Apa itu Konsultasi Lanjutan Pasca-Bedah Laparoskopi?

Semua pasien yang telah menjalani operasi laparoskopi dijadwalkan untuk konsultasi lanjutan. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk menilai kondisi pasien setelah prosedur dilakukan, mengevaluasi hasilnya, dan memastikan bahwa tidak ada komplikasi atau efek samping yang terjadi. Meskipun prosedur laparoskopi lebih aman dibandingkan dengan operasi tradisional, masih ada beberapa resiko yang perlu mempertimbangkan.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Lanjutan Pasca-Bedah Laparoskopi & Hasil yang Diharapkan

Konsultasi lanjutan ini diperlukan oleh semua pasien yang menjalani operasi laparoskopi. Tujuannya adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan operasi yang telah dilakukan.

Operasi laparoskopi yang juga dikenal sebagai operasi lubang kunci, adalah teknik bedah modern memerlukan dua atau lebih sayatan kecil. Berbeda dengan operasi tradisional yang memerlukan satu sayatan besar. Dokter bedah menggunakan laparoskop, yaitu instrumen seperti tabung dengan kamera terpasang dan sumber cahaya untuk menerangi bagian tubuh yang dioperasi. Lalu, gambar akan dikirimkan ke monitor komputer.

Dokter bedah melakukan operasi dengan menggunakan alat-alat berukuran kecil yang dapat melewati sayatan kecil. Karena kecilnya sayatan, dokter akan sulit melihat bagian tubuh dioperasi dengan mata telanjang. Oleh karena, gambar yang dikirimkan oleh kamera pada laparoskop ke monitor komputer sangat berguna sebagai panduan visual.

Operasi lubang kunci memiliki banyak keunggulan dibandingkan operasi tradisional. Karena ukuran sayatan yang lebih kecil, sehingga perdarahan yang dialami pasien dan nyeri (baik selama dan setelah operasi) berkurang secara signifikan. Prosedur ini juga mempersingkat masa inap di rumah sakit dan periode pemulihan pasien. Tapi keuntungan terbaiknya adalah tidak ada jaringan parut pasca operasi atau berukuran lebih kecil.

Operasi laparoskopi, yang dapat dilakukan sebagai prosedur diagnostik dan pengobatan, yang paling sering digunakan dalam bidang gastroenterologi, ginekologi dan urologi. Sehingga, mereka yang menjalani operasi laparoskopi usus bisa mendapatkan keuntungan dari konsultasi laparoskopi lanjutan. Di antaranya:

Gastrointestinal * Proctosigmoidectomy * Kolektomi Kanan * Kolektomi perut total - Ini dapat dilakukan untuk mengobati berbagai macam masalah usus yang melibatkan usus besar, seperti sembelit kronis, penyakit Crohn dan ulcerative colitis. * Proktokolektomi * Reseksi Abdominoperineal


Ginekologi

  • Pengangkatan kista ovarium
  • Ligasi tuba
  • Histerektomi
  • Myomectomy, atau pengangkat fibroid rahim
  • Pengangkatan endometriosis dengan laparoskopi


Urologis

  • Nefrektomi
  • Pengangkatan kista ginjal
  • Biopsi ginjal
  • Pyeloplasty
  • Ureteropyeloscopy
  • Adrenalectomy


Pada akhir kunjungan lanjutan, pertanyaan-pertanyaan berikut harus dijawab oleh dokter dengan bantuan pasien:

  • Apakah operasi berjalan seperti yang diharapkan? Dan memberikan hasil seperti yang diharapkan juga?
  • Bagaimana operasi memengaruhi kondisi pasien secara keseluruhan?
  • Apakah pasien pulih?
  • Apakah pasien mengalami efek samping atau gejala? Jika demikian, bagaimana penangannya?
  • Berdasarkan penilaian terhadap hasil operasi, apa langkah-langkah berikutnya yang perlu dijalani pasien?


Konsultasi lanjutan juga akan diperlukan untuk pasien yang menjalani laparoskopi diagnostik, atau ketika prosedur laparoskopi dilakukan untuk menentukan penyakit yang diderita oleh pasien. Dalam hal ini, tujuan dari tindak lanjut adalah untuk membahas hasil temuan dan pilihan pengobatan yang tersedia bagi pasien.

Cara Kerja Konsultasi Lanjutan Pasca-Bedah Laparoskopi

Konsultasi lanjutan pasca-bedah laparoskopi biasanya dijadwalkan oleh ahli bedah atau dokter yang menangani pasien satu hingga dua minggu setelah prosedur tersebut. Jika pasien memerlukan konsultasi lanjutan jangka panjang, pasien mungkin diminta untuk kembali setelah satu bulan atau satu atau dua kunjungan setiap tahun.

Selama konsultasi lanjutan, dokter akan memeriksa sayatan kecil dan bekas luka akibat operasi untuk memastikan luka sembuh dengan baik. Ia juga akan menilai kondisi pasien secara umum dan memeriksa efek dari prosedur. Ini dilakukan untuk menentukan keberhasilan operasi laparoskopi yang telah dilakukan. Jika perlu, dokter akan melakukan beberapa pemindaian pasca-bedah atau tes laboratorium ar untuk mendapatkan data terbaru untuk menilai kondisi pasien.

Ini juga kesempatan pasien untuk berbicara dengan dokter mereka tentang kekhawatiran yang berkaitan dengan operasi, seperti efek samping atau gejala yang sebelumnya tidak muncul. Selain itu, dokter juga akan memeriksa tanda-tanda yang dapat menunjukkan kemungkinan komplikasi.

Jika operasi dilakukan sebagai bagian dari rencana pengobatan jangka panjang, dokter juga akan membahas langkah-langkah berikutnya yang perlu dijalani oleh pasien.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Lanjutan Pasca-Bedah Laparoskopi

Selama konsultasi lanjutan, pasien tidak perlu untuk menjalani pemeriksaan utama, sehingga pasien tidak terekspos dengan resiko apapun. Malah, konsultasi ini memainkan peran penting untuk memastikan bahwa pasien tidak menderita reaksi tertunda atau komplikasi lainnya. Meskipun laparoskopi jauh lebih aman dari operasi tradisional, namun masih memiliki beberapa resiko seperti:

  • Infeksi
  • Memar di sekitar sayatan
  • Gumpalan darah
  • Reaksi alergi terhadap obat bius


Ada juga resiko yang lebih serius, seperti kerusakan atau organ berhenti berfungsi, atau kerusakan arteri. Namun resiko sangat langka dan diperkirakan terjadi di hanya 1 dari 1.000 prosedur. Ada juga resiko kecil terkait dengan penggunaan karbon dioksida selama prosedur karena hal ini dapat menyebabkan gelembung gas di dalam pembuluh darah pasien dan arteri. Jika ada pembekuan darah, maka pasien beresiko terkena trombosis pembuluh darah dalam (jika pembekuan terjadi di kaki) atau emboli paru (ketika pembekuan terjadi di paru-paru). Jika komplikasi langka di atas terjadi, maka pasien akan memerlukan operasi lain untuk mengobatinya.
Rujukan:

  • Eichel L, McDougall EM, Clayman RV. Fundamentals of laparoscopic and robotic urologic surgery. In: Wein AJ, ed. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 9.

  • Hu JC, Gu X, Lipsitz SR, Barry MJ, D'Amico AV, Weinberg AC, et al. Comparative effectiveness of minimally invasive vs. open radical prostatectomy. JAMA. 2009;302(14):1557-64. PMID: 19826025 www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19826025.

Bagikan informasi ini: