatan lanjutan untuk menjaga kesehatannya.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Bedah Cacat Jantung Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi bedah cacat jantung lanjutan merupakan bagian penting dari perawatan pasca bedah bagi pasien yang telah menjalani pembedahan jantung. Semua pasien diwajibkan untuk melakukan konsultasi ini, mulai dari bayi yang menjalani bedah perbaikan jantung usia dini hingga orang dewasa yang menjalani pembedahan di masa tua karena gejala yang semakin memburuk akibat cacat jantung bawaan ringan yang diderita.

Konsultasi lanjutan dijadwalkan bagi semua pasien tanpa memandang jenis cacat jantung mereka maupun jenis prosedur pembedahan yang dijalani.

Beberapa contoh cacat jantung yang dapat diobati dengan pembedahan meliputi:

  • Stenosis katup aorta – Bedah untuk memperbaiki cacat jantung jenis ini dapat dijadwalkan sesuai dengan tingkat keparahan kondisinya, misalnya sesempit apa katup jantung pasien. Jika bayi memiliki katup jantung yang terlalu sempit, bedah dapat dilakukan lebih awal. Jika tidak, bedah jantung dapat menunggu hingga bayi benar-benar siap. Masalah penyempitan katup jantung dapat diobati dengan melakukan valvuloplasti menggunakan balon.

  • Stenosis katup paru – Bedah ini merupakan bagian penting dari rencana pengobatan bagi pasien penderita penyakit ini, yang dapat membuat pasien beresiko mengalami gagal jantung jika penyakit ini tidak diobati.

  • Cacat ventrikel tunggal – Bedah untuk mengobati kecacatan ini dapat dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama sebaiknya dilakukan segera setelah lahir. Tahap kedua dilakukan ketika anak mencapai usia 4-6 tahun. Setelah itu, tahap terakhir dapat dilakukan sekitar 18-36 bulan setelah tahap kedua.

  • Koarktasio aorta – Kondisi ini ditandai dengan adanya hambatan pada aliran darah menuju aorta, sehingga pembedahan perlu dilakukan sesegera mungkin. Prosedur untuk mengobati kondisi ini serupa dengan prosedur cangkok bypass arteri koroner. Bedah cacat jantung dapat melibatkan bagian jantung manapun, dan mungkin dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda, seperti:

  • Katerisasi jantung – Bedah berbasis kateter adalah prosedur yang lebih aman dan minim resiko yang dilakukan dengan memasukkan kateter melalui lubang dari sayatan kecil pada kulit pasien. Dengan berkembangnya teknik ini, prosedur pembedahan jantung menjadi lebih aman dan lebih memungkinkan bagi bayi, sehingga orang tua dapat memastikan cacat jantung anak dapat diperbaiki segera setelah anak lahir.

  • Bedah jantung terbuka – Bedah ini dikenal juga sebagai bedah tradisional untuk menangani kelainan jantung, yaitu sebuah prosedur pembedahan yang dilakukan langsung pada jantung. Saat ini, dengan adanya prosedur berbasis kateter, bedah jantung terbuka hanya dilakukan pada kasus yang sangat parah. Beberapa prosedur bedah lainnya dilakukan untuk memperbaiki cacat jantung pada bagian jantung yang sangat spesifik. Seluruh pasien yang menjalani prosedur ini wajib menjalani konsultasi lanjutan di kantor atau klinik dokter bedah.

Tujuan dari konsultasi lanjutan ini adalah untuk:

  • Menilai kondisi pasien dan memastikan kepulihannya
  • Membandingkan kondisi pasien setelah dan sebelum menjalani pembedahan
  • Mengevaluasi apakah hasil pembedahan sudah sesuai dengan harapan
  • Memastikan tidak ada resiko, komplikasi, maupun efek samping yang timbul
  • Menentukan langkah selanjutnya yang sesuai dengan kondisi pasien

Cara Kerja Konsultasi Bedah Cacat Jantung Lanjutan

Umumnya, konsultasi bedah cacat jantung lanjutan dijadwalkan setelah pembedahan selesai, dan pasien dianjurkan untuk mengikuti konsultasi supaya pasien mendapatkan perawatan terbaik dari dokter dan perawat. Konsultasi lanjutan pertama dijadwalkan dalam waktu seminggu setelah pasien pulang dari rumah sakit dan biasanya berlangsung kurang dari 1 jam. Jadwal ini diberikan berdasarkan instruksi dokter yang melakukan bedah jantung pada pasien. Setelah konsultasi lanjutan pertama, konsultasi lanjutan kedua dijadwalkan sekitar 8 minggu setelahnya.

Selama konsultasi lanjutan berlangsung, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk memeriksa kesehatan pasien. Dokter juga akan menanyakan beberapa hal, misalnya apa yang dirasakan pasien. Jika pasien yang menjalani konsultasi ini adalah pasien anak, dokter akan bertanya kepada orang tua mengenai gejala dan perilaku anak sebelum dan setelah menjalani pembedahan. Kemudian, dokter akan memeriksa tanda-tanda komplikasi yang mungkin muncul.

Jika tidak ada masalah yang ditemukan, dokter jantung akan memberikan pasien saran mengenai aktivitas, pola makan, pekerjaan, dan obat-obatan yang perlu dilakukan. Di akhir konsultasi, dokter akan memberikan rencana perawatan jangka panjang, yang akan menentukan jadwal kunjungan pasien selanjutnya. Konsultasi selanjutnya biasanya dijadwalkan setidaknya 1 kali setahun dan wajib dilakukan untuk menjaga kesehatan jangka panjang pasien bedah jantung.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Bedah Cacat Jantung Lanjutan

Untuk menghindari kemungkinan komplikasi dan resiko, pasien yang menjalani bedah cacat jantung harus melakukan konsultasi lanjutan dengan dokter jantung sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan dan mengikuti pedoman kesehatan yang telah diberikan oleh dokter. Dengan mengikuti konsultasi, pasien dapat melindungi dirinya dari kemungkinan timbulnya komplikasi dan resiko yang berkaitan dengan prosedur bedah jantung, yang meliputi:

  • Infeksi
  • Endokarditis berinfeksi
  • Reaksi alergi terhadap obat bius yang tertunda
  • Perdarahan
  • Hilang darah
  • Pembekuan darah
  • Kegagalan organ
  • Stroke
  • Serangan jantung
  • Hilang ingatan
  • Nyeri dada
  • Demam ringan
    Rujukan:

  • Webb GD, Smallhorn JF, Therrien J, Redington AN. Congenital heart disease. In: Mann DL, Zipes DP, Libby P, Bonow RO, Braunwald E, eds. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 62.

Bagikan informasi ini: