Apa itu Konsultasi Pasca Bedah Saraf?

Bedah saraf adalah cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan pencegahan, diagnosis, pengobatan terhadap gangguan dan penyakit yang memengaruhi otak, sumsum tulang belakang serta saraf perifer dari sistem saraf pusat. Bedah saraf juga dianggap prosedur rehabilitatif yang efektif bagi mereka yang menderita kondisi neurologis degeneratif. Namun, umumnya menjadi pilihan terakhir ketika metode konvensional tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Setiap jenis operasi, termasuk yang dilakukan dengan menggunakan teknik minimal invasif, memiliki risiko dan dapat menimbulkan komplikasi tertentu. Sehingga, konsultasi pasca bedah saraf sangat penting dan perlu dilakukan secara rutin. Tujuan utamanya adalah memantau pemulihan pasien dan menilai keberhasilan prosedur bedah. Hal ini biasanya dijadwalkan 1 - 2 minggu setelah pembedahan untuk memberikan cukup waktu bagi pasien untuk beristirahat dan memulihkan diri. Meskipun dokter memberikan instruksi perawatan dan penanganan pasca bedah yang dapat membantu kesembuhan pasien. Namun, pasien tetap perlu menjalani konsultasi pasca bedah. Sebab, melalui konsultasi ini setiap komplikasi (jika ada) dapat diatasi dan segera diobati, mencegah menjadi masalah yang lebih serius atau mengancam jiwa.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Pasca Bedah Saraf dan Hasil yang Diharapkan

Bedah saraf diperuntukkan bagi pasien anak-anak sampai orang dewasa, yang mengalami masalah otak, sumsum tulang belakang dan saraf perifer. Pasien yang perlu menjalani konsultasi pasca bedah saraf biasanya mengalami masalah berikut:

  • Tumor otak, cedera otak dan aneurisma otak - Ini adalah gangguan otak yang umumnya hanya dapat diatasi dengan bedah saraf. Tumor otak, terutama yang ganas, harus diangkat dengan pembedahan terutama jika mengganggu fungsi otak. Atau, saat seseorang mendapatkan benturan traumatis di kepala karena kecelakaan, otak mengalami cedera yang mengakibatkan pembengkakan dan pendarahan (intrakranial). Maka, ahli bedah saraf perlu memotong lubang di tengkorak untuk melancarkan kembali aliran darah. Berbeda dengan aneurisma yang merupakan pembengkakan di dinding arteri. Dokter akan mencoba mencegahnya dengan kliping atau penyegelan aneurisma untuk mencegah kebocorannya berlanjut. Karena, jika berlanjut aneurisma dapat menyebabkan stroke, bahkan kematian.

  • Bedah tulang belakang servikal dan lumbar tulang belakang – Bedah tulang belakang servikal biasanya dilakukan pada mereka yang menderita penyakit diskus serviks, serviks stenosis. Sedangkan bagi mereka yang menderita [herniasi diskus] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/pergeseran-bantalan-tulang-belakang-herniasi-diskus), kompresi fraktur lumbal, atau stenosis lumbal. Penyakit ini memengaruhi sumsum tulang belakang karena tekanan yang dibebankan pada saraf ketika cakram tulang belakang tidak sejajar, sudah aus, dan rata. Bedah saraf menghilangkan bagian diskus yang sakit untuk melepaskan tekanan pada saraf.

Dalam kasus tertentu, konsultasi pasca bedah saraf diperlukan setelah satu bulan atau satu tahun pasca operasi. Jika pasien perlu mengonsumsi obat sebagai bagian dari perawatan pasca operasi. Asupan obat secara teratur dipantau, sehingga dapat disesuaikan atau dihentikan segera. Tergantung pada tingkat pemulihan dan keadaan pasien.

Selain itu, beberapa pasien yang telah menjalani bedah saraf memerlukan perawatan rehabilitatif untuk memantau dan mengedalikan efek samping. Dalam kasus bedah otak, terapi rehabilitatif diharapkan dapat mengatasi masalah gerakan, penglihatan, kemampuan berbicara dan kontrol fungsional lainnya. Pasien perlu menjalani terapi rehabilitasi serta konsultasi pasca bedah saraf untuk memantau kemajuannya.

Cara Kerja Konsultasi Pasca Bedah Saraf

Pasien tidak dapat menghindari konsultasi pasca bedah saraf. Biasanya dijadwalkan 1 – 2 minggu pasca pembedahan, di mana pasien akan menemui dokter di kantornya untuk memastikan kesembuhan, memantau organ vital, dan mendiskusikan terapi rehabilitatif, jika diperlukan. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa jahitan, meresepkan atau menyesuaikan obat-obatan, melihat apakah ada tanda-tanda infeksi, juga memberikan instruksi tentang olah raga dan cara kembali ke aktivitas harian.

Konsultasi pasca bedah saraf bisa dipercepat, jika pasien merasakan gejala-gejala berikut pasca bedah:

  • Ada cairan yang keluar dari bekas sayatan
  • Demam tinggi, di atas 38.5 celcius
  • Pembengkakan
  • Nyeri terus menerus meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri


Ada banyak gejala lainnya, dokter akan menyarankan pasien dan anggota keluarga untuk memperhatikannya seperti halusinasi, kejang, masalah bicara, rasa geli pada lengan atau kaki, mual, serta muntah.

Perawatan rehabilitatif lainnya juga membutuhkan konsultasi pasca bedah saraf untuk mengikuti dan memantau perkembangan pasien. Konsultasi dapat dijadwalkan per tiga atau per enam bulan tergantung jadwal perawatan pasien. Pemeriksaan fisik dan diagnostik juga mungkin dilakukan saat konsultas berlangsung untuk memastikan fungsi otot dan kontrol pasien.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Pasca Bedah Saraf

Komplikasi mungkin muncul, jika peringatan yang telah diberikan dokter diabaikan. Gejala bisa diatasi secara dini untuk memastikan bedahnya sukses dan kesehatan pasien. Namun, jika diabaikan, masalah bisa menjadi serius dan sulit untuk diobati.

Rujukan:

  • Gasco J, Mohanty A, Hanbali F, Patterson JT. Neurosurgery. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 68.
Bagikan informasi ini: