Apa itu Perawatan Pasca Bedah Kolorektal?

Perawatan pasca bedah kolorektal adalah rancangan perawatan jangka panjang bagi pasien yang telah menjalani bedah kolorektal. Perawatan lanjutan ini umumnya dilaksanakan tanpa atau bersamaan dengan metode pengobatan lain, seperti [kemoterapi] (https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/kemoterapi) atau radioterapi (apabila pasien menderita kanker pada sistem pencernaan). Pasien disarankan untuk mematuhi jadwal perawatan, baik ketika pembedahan berhasil atau gagal dalam menangani penyakit. Tujuan dari perawatan adalah memeriksa tanda kemunculan penyakit yang kambuh dan memantau perkembangan komplikasi sehingga dokter dapat segera memberikan pengobatan.

Dokter akan membuat rancangan perawatan pasca bedah kolorektal yang berisi jumlah dan jadwal kunjungan perawatan. Setiap kunjungan mengharuskan pemeriksaan kesehatan dan perkembangan pasien, serta pemeriksaan fisik.

Siapa yang Perlu Menjalani Perawatan Pasca Bedah Kolorektal dan Hasil yang Diharapkan

Jenis perawatan lanjutan ini sangat bermanfaat bagi pasien yang telah menjalani bedah kolorektal, seperti:

  • Reseksi lokal – Prosedur ini berupa operasi untuk mengangkat tumor ganas stadium awal yang kecil di area saluran pencernaan atau rektum.

  • Kolektomi – Dikenal sebagai reseksi usus, yaitu prosedur pengangkatan sebagian usus yang terserang tumor. Pada kondisi tertentu, nodus limpa yang berada di sekitar saluran cerna juga ikut diangkat.

  • Kolostomi – Prosedur pembuatan lubang pada dinding perut sebagai saluran akhir usus sementara atau permanen.

  • Hemoroidektomi – Prosedur rawat jalan untuk menyembuhkan penyakit wasir atau prolaps rektum dengan sedikit risiko kambuh.

  • Bedah mikro endoskopi transanal – Prosedur pengangkatan tumor ganas dari dinding rektum menggunakan endoskop, yaitu tabung lentur yang dilengkapi dengan kamera dan lampu kecil.

  • Eksisi total mesorektum – Teknik bedah rektum untuk mengangkat tumor ganas, batasan jaringan sehat di sekitar tumor dan mesorektum. Prosedur ini wajib dilakukan apabila terdapat tanda atau ditemukan sel kanker yang menyebar ke area mesorektum.

  • Sphincterotomy – Prosedur yang dilaksanakan untuk menangani fisura ani yang tidak bisa sembuh dengan sendirinya atau dengan metode non-bedah lainnya.

  • Rectopexy – Prosedur bedah yang dapat mengatasi kondisi prolaps rektum dengan mengubah posisi dan melindungi struktur yang terinfeksi. Prosedur ini hanya dilakukan jika kondisi penyakit benar-benar parah dan tidak dapat ditangani atau disembuhkan dengan metode pengobatan lainnya.

Pasien yang telah selesai mengikuti prosedur bedah kolorektal perlu melakukan perawatan lanjutan, baik yang menjalani pembedahan konvensional maupun teknik baru seperti laparoskopi (lubang kunci).

Tujuan utama dari perawatan lanjutan adalah untuk mendeteksi kembalinya penyakit sejak dini, sehingga dapat segera mendapat perawatan yang tepat. Pasien harus selalu datang pada setiap sesi perawatan, walaupun ia tidak merasa atau mengalami gejala komplikasi.

Tujuan selanjutnya adalah untuk membantu pasien menangani dan beradaptasi dengan efek samping jangka panjang dari penyakit atau metode pengobatan, serta memantau efek yang timbul di masa mendatang.

Cara Kerja Perawatan Pasca Bedah Kolorektal

Perawatan lanjutan yang wajib untuk diikuti yaitu yang dijadwalkan pada lima tahun pertama setelah bedah kolorektal, karena dalam masa ini penyakit masih rentan untuk kambuh. Oleh karena itu, dokter akan bertemu dengan pasien setiap 3-4 bulan sekali, selama lima tahun pertama. Setelah itu, dokter akan menjadwalkan janji temu hanya satu kali dalam setahun.

Perawatan pasca bedah kolorektal berperan sangat penting bagi penyakit yang lebih berat (kanker) dibandingkan dengan gangguan kolorektal, seperti fisura ani atau [wasir] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/wasir). Kemungkinan sel kanker berkembang kembali dipicu oleh berbagai faktor. Perkembangan sel kanker ini memengaruhi frekuensi jadwal perawatan lanjutan untuk pasien.

Agar dokter memperoleh hasil pemeriksaan yang akurat, ia akan melakukan beberapa tes pada setiap sesi perawatan, yang meliputi:

  • Pemeriksaan fisik
  • Tes darah
  • Pemeriksaan antigen karsinoembrionik sebagai penanda tumor – Pemeriksaan ini dijadwalkan setiap tiga hingga enam bulan sekali selama lima tahun atau lebih
  • CT scan – Prosedur ini dilaksanakan setiap enam hingga dua belas bulan sekali jika pasien mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit yang kambuh. Pemindaian dilakukan pada area perut, dada, atau rektum. Memasuki tahun ke-empat atau lima, pemindaian juga dilakukan pada area panggul.
  • USG hati
  • Kolonoskopi – Prosedur ini biasanya dilaksanakan satu tahun pasca bedah kolorektal
  • Rekto-sigmoidoskopi – Prosedur yang dilaksanakan satu kali dalam enam bulan selama lima tahun, terutama jika pasien tidak mengikuti prosedur radioterapi


Semua pemeriksaan ini akan dijadwalkan di hari atau sesi perawatan yang berbeda, kecuali pemeriksaan fisik dan tes darah yang mempunyai jadwal rutin tersendiri.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perawatan Pasca Bedah Kolorektal

Janji temu perawatan pasca bedah kolorektal melibatkan berbagai macam pemeriksaan, beberapa di antaranya memiliki risiko tertentu, yaitu perforasi (munculnya lubang pada rektum dan dinding rektum) serta perdarahan pada rektum. Namun, kondisi seperti ini jarang terjadi dan dapat segera ditangani oleh dokter. Walaupun berisiko, pasien tetap dianjurkan untuk selalu mengikuti rangkaian perawatan pasca bedah, karena risiko kambuhnya penyakit dan akibatnya jauh lebih berbahaya daripada risiko akibat pemeriksaan tersebut. Selain itu, risiko dari prosedur bedah sendiri meliputi:

  • Nyeri
  • Infeksi
  • Perdarahan
  • Kehilangan banyak darah
  • Pembekuan darah


Kondisi ini seringkali terdeteksi dan ditangani dalam sesi perawatan pasca bedah awal. Dokter akan memberi resep obat pereda nyeri dan antibiotik pasca bedah yang sesuai untuk pasien. Efek samping obat-obatan ini akan selalu dipantau, sehingga penting bagi pasien untuk mengikuti perawatan yang telah dijadwalkan.
Rujukan:

  • Burt RW, Barthel JS, Dunn KB, et al. NCCN clinical practice guidelines in oncology. Colorectal cancer screening. J Natl Compr Canc Netw. 2010 Jan;8(1):8-61.

  • Engstrom PF, Arnoletti JP, Benson AB 3rd, et al. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: colon cancer. J Natl Compr Canc Netw. 2009 Sep;7(8):778-831.

Bagikan informasi ini: