Apa itu Kunjungan Bedah Paru Lanjutan?

Kunjungan bedah paru lanjutan adalah janji temu antara dokter spesialis paru (pulmonolog) dengan pasien setelah melakukan prosedur pembedahan.

Paru-paru adalah sepasang lobus yang terlindungi dengan aman di dalam tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari pembuluh dan kantung darah yang berfungsi untuk menarik oksigen, yaitu unsur yang terkandung dalam darah yang disebarkan oleh jantung untuk menjaga agar tubuh tetap hidup. Paru-paru juga berfungsi untuk mengeluarkan karbon dioksida sebagai limbah dari proses pernapasan.

Seperti bagian tubuh dan organ lainnya, paru-paru dapat rusak akibat berbagai faktor, seperti infeksi, penyakit, dan luka. Pada kasus di mana pengobatan dan perawatan tanpa resiko tidak bekerja, dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani pembedahan paru-paru sebagai pilihan pengobatannya.

Pembedahan paru-paru sering dilakukan untuk mengangkat setengah atau seluruh bagian paru (manusia dapat bertahan hidup hanya dengan satu paru-paru) untuk menyelamatkan bagian paru yang lainnya. Pada kasus yang lebih serius, transplantasi paru-paru dapat dilakukan. Apapun alasannya, setiap pembedahan membutuhkan perawatan lanjutan untuk memantau keadaan pasien setelah prosedur.

Siapa yang Perlu Menjalani Kunjungan Bedah Paru Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Kunjungan bedah paru lanjutan dilakukan:

  • Bagi pasien kanker paru-paru – Kanker paru-paru merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi baik pada pasien laki-laki maupun perempuan. Beberapa jenis penyakit ini sangat ganas, sehingga pembedahan sering menjadi pilihan pengobatan pertama. Kunjungan lanjutan untuk penyakit ini dilakukan untuk memantau proses pemulihan pasien, terutama karena adanya kemungkinan komplikasi seperti pendarahan internal, kesulitan bernapas, dan infeksi.

  • Bagi pasien yang telah menjalani transplantasi paru-paru – Masalah utama bagi pasien transplantasi paru-paru adalah penolakan organ. Kunjungan lanjutan dibutuhkan untuk memastikan hal ini tidak terjadi atau diatasi sesegera mungkin setelah gejalanya muncul.

  • Untuk mengetahui penyebaran dan penyebab kambuhnya penyakit – Bagi pasien yang telah menjalani bedah kanker paru-paru, dokter ahli onkologi akan memantau kemungkinan kambuhnya penyakit, yang dapat terjadi dalam dua tahun pertama setelah pengobatan terakhir, seperti kemoterapi dan radioterapi.

  • Untuk mendorong pasien menghentikan kebiasaan merokok – Sebagian besar kunjungan lanjutan dilakukan untuk memastikan faktor resiko dapat dikendalikan. Salah satunya adalah merokok, yang merupakan penyebab utama kanker paru-paru. Walaupun penyakit ini dikaitkan dengan banyak faktor resiko, seperti genetik, namun 90% kasus disebabkan oleh merokok. Merokok juga dapat menyebabkan penyakit progresif seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Cara Kerja Kunjungan Bedah Paru Lanjutan

Kunjungan bedah paru lanjutan dilakukan setelah pasien menjalani prosedur pembedahan paru. Namun, kunjungan ini akan dibahas oleh dokter sebelum pembedahan, agar pasien mengetahui apa saja yang dapat terjadi setelah pembedahan. Maka dari itu, pasien harus melanjutkan kunjungannya dengan dokter bahkan setelah pengobatannya selesai. Jeda waktu kunjungan ini bergantung pada sejumlah faktor, seperti hasil pembedahan, kondisi dan tingkat keparahannya, kondisi keseluruhan pasien, dan prognosis. Jika prosedur yang dilakukan adalah pembedahan kanker paru, kunjungan dengan dokter akan lebih sering dilakukan selama 2 tahun pertama. Pada tahun pertama, kunjungan akan dijadwalkan dalam 3 bulan sekali. Pada tahun kedua, frekuensinya mungkin berkurang menjadi 3 kali setahun. Ketika pasien telah mencapai tahun ke 3 dan 4, pasien diperbolehkan untuk melakukan kunjungan hanya 2 kali setahun. Setelah itu, pasien dianjurkan untuk mengunjungi dokter 1 kali dalam setahun.

Dalam setiap konsultasi lanjutan, dokter mungkin bertanya mengenai:

  • Rasa tidak nyaman seperti nyeri dada. Nyeri dada sebenarnya adalah kondisi yang biasa terjadi pada pasien pembedahan, namun kondisi ini terkadang terjadi ketika luka mulai pulih
  • Kesulitan bernapas
  • Respon terhadap obat
  • Memperbarui riwayat kesehatan termasuk diagnosis penyakit lain
  • Gaya hidup pasien
  • Kegiatan yang dilakukan


Untuk memeriksa kesehatan pasien, dokter dapat meminta pasien untuk menjalani tes seperti sinar-X, CT dan MRI scan, serta pemeriksaan fisik. Kunjungan lanjutan dapat digunakan untuk pengobatan yang berkaitan dengan prosedur pembedahan seperti kemoterapi dan radioterapi.

Meskipun kunjungan lanjutan dijadwalkan pada tanggal yang telah ditentukan, pasien dapat meminta dokter untuk melakukan kunjungan lebih awal jika muncul gejala penyakit.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Kunjungan Bedah Paru Lanjutan

Banyak pasien yang merasa cemas beberapa hari sebelum melakukan kunjungan dengan dokter. Namun, hal tersebut dapat dimaklumi karena memiliki komplikasi atau penyakit yang kambuh dapat menjadi hal ditakuti oleh pasien. Tapi, hal ini hanya akan membuat pasien menjadi enggan melakukan kunjungan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Akibatnya, dokter mungkin gagal memantau kekambuhan atau penyebaran penyakit, perkembangan penyakit pasien, atau gaya hidup pasien yang mungkin membahayakan kesehatannya. Untuk menangani hal ini, dokter dan pasien perlu membuat hubungan yang dibangun dengan rasa nyaman dan saling percaya agar dapat mengurangi kekhawatiran pasien.

Rujukan:

  • Putnam JB Jr. Lung, chest wall, pleura, and mediastinum. In: Townsend CM Jr., Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2012:chap 58.

  • Tsiouris A, Horst HM, Paone G, Hodari A, Eichenhorn M, Rubinfeld I. Preoperative risk stratification for thoracic surgery using the American College of Surgeons National Surgical Quality Improvement Program data set: Functional status predicts morbidity and mortality. J Surg Res. 2012: epub ahead of print.

  • Wiener-Kronish JP, Shepherd KE, Bapoje SR, Albert RK. Preoperative evaluation. In: Mason RJ, Broaddus C, Martin T, et al, eds. Murray and Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier;2010:chap 26.

Bagikan informasi ini: