Apa itu Konsultasi Pasca Bedah Kraniofasial?

Bedah kraniofasial adalah prosedur bedah invasif yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi cacat lahir atau kerusakan bawaan, cacat akibat cedera dan kerusakan pada wajah serta tengkorak. Kerusakan atau cacat pada wajah yang paling sering dijumpai adalah [bibir dan langit mulut sumbing] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/bibir-sumbing), kondisi ini terjadi pada ribuan bayi di seluruh dunia.

Setiap pasien yang telah mengikuti operasi kraniofasial akan dijadwalkan untuk melakukan konsultasi pasca bedah yang dapat berjalan rutin hingga lima tahun. Tujuan dari konsultasi ini adalah untuk memastikan keampuhan hasil prosedur bedah, mengamati kemunculan munculnya komplikasi agar dapat segera ditangani dan memberi daftar obat-obatan serta aktivitas yang harus dihindari pasien. Saat konsultasi berlangsung, dokter akan memeriksa pengaruh prosedur bedah terhadap kondisi psikologis pasien. Dan, jika diperlukan dokter akan , kemudian membuat rujukan pada psikolog, jika diperlukan..

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Pasca Bedah Kraniofasial dan Hasil yang Diharapkan

Rangkaian konsultasi pasca bedah harus dijalani oleh semua pasien yang telah mengikuti bedah kraniofasial jenis apapun. Karena pasien bedah kraniofasial seringkali masih dalam usia anak, termasuk bayi, maka konsultasi akan berupa diskusi yang dilakukan antara tim dokter dan orangtua atau wali resmi pasien.

Hasil yang diharapkan dari konsultasi ini adalah:

  • Memastikan bahwa prosedur operasi dapat memperbaiki kondisi pasien
  • Mampu mengenali komplikasi dan segera melakukan tindakan pencegahan atau meminimalisir efek komplikasi terhadap kesembuhan pasien
  • Mengidentifikasi kebutuhan pasien setelah operasi yang meliputi obat-obatan dan terapi.

Cara Kerja Konsultasi Pasca Bedah Kraniofasial

Setelah operasi kraniofasial selesai, pasien akan dirawat di ruang perawatan intensif rumah sakit selama dua hari atau lebih. Jika pasien tidak merasakan adanya komplikasi, maka ia dapat dipindahkan ke kamar biasa dan harus tetap menginap di rumah sakit selama sedikitnya satu minggu. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dokter dalam memantau kondisi pasien. Di sela rawat inap, tahap awal konsultasi pasca operasi akan dilaksanakan di rumah sakit, di mana dokter akan memeriksa adanya tanda-tanda infeksi dan komplikasi. Dokter akan member perawatan singkat berupa pemberian obat pereda nyeri serta penggantian perban luka bedah dan antibiotik untuk mengurangi risiko infeksi. Pasien yang telah menjalani operasi perbaikan cacat pada bagian rahang atau mulut akan mengikuti program diet ringan.

Ketika pasien sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, dokter akan membuat jadwal konsultasi yang harus dipatuhi oleh pasien. Tujuan konsultasi ini adalah untuk memantau kesembuhan luka, sehingga tidak timbul komplikasi dan proses pemulihan berjalan lancar sesuai harapan pasien.

Apabila prosedur bedah awal menyebabkan cacat (seperti pada bedah [pengobatan kanker] (https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/pengobatan-kanker), pasien diharuskan mengikuti [bedah rekonstrukif] (https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/bedah-rekonstruktif) yang dapat berjalan selama bertahun-tahun, tergantung pada usia dan kondisi kesehatan pasien secara umum, keterangan dari orangtua dan penyakit yang telah ada serta faktor lainnya. Pasien juga perlu melakukan kunjungan lanjutan pada ahli bedah plastik atau mulut, sesuai dengan bagian kepala atau wajah yang telah di operasi. Pasien yang lebih dewasa, yang mengalami [trauma psikologis] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/cedera) akibat perubahan fisik pasca operasi, perlu mengikuti kelompok dukungan atau segera dirujuk pada psikolog.

Konsultasi pasca bedah sebaiknya dilaksanakan rutin dalam jangka waktu berdekatan selama dua bulan setelah operasi. Prognosis dan kondisi pemulihan pasien akan menentukan jangka waktu konsultasi, yang biasanya berlangsung satu kali dalam seminggu. Jika pasien pulih sesuai dengan prediksi dokter, maka konsultasi akan dijadwalkan setiap dua hingga tiga bulan sekali selama tahun pertama, kemudian satu atau dua kali dalam setahun selama lima tahun selanjutnya.

Dari waktu ke waktu, dokter akan melakukan pemeriksaan, khususnya pemindaian untuk memeriksa struktur wajah atau kepala yang telah di operasi dan jaringan yang berada di sekitarnya.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Pasca Bedah Kraniofasial

Konsultasi pasca bedah kraniofasial adalah bagian penting dalam rancangan perawatan pasien. Oleh karena itu, jadwal konsultasi perlu didiskusikan dan disetujui oleh pasien (dan orangtua pasien), sebelum prosedur bedah dimulai. Walaupun bedah kraniofasial memiliki berbagai risiko dan komplikasi (termasuk yang mengancam nyawa pasien), konsultasi pasca bedah akan membantu mengurangi bahkan menghilangkan risiko, terutama jika dokter tidak melakukan tes apapun. Namun, dalam beberapa kasus, pemindaian berupa CT dan MRI scan akan digunakan untuk memeriksa struktur pada bagian operasi. Paparan radiasi selama proses pemindaian dapat memicu perkembangan sel kanker di kemudian hari, namun hal ini jarang terjadi.

Rujukan

  • Baker SR. Reconstruction of facial defects. In: Flint PW, Haughey BH, Lund V, et al., eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2015: bab 24.

  • McGrath MH, Pomerantz J. Plastic surgery. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012: bab 69.

Bagikan informasi ini: