Apa itu Tindakan Pasca Bedah Rekonstruktif?

Bedah rekonstruktif adalah tindakan pembedahan yang dilakukan secara khusus untuk memperbaiki dan memulihkan fungsi struktur tubuh yang abnormal. Struktur tubuh yang abnormal ini dapat terjadi karena adanya cacat bawaan, perkembangan tidak normal, trauma, infeksi, tumor, atau penyakit lainnya. Tindakan pembedahan ini biasanya dilakukan dengan mengangkat jaringan dari salah satu bagian tubuh yang akan dipasangkan pada bagian tubuh yang memerlukan rekonstruktif atau diperbaiki.

Ada dua katergori umum yang memerlukan pembedahan rekonstruktif, yaitu kategori bawaan dan kategori yang diperoleh. Kondisi bawaan biasanya dicirikan dengan kelainan yang sudah ada dari sejak lahir, seperti;

  • Kelainan pada bibir dan langit-langit mulut atau bibir sumbing
  • Cacat pada telinga seperti telinga yang lebar atau telinga yang kecil/mengerut
  • Kondisi craniofacial (kelainan struktur tulang kepala dan wajah)
  • Hypospadias (kelainan urertra bagi anak laki-laki)


Sedangkan kategori yang diperoleh adalah kondisi yang ada karena kecelakaan, cedera, atau penyakit. Contohnya adalah:

  • Kelainan akibat perawatan kanker – Beberapa perawatan kanker seperti pembedahan mastektomi (untuk pengobatan kanker payudara) menyebabkan bagian tubuh tersebut menjadi rusak. Pembedahan rekonstruktif diperlukan untuk mengembalikan penampilannya seperti semula.
  • Cedera yang diakibatkan oleh kecelakaan, seperti trauma pada tangan dan pada wajah.
  • Infeksi yang menyebabkan kematian jaringan
  • Luka bakar

Siapa yang Perlu Menjalani Tindakan Pasca Bedah Rekonstruktif dan Hasil yang Diharapkan

Setiap pasien yang sudah pernah menjalani pembedahan rekonstruktif perlu mengikuti panduan untuk perawatan lanjutan yang diberikan oleh dokter bedah pasien tersebut.

Tujuan akhir dari tindakan lanjutan dari pembedahan rekonstruktif adalah untuk memastikan pasien dapat pulih seperti seharusnya dan tidak ada masalah lain yang muncul, yang tentunya dapat menghambat proses pemulihan. Jika ada masalah lain yang muncul, dokter pasien tersebut dapat mengatasinya dengan mudah dan secepat mungkin. Pelaksanaan perawatan lanjutan secara ketat dapat membuat pasien tersebut menjadi lebih sehat dan lebih kuat.

Cara Kerja Tindakan Pasca Bedah Rekonstruktif

Tindakan lanjutan dimulai langsung setelah bedah rekonstruktif selesai dilakukan. Tergantung dari jenis pembedahan rekonstruktif yang dijalani pasien, lama perawatan lanjutan dapat berlangsung selama beberapa bulan sampai beberapa tahun. Namun, biasanya tahapan perawatan akan berjalan seperti berikut ini:

Segera setelah pembedahan – Perawatan pasca-operasi dimulai di rumah sakit setelah selesainya pembedahan. Yang perlu dilakukan pasien pada tahap ini adalah istirahat dan perawatan biasanya akan diberikan oleh perawtan, dokter, dan juga anggota keluarga pasien. Perawat akan mengurus penutupan luka, pengurasan, rasa sakit, dan obat-obatan lainnya serta memastikan kondisi kesehatan pasien saat pemulihan selama pasien berada di rumah sakit. Anggota keluarga pasien dapat membantu proses pemulihan saat pasien masih berada di rumah sakit dengan memenuhi semua yang pasien perlukan dan menjaga agar pasien tidak banyak bergerak. Dokter akan terus memeriksa dan menilai proses pemulihan pasien selama jangka waktu tertentu. Jika pasien dianggap sudah dapat keluar dari rumah sakit, acuan perawatan pasca-operasi juka akan diberikan pada pasien untuk dilakukan di rumah.

Pemulihan di rumah— Meskipun perawatan dalam tahap ini tidak memerlukan pemantauan dari tenaga ahli medis, proses ini akan sangat bergantung pada pasien dan keluarganya untuk memastikan semua yang dituliskan di acuan perawatan pasca-operasi perlu dijalankan dengan baik. Biasanya, instruksi tersebut berisi cara penggantian perban dan pemantauan jika adanya infeksi. Penting bagi pasien untuk selalu memperhatikan jadwal minum obat. Perlu diperhatikan juga saat pasien melakukan aktivitas seperti mandi dan makan. Mungkin ada pantangan makanan bagi pasien pasca pembedahan. Pada fase ini, pasien diharapkan untuk banyak beristirahat agar tubuh dapat memulihkan dirinya.

Rawat jalan lanjutan— Konsultasi lanjutan akan diadakan seminggu setelah pembedahan. Dalam konsultasi ini biasanya pengangkatan pipa kuras atau jahitan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan hasil laboratorium yang bergantun pada jenis pembedahan rekonstruktif yang dilakukan. Jenis obat-obatan yang dikonsumsi juga akan diperiksa kembali tergantung keperluan pasien. Hasil dari pemeriksaan lanjutan ini akan menentukan konsultasi lanjutan berikutnya. Jika pemulihan berlangsung dengan baik, yang perlu dilakukan adalah pemonitoran. Jika ada komplikasi yang muncul seperti demam atau [pendarahan] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/pendarahan), jenis perawatan yang baru akan diberikan untuk memastikan pemulihan pasien terus berjalan dengan baik.

Perawatan lanjutan jangka panjang— Beberapa jenis bedah rekonstruktif memerlukan lebih dari satu kali tindakan untuk membantu pasien untuk pulih total. Jika ada pembedahan lanjutan, maka pemeriksaan lanjutan juga akan terus diperlukan. Perawatan lanjutan ini mungkin akan dilakukan untuk memeriksa proses pemulihan tubuh untuk memastikan tindakan atau terapi apa yang perlu dilakukan pasien. Pada akhirnya, keberhasilan tindakan akan sangat bergantung dari kemauan pasien untuk tetap mengikuti pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Tindakan Pasca Bedah Rekonstruktif

Seperti dalam jenis pembedahan apapun, selalu ada kemungkinan komplikasi dan resiko yang perlu diperhatikan oleh pasien. Tujuan dari pemeriksaan lanjutan adalah untuk meminimalisir resiko dan jika memang diperlukan, komplikasi yang muncul akan segera ditangani agar tidak bertambah parah.

Komplikasi yang paling sering muncul adalah infeksi di sekitar daerah luka. Infeksi ini dapat muncul karena pembersihan luka yang kurang bersih atau jika tubuh tidak dapat melawan infeksi tersebut dengan sendirinya karena kondisinya yang sedang melemah. Karenanya penting untuk selalu memperhatikan semua instruksi yang diberikan perawat dan dokter serta timing dari pembedahan saat pasien sedang dalam kondisi yang lebih sehat. Penting bagi pasien untuk selalu waspada, terutama jika suhu tubuh meningkat lebih dari 101°F, atau jika pasien muntah, mengalami pendarahan berlebih dan pembengkakan atau rasa sakit di sekitar daerah yang dibedah. Semakin cepat penanganan komplikasi yang muncul, semakin cepat juga pasien dapat pulih.


Rujukan:

  • The American Society of Plastic Surgeons
  • The American Society of Reconstructive Microsurgery
Bagikan informasi ini: