Apa itu Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang Lanjutan?

Konsultasi lanjutan ini merupakan janji temu antara pasien dengan tim dokter, yang meliputi dokter spesialis kanker dan dokter spesialis darah, setelah pasien menjalani prosedur transplantasi sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang adalah prosedur penggantian jaringan putih berlemak pada tulang yang berfungsi sebagai pembentuk sel darah merah dan putih. Sel darah merah memiliki tugas untuk membawa oksigen ke berbagai bagian tubuh yang membutuhkan, sedangkan sel darah putih memiliki komponen penting yang membantu tubuh melawan serta memberikan kekebalan terhadap patogen dan infeksi. Banyak penyakit yang dapat menyebabkan jumlah sel darah dalam tubuh menjadi abnormal. Misalnya, penyakit darah seperti leukemia dan kelainan darah seperti anemia parah. Meskipun kondisi ini dapat ditangani dengan pemberian obat dan metode pengobatan lainnya seperti kemoterapi dan terapi radiasi, prosedur transplantasi lebih disarankan apabila pasien menderita kasus yang tergolong parah. Prosedur transplantasi sumsum tulang dibagi menjadi autologus dan alogenik. Autologus dilakukan dengan mencangkok sel induk sumsum tulang dari tubuh pasien sendiri. Sebaliknya, alogenik dilakukan dengan mencangkok sel induk dari pendonor lain. Calon donor yang terbaik umumnya berasal dari anggota keluarga terdekat pasien seperti orang tua dan saudara kandung. Namun, donor tidak dibatasi dari keluarga terdekat saja. Teman, keluarga jauh, dan bahkan orang lain pun dapat menjadi calon pendonor.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi transplantasi sumsum tulang lanjutan wajib diikuti oleh semua pasien yang telah menjalani prosedur ini karena prosedur tersebut memiliki kemungkinan komplikasi. Beberapa komplikasi yang paling umum terjadi adalah mual dan muntah, nyeri dada, demam tinggi, sakit kepala, menggigil, dan sesak napas. Selain komplikasi ringan, prosedur ini juga memiliki kemungkinan komplikasi serius yang dapat mengganggu kehidupan serta kegiatan pasien seperti makan dan menelan. Pada kasus lainnya, pasien mungkin mengalami alergi, yang dapat mengancam hidup pasien jika alergi menyebabkan syok anafilaksis. Dokter juga mewaspadai munculnya penyakit graft-versus-host (GVHD), yaitu suatu kondisi di mana jaringan donor menyerang jaringan dan organ tubuh pasien. Selain itu, transplantasi sumsum tulang tidak selalu menjamin kesembuhan total pasien. Prosedur ini mungkin hanya menyembuhkan sebagian penyakit pasien, atau penyakit pasien dapat kambuh kembali di kemudian hari bahkan setelah dokter memastikan pasien sembuh total. Konsultasi lanjutan bertujuan untuk memantau kekambuhan, mendeteksi, dan menyembuhkannya sebelum kondisi yang muncul semakin parah. Bagi pasien anak yang menjalani telah transplantasi sumsum tulang, konsultasi lanjutan ini tidak hanya bertujuan untuk memantau komplikasi dan kekambuhan penyakit, namun juga untuk mencatat pertumbuhan serta perkembangan anak.

Cara Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang Lanjutan

Sebagian besar pasien yang telah menjalani prosedur transplantasi sumsum tulang perlu menjalani konsultasi dan perawatan lanjutan jangka panjang. Terlebih lagi bagi pasien anak, yang tubuhnya masih tumbuh dan berkembang. Frekuensi konsultasi lanjutan ini tergantung pada banyak faktor termasuk komplikasi yang dialami setelah pasien menjalani prosedur, kesehatan pasien secara keseluruhan termasuk sistem kekebalan tubuhnya, usia, serta masalah fisik lainnya. Biasanya, pasien yang menjalani transplantasi autologus akan diberikan jadwal untuk melakukan konsultasi lanjutan sebulan setelah pasien diperbolehkan pulang. Sementara itu, pasien yang menjalani transplantasi alogenik akan diberikan jadwal untuk melakukan konsultasi lanjutan setelah 3 bulan. Setelah itu, konsultasi lanjutan ini dapat dijadwalkan setiap 6 bulan hinga 1 tahun sekali setidaknya selama 5 tahun.
Saat ini, telah banyak rumah sakit yang memiliki program transplantasi lengkap, yang juga termasuk konsultasi serta perawatan lanjutan jangka panjang. Pasien akan didampingi oleh perawat atau seorang koordinator yang akan mengingatkan dan memastikan pasien menghadiri seluruh konsultasi yang diperlukan. Berdasarkan perkembangan kondisinya, pasien dapat dibebaskan dari program ini dan dipantau oleh dokter yang memberikan rujukan. Konsultasi lanjutan ini sebaiknya dilakukan melalui pertemuan tatap muka. Namun, apabila tidak memungkinkan, seperti ketika pasien sedang berpergian, pindah ke daerah lain, atau sakit, konsultasi ini dapat dilakukan melalui telepon atau konferensi video serta e-mail.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Transplantasi Sumsum Tulang Lanjutan

Konsultasi lanjutan memerlukan komunikasi teratur dan komitmen yang kuat dari pasien. Namun, beberapa faktor dapat membuat pasien tidak hadir saat konsultasi. Faktor tersebut termasuk berkembangnya komplikasi, umur, dan kondisi kesehatan pasien. Beberapa pasien mungkin merasa dirinya sudah cukup sembuh sehingga pasien tidak melakukan konsultasi lanjutan dengan dokter. Pasien yang frustasi dengan kesehatannya juga memiliki kemungkinan untuk berhenti melakukan konsultasi. Selain itu, beberapa pasien juga mungkin mengalami masalah emosional seperti depresi serta merasa cemas, yang dapat menjadi semakin buruk atau muncul akibat konsultasi lanjutan.

Rujukan:

  • Bashir Q, Champlin R. Hematopoietic stem cell transplantation. In: Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, et al., eds. Abeloff's Clinical Oncology. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2013:chap 30.

  • Heslop HE. Overview of hematopoietic stem cell transplantation. In: Hoffman R, Benz EJ Jr, Silberstein LE, Heslop HE, Weitz JI, Anastasi JI, eds. Hematology: Basic Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 104.

Bagikan informasi ini: