Apa itu Perawatan Pasca-Bedah Refraktif?

Perawatan pasca-bedah refraktif adalah pertemuan antara pasien dan ahli bedah mata yang dilakukan setelah prosedur operasi mata atau bagian sekitar mata selesai. Tujuan prosedur ini ialah untuk menilai tingkat keberhasilan operasi mata dan memastikan tidak adanya komplikasi. Jika terjadi komplikasi, perawatan lanjutan ini akan segera mendeteksi dan mengatasinya, agar tidak memburuk.

Mata memiliki fungsi seperti kamera yang bekerja menangkap gambar. Gambar-gambar tersebut lalu diubah menjadi sinyal listrik yang dapat diubah oleh otak.

Mata mampu menangkap semua yang dilihat melalui bagian-bagiannya, yaitu kornea (lapisan paling luar yang melindungi pupil), anterior chamber (berisi cairan mata yang disebut aqueous humor), dan iris (selaput pelangi). Dengan bantuan lensa mata, kornea akan memantulkan atau membiaskan cahaya, sehingga cahaya menembus pupil dan iris, di mana cahaya kemudian menyempit sebelum sampai ke retina. Retina terbentuk dari beberapa urat yang mengubah cahaya menjadi sinyal listrik.

Kornea akan menjadi bulat saat lensa mata terang. Orang-orang dengan bentuk kornea yang tidak sempurna, membuat lensa mata terhalangi sehingga pandangan menjadi kabur. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan berbagai cara, termasuk menggunakan kacamata dan lensa kontak atau mengikuti prosedur bedah refraktif.

Bedah reaktif pada mata ialah rangkaian teknik mengubah bentuk kornea yang bertujuan untuk menyembuhkan atau meringankan keadaan tersebut. Masalah pada kornea yang paling banyak ditemukan antara lain hyperopia (rabun dekat), miopia (rabun jauh), astigmastisme (silindris), dan presbyopia (rabun tua). Keratoconus adalah gangguan degenerative mata, ditandai dengan kornea yang berangsur menipis sehingga lebih mengerucut, kondisi ini biasa ditemui pada 1 dari 500 orang yang mengalami penyakit ini. Pembedahan yang dilakukan terhadap keratoconus disebut sebagai operasi katarak, yaitu mengganti lensa alami mata dengan lensa intraokular buatan (IOL).

Siapa yang Perlu Menjalani & Hasil yang Diharapkan

Perawatan pasca-bedah refraktif dianjurkan bagi:

  • Orang-orang yang telah menjalani operasi refraktif – Pasien diwajibkan menemui dokter bedahnya setelah operasi refraktif selesai. Perawatan pasca-operasi merupakan saat yang tepat bagi pasien dan dokter untuk menganalisa tingkat keberhasilan operasi dan menentukan keberadaan komplikasi atau efek samping.

  • Pasien dengan gejala komplikasi – Selalu ada risiko pada prosedur bedah, begitu pula pada operasi refraktif. Data menunjukkan bahwa komplikasi sedikitnya terjadi pada 5% dari total jumlah orang yang telah menjalani prosedur lasik, yaitu salah satu jenis operasi refraktif yang paling terkenal di masa ini. Perawatan pasca-operasi sangatlah penting, baik untuk mencegah maupun mengatasi komplikasi yang terjadi.

  • Pasien yang rentan akan risiko – Faktor seperti usia, bawaan genetik, kondisi yang menyebabkan adanya penyakit baru, dan lingkungan dapat membawa pengaruh buruk dalam jangka panjang pada mata. Perawatan setelah operasi diperlukan untuk meredakan risiko yang berkembang karena faktor-faktor pemicu gejala dan komplikasi tersebut.

Manfaat perawatan pasca-bedah refraktif:

  • Meminimalisir risiko komplikasi sehingga pasien akan cepat pulih.
  • Mengendalikan dan menyembuhkan komplikasi yang timbul pasca operasi tepat pada waktunya.
  • Kemungkinan risiko yang meningkatkan perkembangan gangguan mata, kecuali jika prosedur bedah dikurangi
  • Pasien akan mendapat penyuluhan dan pelajaran mengenai cara perawatan mata selama mengikuti sesi perawatan.

Cara Kerja Perawatan Pasca-Bedah Refraktif

Pasca-bedah atau perawatan setelah bedah selesai harus dirundingkan dengan pasien, bahkan pada evaluasi sebelum operasi. Karena perawatan ini bisa memakan waktu, maka harus benar-benar dipahami dan pasien harus membuat keputusan yang tepat

Jadwal prosedur lanjutan dapat beragam tegantung pada kondisi pasien secara keseluruhan. Pasien biasanya menghendaki:

  • Sesi pertama dari perawatan diadakan sehari setelah operasi. Pada sesi ini, dokter akan menentukan tingkat keberhasilan operasi dengan melakukan beberapa tes pada mata, seperti tonometri (pengukuran tekanan inraokular mata), pemeriksaan mata bagian dalam (dilated fundus), dan biomikroskopi. Prosedur biomikroskopi meliputi pemeriksaan kornea, retina, lensa mata, dan cairan bening mata dengan bantuan lampu celah (slit) yang terpasang pada mikroskop dwikanta.
  • Pasien akan diminta melakukan kunjungan pada minggu berikutnya.
  • Pasien kembali melakukan kunjungan setelah satu bulan.
  • Jika pertemuan terakhir berjalan lancar, pasien akan diminta untuk kembali melakukan kunjungan 3 bulan kemudian.


Prosedur pasca-bedah ini bisa terus berjalan hingga bertahun-tahun, tergantung pada hasil yang didapat setelah operasi refraktif dan risiko komplikasi pada pasien. Pada kondisi tertentu, prosedur ini dilakukan hingga akhir hayat pasien. Bagaimanapun, jarak antara satu pertemuan dengan kunjungan selanjutnya bisa menjadi lebih lama, misalnya antara 9 bulan atau satu tahun, semuanya sesuai dengan permintaan dokter.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perawatan Pasca-Bedah Refraktif

Pasien dengan gejala komplikasi dan yang mengira kerusakan refraktif pada matanya dapat kembali normal, kerap merasa frustasi atas prosedur pasca-operasi yang mereka jalani. Hal ini dapat dihindari jika dokter memberi pemahaman pada pasien mengenai kemungkinan komplikasi dan risiko terkait beragam pilihan pembedahan pada evaluasi pra-operasi.

Pembedahan mata menjadi sangat menakutkan atau menimbulkan depresi terutama jika hasilnya jauh dari harapan pasien atau bahkan keadaan mata memburuk. Untuk menghindari hal-hal ini, dokter harus fokus pada kondisi mata dan fisik secara keseluruhan, termasuk kondisi mental pasien. Bila perlu, dokter harus mengadakan bimbingan penyuluhan atau menyarankan pasien dan keluarganya untuk konslutasi pada ahi terapi sehingga mereka dapat mengendalikan emosi yang mungkin meningkat karena prosedur operasi.

Rujukan:

  • Mimura T, Azar DT. Current concepts, classification, and history of refractive surgery. In: Yanoff M, Duker JS, Augsburger JJ, et al. Ophthalmology. 3rd ed. St. Louis, MO: Elsevier Mosby; 2008: bab 3.1.

  • Questions to ask when considering LASIK. San Francisco, CA. American Academy of Ophthalmology. Available at: http://www.geteyesmart.org/eyesmart/glasses-contacts-lasik/lasik-questions-to-ask.cfm. Diakses pada 30 Agustus 2014.

  • Young JA, Kornmehl EW. Preoperative evaluation for refractive surgery. In: Yanoff M, Duker JS, Augsburger JJ, et al. Ophthalmology. 3rd ed. St. Louis, MO: Elsevier Mosby; 2008: bab 3.2.

Bagikan informasi ini: